Senin, 11 Agustus 2014

Saro Mandailing


Daftar Isi
=======================================================
Sepatah Kata Ketua Departemen Antropologi FISIP USU ...................... vii
Prolog Z. Pangaduan Lubias .................................................................... ix
Sekapur Sirih ......................................................................................... xix
Petunjuk Penggunaan ............................................................................... xxiii
Tanda dan Singkatan ................................................................................ xxiv
Kamus Bahasa Mandailing
A ............................................................................................................. 1
B ............................................................................................................. 66
C ............................................................................................................. 106
D ............................................................................................................. 116
E ............................................................................................................. 138
G ............................................................................................................. 143
H ............................................................................................................. 176
Biodata Penulis
========================================================



SEPATAH KATA 
KETUA DEPARTEMEN ANTROPOLOGI FISIP USU


Sebagai sebuah entitas etnik, Orang Mandailing cukup luas dikenal di tengah keragaman suku-bangsa yang ada di Nusantara, khususnya di wilayah Sumatera Utara sebagai tempat asal dan berkembangnya suku-bangsa ini. Di beberapa bagian Semenanjung Malaya juga dikenal orang Mandailing karena perantau Mandailing sudah banyak menetap di negeri itu sejak abad ke-19.  Namun pengenalan khalayak luas tentang Orang Mandailing biasanya hanya sebatas sebuah kelompok etnik, bahkan seringkali dikelirukan sebagai sub-etnik Batak. Silang pendapat mengenai soal apakah Mandailing itu Batak atau bukan memang hingga sekarang masih hangat di kalangan akademisi, penulis kebudayaan dan juga di tengah masyarakat, bahkan di kalangan generasi muda yang berdebat di dunia maya (internet). 

Satu alasan utama yang membuat Orang Mandailing nyaris selalu didefinisikan sebagai orang Batak adalah kenyataan bahwa publikasi tentang Orang Mandailing dan kebudayaan mereka sangat sedikit. Para penulis asing sejak zaman kolonial lebih banyak menyoroti kebudayaan Batak Toba, dan para penulis itu pada umumnya memiliki pre-asumsi dan gagasan yang telah terkonsepsikan sebelumnya (preconceived ideas) tentang pembagian suku Batak atas enam sub-suku, termasuk salah satunya Mandailing. Penulis-penulis berikutnya, baik asing maupun pribumi, cenderung mengamini penggolongan demikian tanpa secara kritis mengulas alasan atau argumentasi ilmiah mengenai kategorisasi tersebut. Tulisan-tulisan tentang Mandailing yang ditulis oleh Orang Mandailing di masa lampau pada umumnya berupa roman, novel atau cerita pendek dalam bahasa Mandailing. Mereka adalah generasi penulis yang sebagian merupakan murid langsung atau tidak langsung dari Willem Iskander, tokoh pembaharu pemikiran dan pendidikan asal Mandailing pada abad ke-19. Selain itu ada tulisan-tulisan tentang kisah asal-usul marga, cerita rakyat (turi-turian) dan uraian tentang adat-istiadat Mandailing, yang sebagian besar juga masih ditulis dalam bahasa Mandailing.

Penyusunan Kamus Bahasa Mandailing oleh budayawan Z. Pangaduan Lubis dan saudara Muhammad Bakhsan Parinduri ini, meskipun baru satu jilid, adalah sebuah langkah besar dari generasi muda Mandailing untuk mengenalkan identitas etnik dan kebudayaan Mandailing kepada khalayak luas. Penulisan sebuah kamus, sudah barang tentu, hanya mampu menggambarkan sebagian kecil saja dari luasnya khasanah kebudayaan Mandailing. Menurut hemat saya, nilai penting kamus ini tidak hanya terletak pada sumbangannya memperkenalkan bahasa Mandailing kepada pembaca, tetapi lebih dari itu, melalui kamus ini sebuah perjalanan panjang dan mengasyikkan tentang pengenalan sebuah kebudayaan dan peradaban sedang terbentang bagi siapapun yang berminat mendalaminya. Dari perspektif antropologi, bahasa adalah laksana gudang bagi sebuah kebudayaan. Lewat bahasa kita bisa mengenali struktur pemikiran dan pandangan hidup komunitas penuturnya. Bahasa Mandailing, ternyata, memiliki sebuah sistem dan struktur yang cukup kompleks, yang para ahli bahasa bisa lebih jauh mengeksplorasi dan menganalisisnya kelak. Kamus ini juga belum mampu merangkum semua kosa kata dari semua jenis ragam bahasa Mandailing, disebabkan oleh berbagai keterbatasan yang masih ada saat ini, sehingga masih sangat terbuka ruang dan waktu bagi siapapun yang berminat untuk membantu mendalaminya. 

Langkah monumental penulisan dan penerbitan perdana Kamus Bahasa Mandailing ini patut dihargai sebagai sebuah upaya kontributif khasanah kekayaan Mandailing untuk kemajuan peradaban bangsa. Menggali, menganalisis dan menuliskan segala hal yang masih tersisa dari khasanah kebudayaan Mandailing adalah sebuah kerja akademik yang mulia di tengah ancaman punahnya ratusan bahkan ribuan bahasa-bahasa suku yang pernah ada di dunia. Ketika sebuah bahasa punah, bersamanya akan hilang pula segala kandungan ilmu, kearifan, kekayaan dan keunikan sebuah kebudayaan dan peradaban. Aksara Surat Tulak-tulak adalah sebuah contoh dari ancaman nyata kepunahan salah satu kekayaan kebudayaan Mandailing.  

Semoga dengan terbitnya Kamus Bahasa Mandailing ini dapat menggugah kesadaran Orang Mandailing khususnya untuk mempelajari kebudayaan mereka, dari berbagai aspek dan bidang kehidupan yang masih terbentang luas dan terpendam sangat dalam untuk digali, dipelajari, dituliskan, dipublikasikan, dan disumbangkan kepada dunia. Sebagai seorang antropolog dan atas nama Departemen Antropologi FISIP USU yang telah ikut membantu dalam proses administratif penyusunan kamus ini, saya berharap, kiranya kehadiran Kamus Bahasa Mandailing ini dapat memacu penerbitan-penerbitan serupa dari berbagai kelompok etnik lain, khususnya di Sumatera Utara. Prinsip multikulturalisme patut kita gelorakan, bahwa penggalian dan publikasi kebudayaan suatu kelompok etnik bukanlah dalam kerangka etnosentrisme, melainkan dalam rangka penghargaan dan penghormatan atas kesetaraan setiap entitas etnik dan kebudayaan untuk memberikan sumbangan bagi mozaik indah kemajemukan di negeri ini.

                 Medan,   Maret 2009
         Drs. Zulkifli B. Lubis, MA


~o0o~


PROLOG
Z. PANGADUAN LUBIS


Eksistensi masyarakat Mandailing sebagai suku-bangsa atau kelompok etnis ditandai dan dikukuhkan oleh kenyataan bahwa masyarakat Mandailing memiliki kebudayaannya sendiri, yang di dalamnya termasuk bahasa, sehingga mereka dapat dibedakan dari suku-bangsa lain di Indonesia. Di samping itu warga masyarakat Mandailing juga menyadari adanya identitas dan kesatuan kebudayaan mereka sendiri yang membuat mereka (merasa) berbeda dari warga masyarakat yang lain. 

Secara historis, eksistensi suku-bangsa Mandailing didukung oleh kenyataan dengan disebutnya nama Mandailing dalam Kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada abad ke-14 (1365). Kitab tersebut berisi keterangan mengenai sejarah Kerajaan Majapahit. Menurut Prof. Slamet Mulyana (1979:9), Kitab Negarakertagama adalah sebuah karya paduan sejarah dan sastra yang bermutu tinggi dari zaman Majapahit. Dalam Pupuh XIII, nama Mandailing bersama nama banyak negeri di Sumatera dituliskan oleh Mpu Prapanca sebagai “negara bawahan” Kerajaan Majapahit sebagai berikut: ”Lwir ning nuasa pranusa pramuka sakahawat kaoni ri Malayu/ning Jambi mwang Palembang i Teba len Darmmacraya tumut/Kandis, Kahwas Manangkabwa ri Siyak i Rekan Kampar mwang Pane/Kampe Haru athawa Mandahiling i Tumihang Perlak  mwang i Barat”.

Memang, tidak ada keterangan lain mengenai Mandailing kecuali sebagai salah satu “negara bawahan” Kerajaan Majapahit. Namun demikian, dengan dituliskannya nama Mandailing terdapatlah bukti sejarah yang otentik bahwa pada abad ke-14 telah diakui keberadaannya sebagai salah satu “negara bawahan” Kerajaan Majapahit. Pengertian ”negara bawahan” dalam hal ini tidak jelas artinya karena tidak ada keterangan berikutnya.  

Dengan demikian boleh dikatakan bahwa ”Negeri Mandailing” sudah ada sebelum abad ke-14. Karena sebelum keberadaannya dicatat tentunya Mandailing sudah terlebih dahulu ada. Kapan Negeri Mandailing mulai berdiri tidak diketahui secara persis. Tetapi karena nama Mandailing dalam kitab ini disebut-sebut bersama nama banyak negeri di Sumatera termasuk Pane dan Padang Lawas, kemungkinan sekali negeri Mandailing sudah mulai ada pada abad ke-5 atau sebelumya. Karena Kerajaan Pane sudah disebut-sebut dalam catatan Cina pada abad ke-6. Dugaan yang demikian ini dapat dihubungkan dengan bukti sejarah berupa reruntuhan candi yang terdapat di Simangambat dekat  Siabu. Candi tersebut adalah Candi Siwa yang dibangun sekitar abad ke-8.

Orang Mandailing adalah salah satu dari sekian ratus suku-bangsa penduduk asli Indonesia. Dari zaman dahulu sampai sekarang orang Mandailing secara turun-temurun mendiami wilayah etnisnya sendiri yang terletak di Kabupaten Mandailing-Natal (Madina), Provinsi Sumatra Utara. Menurut tradisi orang Mandailing menamakan wilayah etnisnya sebagai Tano Rura Mandailing yang artinya “tanah lembah Mandailing”. Namun namanya yang populer sekarang ialah Mandailing, sama dengan nama suku-bangsa yang mendiaminya. Secara tradisional wilayah etnis Mandailing terdiri dari dua bagian, yaitu Mandailiang Godang (”Mandailing Besar”) berada di bagian utara, dan Mandailing Julu (”Mandailing Hulu”) berada di bagian selatan yang berbatasan dengan daerah Provinsi Sumatra Barat. 

Suku-bangsa Mandailing merupakan masyarakat agraris yang patrilineal. Sebagian besar warganya bertempat tinggal di daerah pendesaan dan hidup sebagai petani dengan mengolah sawah dan mengerjakan kebun karet, kopi, kulit manis, dan sebagainya. Sampai pada masa pemerintahan kolonial Belanda, penduduk di kawasan Mandailing Godang dipimpin oleh raja-raja dari marga (clan) Nasution, sedangkan penduduk di kawasan Mandailing Julu dipimpin oleh raja-raja dari marga Lubis. Pada masa itu, di kedua kawasan tersebut terdapat banyak kerajaan tradisional yang kecil-kecil berupa komunitas yang dinamakan Huta atau Banua, yang masing-masing mempunyai kesatuan teritorial dan pemerintahan otonom. 

Meskipun sudah banyak terjadi perubahan, tetapi sampai saat ini, dalam struktur masyarakat Mandailing yang patrilineal tersebut terdapat kelompok-kelompok kekerabatan yang dibentuk berdasarkan hubungan darah (blood ties) dan hubungan perkawinan (affinial ties). Kelompok kekerabatan yang dibentuk berdasarkan hubungan darah, oleh orang Mandailing dinamakan marga (clan). Hubungan kekerabatan (kinship) antara orang-orang Mandailing dalam ”satu marga” disebut kahanggi (abang-adik). Adapun nama marga di Mandailing antara lain Nasution, Lubis, Pulungan, Rangkuti, Parinduri, Daulae, Mardia, Batubara, dan Tanjung. Sedangkan kelompok kekerabatan yang dibentuk berdasarkan hubungan perkawinan (affinal ties) terdiri dari dua bagian, yaitu kelompok kerabat pemberi anak gadis dalam perkawinan (bride giver) yang dinamakan mora, dan kelompok kerabat penerima anak gadis (bride receiver) yang dinamakan anak boru. Dengan demikian dalam masyarakat Mandailing terdapat tiga kelompok kekerabatan (kingrous), yaitu mora, kahanggi dan anak boru. 

Ketiga kelompok kekerabatan tersebut digunakan oleh masyarakat Mandailing sebagai komponen tumpuan untuk sistem sosialnya yang dinamakan Dalian Natolu (”tumpuan yang tiga”). Sistem sosial yang dinamakan Dalian Natolu berfungsi sebagai mekanisme untuk melaksanakan adat dalam kehidupan masyarakat Mandailing. Perwujudan pelaksanaan adat yang menggunakan sistem sosial Dalian Natolu sebagai mekanismenya dapat dilihat pada waktu penyelenggaraan upacara adat. Dalam masyarakat Mandailing suatu upacara adat hanya dapat diselengarakan jika didukung bersama oleh mora, kahanggi dan anak boru yang berfungsi sebagai tumpuan atau komponen sistem sosial Dalian Natolu. Kalau salah satu di antaranya tidak ikut mendukung, maka dengan sendirinya upacara adat tidak boleh atau tidak dapat diselenggarakan. 

Dasar dari adat Dalian Natolu sebagai pranata hidup masyarakat Mandailing ialah olong (cinta dan kasih sayang) dan domu (keakraban). Adanya olong antara sesama manusia kemudian melahirkan domu antara satu sama lain. Terwujudnya domu antara sesama manusia Mandailing membuktikan bahwa mereka hidup dengan olong. Untuk membuat olong dan domu menjelma atau terwujud dalam kehidupan masyarakat Mandailing, maka diciptakan adat yang dilandasi oleh patik (ketentuan-ketentuan dasar atau komandemen). Adat diisi dengan uhum (kaidah-kaidah dan hukum). Dalam kehidupan masyarakat Mandailing, adat harus dijalankan menurut ugari (tata cara pelaksanaan adat) dengan menggunakan sistem sosial Dalian Natolu sebagai mekanismenya. 

Untuk membuat aktivitas kehidupan masyarakat berjalan teratur seperti yang dikehendaki oleh adat sebagai penjelmaan olong, maka pada masa lalu di setiap komunitas huta terdapat satu lembaga yang menjalankan pemerintahan. Dalam lembaga pemerintahan tersebut duduk tokoh-tokoh pemimpin tradisional yang dinamakan Namora Natoras dengan dikepalai oleh seorang yang berstatus Raja Panusunan Bulung atau Raja Pamasuk. Raja Panusunan Bulung merupakan kepala pemerintahan di Huta induk (mother village), sedangkan Raja Pamusuk merupakan kepala pemerintahan di Huta yang merupakan pengembangan dari suatu Huta induk. Satu Huta induk dengan sejumlah Huta yang merupakan "anak" atau pengembangannya berada dalam satu ”ikatan adat” yang dinamakan Janjian. Begitupun masing-masing huta menjalankan pemerintahan secara otonom, dan pemerintahan dijalankan secara demokratis dalam arti segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan pemerintahan dalam suatu huta hanya dapat dilaksanakan setelah disetujui berdasarkan mufakat oleh Namora Natoras yang duduk dalam lembaga pemerintahan secara representatif dari penduduk huta. Dan raja sebagai kepala pemerintahan tidak memiliki wewenang atau otoritas untuk berbuat sesuka hati dalam hal pemerintahan tanpa persetujuan Namora Natoras. 

Sidang-sidang untuk urusan pemerintahan, urusan sosial dan pengadilan di satu huta diselenggarakan di Balai Adat yang dinamakan Sopo Sio Rancang Magodang atau Sopo Godang yang bangunannya terletak berdekatan dengan istana raja yang dinamakan Sopo Sio Dalom Magodang atau Bagas Godang. Adanya Bagas Godang dan Sopo Godang di satu tempat pemukiman masyarakat Mandailing, menandakan bahwa tempat pemukiman itu merupakan satu huta atau banua yang berstatus sebagai kerajaan dengan pemerintahan yang otonom. 

Pada masa pemeritahan kolonial Belanda, pemerintahan tradisional Mandailing yang semula dijalankan secara demokratis, sedikit demi sedikit mulai kehilangan sifatnya yang demokratis, karena dengan kekuasaannya yang kolonialistis para penguasa Belanda menjadikan Raja Panusunan Bulang dan Raja Pamusuk sebagai alat pemerintah kolonial untuk menindas penduduk dengan pengutipan belasting (pajak) dan pelaksanaan rodi (kerja paksa). Untuk itu penguasa kolonial memberi mereka "gaji" dan memperbesarkan kekuasaan dan hak-hak mereka, serta mengangkat Raja Panusunan Bulung menjadi Kepala Kuria dan Raja Pamusuk menjadi Kepala Kampung. Pada akhirnya raja-raja yang semula tunduk kepada kedaulatan rakyat yang diwakili oleh Namora Natoras yang duduk dalam lembaga pemerintahan, berubah menjadi raja-raja feodalistis yang memaksakan kehendaknya kepada rakyat dengan menggunakan dukungan pemerintah kolonial Belanda. 

Masuknya penjajahan atau pemeritahan kolonial Belanda ke Mandailing terjadi pada waktu Belanda sedang berperang dengan Kaum Paderi di Minangkabau pada tahun 1830-an. Sebelum Belanda masuk ke Mandailing, beberapa tahun lamanya Kaum Paderi sudah lebih dahulu menguasai Mandailing. Salah satu tujuan penting dari Kaum Paderi menguasai Mandailing ialah untuk memperluaskan pengembangan agama Islam. Karena sebelum Kaum Paderi memasuki dan akhirnya menguasai Mandailing, penduduknya menganut animisme yang dinamakan pelebegu (memuja roh nenek moyang). Tapi setelah Kaum Paderi menguasai seluruh Mandailing, dengan cepat sekali hampir semua penduduknya menganut agama Islam yang dikembangkan oleh Kaum Paderi. Sejalan dengan itu, segala sesuatu yang berbau anismisme dengan cepat pula hilang atau dilenyapkan dari kehidupan masyarakat Mandailing dan berganti dengan yang Islami. Hingga sampai saat ini, orang-orang Mandailing terkenal sebagai pemeluk agama Islam yang cukup taat.

Pada waktu Belanda sudah berhasil mengalahkan Kaum Paderi dan mulai menduduki Mandailing, missionaris mulai mencoba menggembangkan agama Nasrani di kalangan penduduk. Tapi sama sekali tidak berhasil karena penduduk di Mandailing sudah lebih dahulu menganut agama Islam. Oleh karena itu dari dahulu sampai sekarang agama Nasrani tidak berkembang di Mandailing. Ketika Belanda mulai memperkuat kedudukannya di Mandailing sejak pertengahan tahun 1830-an, peperangan antara Kaum Paderi dan Belanda masih terus berlangsung, termasuk di Mandailing. Karena kekuatan Belanda lebih unggul, maka banyak di antara orang-orang Mandailing pengikut Paderi yang meninggalkan kampung halaman mereka untuk menghindari penjajahan Belanda. Di antara mereka banyak yang pindah ke Malaya (Malaysia sekarang) dan menetap turun-temurun di negeri itu sampai sekarang. 

Berkenaan dengan saro (bahasa) Mandailing, akhir-akhir ini mulai dikembangkan oleh orang-orang tertentu suatu konsep yang salah mengenai bahasa yang digunakan oleh masyarakat Mandailing. Mereka menyebut bahasa yang digunakan oleh masyarakat Mandailing sebagai bahasa ”Angkola Mandailing”. Secara kultural sebenarnya tidak ada bahasa ”Angkola Mandailing”. Karena kalau kita tanyakan kepada orang Mandailing bahasa apa yang dipakainya, sudah pasti orang yang bersangkutan akan menjawab bahwa bahasa yang dipakainya ialah bahasa Mandailing. Dia tidak akan mengatakan bahasa Angkola Mandailing. Dan kalau kita tanyakan kepada orang Angkola, bahasa apa yang dipakainya, sudah tentu ia akan menjawab bahasa Angkola. Keadaan yang demikian itu membuktikan bahwa tidak ada bahasa Angkola Mandailing.

Kenyataan memang menunjukkan bahwa orang Mandailing dan orang Angkola menggunakan satu bahasa yang sama. Tapi orang Angkola mengakui bahwa bahasa yang dipakainya atau bahasa ibunya ialah bahasa Angkola dan orang Mandailing mengakui bahwa bahasa ibunya ialah bahasa Mandailing. Dalam hal ini, kita dapat menggunakan pendapat pakar bahasa H.N. Van Der Tuuk untuk menjelaskan persoalannya. Van Der Tuuk pernah melakukan penelitian mengenai bahasa Mandailing dan beberapa bahasa etnis lainnya yang terdapat di Sumatera Utara. Dari hasil penelitiannya mengenai bahasa Mandailing, Van Der Tuuk mengemukakan (1971: XLVII), "Dengan mengacu ke pantai barat Sumatera, dengan aman dapat dikatakan bahwa bahasa Mandailing meluas dari Ophir atau pegunungan Pasaman di sebelah selatan sampai ke perbatasan bagian utara dari Sipirok dan Batang Toru. Bahasa Mandailing terbagi menjadi bahasa Mandailing utara (juga disebut bahasa Angkola) dan bahasa Mandailing selatan. Belum mungkin untuk merumuskan batas-batas yang pasti di antara keduanya".

Keterangan atau pendapat Van Der Tuuk tersebut menunjukkan dengan jelas sekali bahwa bahasa orang Mandailing dan bahasa orang Angkola ialah bahasa Mandailing. Tetapi bahasa Mandailing yang digunakan oleh orang Angkola disebut juga bahasa Angkola. Dengan demikian jelas pulalah bahwa sebenarnya tidak ada bahasa Angkola Mandailing seperti yang belakangan ini mulai disebut-sebut oleh orang-orang tertentu. Perbuatan yang demikian itu benar-benar merupakan suatu kekeliruan (untuk tidak menyebut manipulasi) yang seharusnya tidak dilakukan oleh sarjana bahasa, yang seharusnya mengetahui tentang prinsip dan sikap emik dan etik dalam mengemukakan pendapat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan, termasuk mengenai bahasa sebagai salah satu unsur kebudayaan yang sangat penting.

Bahasa Mandailing (khususnya yang digunakan oleh kelompok etnis atau masyarakat Mandailing pada masa yang lalu) atau yang disebut oleh Van Der Tuuk sebagai bahasa Mandailing, terdiri dari lima ragam. Masing-masing dinamakan oleh orang Mandailing sebagai: (1) Hata Somal, ialah ragam bahasa Mandailing yang dipergunakan oleh orang-orang Mandailing dalam percakapan sehari-hari sampai pada saat ini; (2) Hata Andung, ialah semacam ragam bahasa sastra, yang pada masa dahulu khusus digunakan oleh orang-orang Mandailing pada waktu meratapi jenasah dalam upacara kematian. Juga digunakan oleh gadis ketika ia meratap di hadapan orang tuanya pada saat akan berangkat meninggalkan mereka untuk selanjutnya dibawa ke rumah keluarga calon suaminya; (3) Hata Teas Dohot Jampolak, ialah ragam bahasa caci-maki yang khusus digunakan ketika terjadi hal-hal yang tidak baik (pertengkaran atau perkelahian); (4) Hata Sibaso, ialah ragam bahasa yang khusus digunakan oleh tokoh Sibaso (medium perantara alam nyata dan alam gaib) ketika berada dalam keadaan kesurupan dan juga digunakan oleh Datu (penyembuh tradisional) pada waktu melakukan pengobatan; dan (5) Hata Parkapur, ialah ragam bahasa sirkumlokusi yang khusus digunakan ketika orang berada di tengah hutan. Pada masa yang lalu digunakan oleh orang-orang Mandailing pencari kapur barus ketika berada dalam hutan. Itulah sebabnya maka ragam bahasa tersebut dinamakan hata parkapur.

Di samping kelima macam ragam bahasa yang telah dikemukakan di atas, pada masa lalu masyarakat Mandailing juga memiliki satu ragam bahasa yang lain yang dinamakan hata bulung-bulung (artinya bahasa daun-daunan). Ch. A. van Ophuysen menamakannya bladerentaal. Berbeda dari bahasa yang biasa, yang digunakan sebagai kata-kata dalam hata bulung-bulung ialah daun tumbuh-tumbuhan yang dalam bahasa Mandailing disebut bulung-bulung. Daun-daunan yang digunakan ialah daun-daunan yang namanya punya persamaan bunyi dengan kata-kata yang terdapat dalam bahasa Mandailing. Misalnya ialah daun tumbuh-tumbuhan yang bernama sitarak digunakan untuk menyampaikan kata marsarak (berpisah); daun tumbuh-tumbuhan yang bernama pau (pakis) digunakan untuk menyampaikan kata diau (pada saya); daun tumbuh-tumbuhan yang bernama sitanggis (setanggi) digunakan untuk menyampaikan perkataan tangis (menangis); daun tumbuh-tumbuhan yang bernama podom-podom digunakan untuk menyampaikan perkataan modom (tidur); daun tumbuh-tumbuhan yang bernama hadungdung digunakan untuk menyampaikan perkatan dung (setelah); dan daun tumbuh-tumbuhan yang bernama sitata digunakan untuk menyampaikan perkataan hita (kita). Kalau misalnya daun hadungdung bersama-sama dengan daun sitata, daun sitarak, daun sitanggis dan daun podom-podom dikirimkan oleh seorang pemuda kepada kekasihnya, maka sang kekasih akan mengerti bahwa sang pemuda mengatakan kepadanya: "dung hita marsarak jolo tangis au anso modon". Artinya "setelah kita berpisah, menangis saya dahulu baru bisa tertidur".

Pada masa yang lalu, bahasa daun-daun biasanya digunakan oleh muda-mudi (naposo nauli bulung) dalam masyarakat Mandailing, terutama pada waktu mereka berpacaran. Dalam hal ini, dapat dikemukakan bahwa pada masa yang lalu kegiatan berpacaran (asmara) antara pemuda dan pemudi dalam masyarakat Mandailing sama sekali tidak boleh dilakukan secara terbuka. Hubungan dan kegiatan berpacaran harus dirahasiakan atau dilakukan secara rahsia. Oleh karena itu, jika dua orang muda yang berpacaran hendak menyampaikan sesuatu di antara mereka, maka mereka menggunakan bahasa daun-daunan. Dan jika seorang kekasih hendak menyampaikan daun-daunan sebagai "surat cinta" kepada pacarnya, dia harus melakukannya secara rahasia. Misalnya dengan meletakkan daun-daunan tersebut di satu tempat tertentu yang sudah mereka sepakati dan tidak diketahui orang lain. Secara sembunyi-sembunyi mereka yang berpacaran itu akan mengunjungi tempat rahasia tersebut secara bergiliran, untuk melihat apakah di tempat itu terdapat “surat cinta” yang terdiri dari daun-daunan.

Kalau dua orang yang sedang berpacaran hendak berdialog secara langsung, mereka akan melakukannya dengan cara yang disebut markusip (berbisik). Kegiatan markusip dilakukan pada waktu tengah malam agar tidak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini, pemuda dengan cara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah tempat kekasihnya tidur. Kemudian dengan menggunakan sandi atau kode sang pemuda akan membangunkan kekasihnya dari balik dinding rumah tersebut. Untuk membangunkan sang kekasih, biasanya pemuda menjentik-jentik dinding rumah dengan jari tangannya secara perlahan-lahan. Dalam hal ini, biasanya sang kekasih memang sudah menunggu kedatangan kekasihnya untuk markusip pada waktu-waktu tertentu di tengah malam. Oleh karena itu sang pemuda cukup menjentik dinding rumah beberapa kali untuk memberitahukan bahwa dia sudah datang dan berada di balik dinding. Kadang-kadang untuk memberitahu kehadirannya di balik dinding sang pemuda membunyikan alat musik genggong (jaw's harp). Bila sang gadis sudah mengetahui kehadiran kekasihnya di balik dinding, maka mulailah mereka berdialog secara berbisik-bisik. Dialog antara dua orang yang markusip biasanya dihiasi dengan pantun-pantun percintaan yang romantis. Dan tidak jarang pula dihiasi dengan musik yang dimainkan dengan alat tiup yang terbuat dari ruas bambu (buluh) yang relatif sangat kecil, sehingga suaranya sangat halus. Alat musik yang khusus digunakan pada waktu markusip itu dinamakan tulila.

Pada masa sekarang, bahasa daun-daunan (hata bulung-bulung), dan penggunaannya sudah hilang dari tradisi budaya Mandailing. Demikian pulanya dengan ragam-ragam bahasa yang tersebut di atas. Yang masih terus digunakan oleh warga masyarakat Mandailing di negeri mereka ialah hata somal (ragam bahasa sehari-hari). Sedangkan ragam bahasa yang lainnya, boleh dikatakan sudah hampir punah sama sekali. Karena selama ini warga masyarakat Mandailing tidak berusaha untuk melestarikannya. Kepunahan ragam-ragam bahasa Mandailing yang sangat kaya itu sangat merugikan kelompok etnis Mandailing, bahkan merugikan bangsa Indonesia. Karena ragam bahasa tersebut merupakan kekayaan budaya etnis, yang kalau sudah punah hampir mustahil untuk menghidupkannya kembali.

Disamping memiliki bahasa sendiri yaitu saro (bahasa) Mandailing, orang Mandailing juga memiliki aksara etnisnya sendiri yang dinamakan surat tulakt-tulak (bukan aksara Batak). Meskipun masyarakat Mandailing memiliki aksara tetapi boleh dikatakan aksara tersebut pada masa lalu tidak dipergunakan untuk mencatat atau menulis sejarah. Kalaupun aksara etnis tersebut dipergunakan buat menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, ia hanya dipergunakan buat menuliskan tarombo (silsilah keluarga). Selain itu lebih banyak dipergunakan buat mencatat ilmu pengobatan tradisional dan ilmu peramalan dalam kitab tradisional yang disebut pustaha. Oleh karena itu hingga sekarang tidak ditemukan catatan sejarah Mandailing yang dituliskan dengan surat tulak-tulak. Hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu Mandailing boleh dikatakan hanya terekam sebagai "Sejarah Lisan" berupa kisah-kisah Mandailing pada masa lalu yang kadang-kadang dituturkan oleh orang-orang yang masih mengingatnya dan sama sekali tidak dituliskan meskipun masyarakat Mandailing mempunyai aksara etnisnya sendiri.

Di Mandailing surat tulak-tulak dipergunakan untuk menulis pustaha. Ada pustaha yang terbuat dari kulit kayu atau lak-lak yang dilipat-lipat, dan ada juga yang terbuat dari satu ruas atau beberapa ruas bambu. Pustaha yang terbuat dari kulit kayu yang dilipat-lipat biasanya berisi mantra-mantra dan cara-cara penyembuhan tradisional. Selain itu ada juga yang berisi ilmu perbintangan (semacam ilmu astrologi), ilmu meramal, dan ilmu-ilmu gaib. Sedangkan pustaha yang terbuat dari bambu satu ruas atau lebih, biasanya berisi tarombo atau silsilah keluarga.

Menurut Harry Parkin, dalam bukunya yang berjudul Batak Fruit of Hindu Thought (1978:102), bahwa tanggal yang tercatat sebagai tanggal pertama kali pustaha didapat seorang kolektor merupakan satu-satunya bukti mengenai usia pustaha. Pada 18 Mei 1746, Alexander Hall menyerahkan satu pustaha kepada British Museum. Itulah pustaha tertua yang pernah dikenal. Dalam buku yang sama Harry Parkin juga menjelaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam menulis pustaha dinamakan hata ni poda (ragam bahasa nasehat). Hal ini berarti semua pustaha (yang dimiliki berbagai kelompok etnis di Sumatera Utara, seperti Mandailing, Angkola, Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak) menggunakan gaya bahasa yang serupa. 

Gaya bahasa tersebut, menurut Voarhoeve, adalah satu ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing). Pustaha dari daerah lain, seperti Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak, tidak ditulis dengan bahasa yang murni kelompok-kelompok etnis tersebut, tetapi ditulis dengan ragam hata poda yang dicampur dengan bahasa etnis yang bersangkutan.

Fakta yang demikian ini mendukung kesimpulan yang diperoleh sebagai hasil perbandingan tulisan-tulisan dari berbagai idiom bahwa bahasa yang dipergunakan untuk menulis pustaha mendapatkan aksaranya dari Selatan (Mandailing). Ragam bahasa poda terkait dengan ilmu-ilmu gaib para datu ini menghadirkan berbagai problema linguistik. Masing-masing datu mempunyai jargon atau sistem singkatan bahasanya sendiri. Masing-masing ilmu gaib mempunyai terminologinya sendiri yang tidak digunakan dalam bahasa sehari-hari, sehingga tidak dipahami secara umum. Biasanya hanya datu yang bertanggungjawab atas penulisan pustaha, dan yang dapat memberikan suatu penjelasan yang penuh dan jelas tentang isi pustaha.

Suatu perbandingan mengenai aksara yang punya persamaan yang digunakan untuk menulis pustaha, bersama dengan fakta bahwa bahasa poda merupakan ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing) memberikan petunjuk satu pola perkembangan dari Selatan ke arah Utara. Isi pustaha menunjukkan rasa tertarik yang jelas terhadap konsep megicoriligious (konsep sihir-religius).

Harry Parkin (1978:101) menambahkan, bahwa "aksara tersebut masuk ke daerah Toba dari Mandailing. Dari Toba jalan yang dilaluinya bercabang dua mengelilingi danau, satu cabang bergerak memasuki Simalungun, dan cabang yang satu lagi memasuki Dairi, dan dari sana masuk pula ke Karo. Hal ini terjadi secara bertahap dan alamiah...".  Sedangkan sarjana Barat lain yaitu Uli Kozok dalam bukunya Warisan Leluhur, Sastra dan Aksara Batak (1999:61-79) juga menggambarkan persebaran surat tulak-tulak dari Mandailing ke Utara (sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah peta).

Kalau penggunaan aksara surat tulak-tulak dipakai sebagai pertanda jaman sejarah di Mandailing, kita juga belum tahu sama sekali kapan waktunya warga Mandailing menggunakan aksara entis tersebut. Itu berarti bahwa kita tidak tahu kapan mulai warga Mandailing mengawali jaman sejarahnya. 

Barangkali tidak salah kalau sejarah Mandailing kita bicarakan dengan mengawalinya dengan jaman Hindu di Indonesia atau jaman Hindu di Mandailing. Karena kita tahu bangsa Hindu yang datang ke Indonesia termasuk Mandailing mempunyai aksara. Dalam hubungan ini ada beberapa pendapat (teori) yang mengatakan bahwa aksara-aksara etnis yang terdapat di Nusantara ini termasuk surat tulak-tulak berasal dari aksara Hindu yang disebut aksara Pallawa, Dewa Nagari dan Kala Nagari.

Kalau pendapat ini kita terima maka dapatlah kita katakan bahwa jaman sejarah di Mandailing mulai dari awal abad Masehi. Karena pada masa itulah  orang Hindu dari India mulai masuk ke Mandailing antara abad pertama dan abad kelima Masehi. Sebab pada abad ke 2 Masehi orang Hindu dari India mulai sibuk mencari emas karena pasokan emas ke India pada waktu itu mulai terhenti akibat terjadinya kerusuhan besar di Asia Tengah akibat terjadinya penyerbuan  bangsa Tar Tar dan bangsa Hun serta bangsa Mongol.

Kita tahu bahwa bangsa Hindu menyebut pulau Sumatera: Swarna Dwipa (Pulau Emas) yang menjadi tujuan orang Hindu dari India pada waktu mereka berusaha mencari emas. Di pulau Sumatera wilayah Mandailing (yang pada masa dahulu termasuk di dalamnya kawasan Pasaman) kaya dengan emas. Dari zaman dahulu sampai sekarang, Mandailing dinamakan Tano Rura Mandailing,  Tano Omas Sigumorsing yang berarti Tanah Emas.***

~o0o~

SEKAPUR SIRIH
MHD. BAKHSAN PARINDURI


Penyusunan kamus ini sudah lama direncanakan. Namun, karena berbagai bengkalai dan keterbatasan, barulah pada tahun 2009 ini terwujud, itu pun masih Jilid Pertama, yaitu huruf a s.d. h dan tampilannya pun masih bersahaja. Sedangkan Jilid Kedua (huruf i s.d. o) dan Jilid Ketiga (huruf p s.d. y) masih dalam proses pengerjaan.

Pada penyusunan kamus ini, penulis mencoba menguraikan kekhasan bahasa Mandailing, baik dari segi bentuk, proses pembentukan kata, makna kata maupun berdasarkan ragam pemakaiannya.  Dalam hal ini, penulis sering membuat suatu pengertian kata dengan uraian yang relatif cukup panjang karena tidak menemukan padanan kata yang sesuai dalam bahasa Indonesia.

Dari segi fonologis, bahasa Mandailing adalah bahasa yang bersistem silabis. Dituliskan dalam aksara surat tulak-tulak (aksara Mandailing) yang terdiri atas 24 fonem: a, ha, na, ma, nga, la, pa, ga, ja, ba, ta, ra, sa ,da, ka, ca, nya, wa, i, ya, u, e, o. Fonem-fenem tersebut dilambangkan dengan  21 (dua puluh satu) induk ni surat dan 5 (lima) anak ni  surat.

Fonem k velar dan glotal di akhir kata dilambangkan dengan satu tanda, meskipun pada hakikatnya berbeda, seperti contoh berikut:
tetek = tetes                     sosak = cepat, buru-buru
tetek = buang air besar     sosak = sesak
golak   = gelak         etek   = bibi
golak        = ejek                 etek   = alat musik pukul dari bambu

Bunyi vokal sangat produktif dan variatif digunakan, misalnya:
sarsar taktak saksak dosar sa
sirsir         tiktik         siksik dosir         si            
sursur tuktuk suksuk dosur su
serser tektek seksek doser se
sorsor toktok soksok dosor so

Bahkan terdapat kata yang terdiri atas gugus vokal seperti, , aua, uai ee, aa. Untuk jelasnya lihat kalimat uai iaua ia au i (wah akan diapakannyalah aku itu) yang terdiri atas dua belas gugus vokal yang belum pernah penulis temukan dalam bahasa lain. Sebaliknya satu vokal juga dapat berfungsi sebagai satu morfem seperti,  a pada kata bilangan, adua (keduanya);  i dapat bermakna ”itu” (misalnya kata ima, bermakna ”itulah”) dan awalan ”di” (misalnya kata isadu, bermakna ”disana”), e bermakna ”hai”, u bermakna ”ku”, dan o yang bermakna ”ya” atau ”kau”.
Dalam bahasa Mandailing intonasi sangat memengaruhi arti. Pada kata dasar bagas misalnya, tekanan tempo sangat berperan menentukan arti. Kata ba'gas berarti rumah, sedangkan bag'as berarti dalam. Contoh lain misalnya kata parmangan. Dengan pengucapan yang berbeda dapat bermakna: (1) suka makan; (2) uang yang digunakan untuk membeli makanan; dan (3) cara makan. Begitu juga dengan bentuk-bentuk lain seperti da'bu berarti jatuhkan, dan dabu' berarti dalam keadaan terjatuh.

Akar kata, meskipun tidak pernah secara tuntas dikaji oleh ahli bahasa, penulis yakin bahwa dalam bahasa Mandailing, akar kata sangat berperan dalam pembentukan kata dasar. Untuk jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut: (1) antuk, batuk, kurtuk, lantuk, maturutuk,potuk, retuk, sotuk, tuktuk, utuk; (2) apit, ubit, lompit, sipit, pitpit, jungkit,dalkit, gigit, ancit, singit, rongit,angit,arit, sirit, gorit, ririt; (3) andarohot, dapot,dohot, lolot, morot, korot, sorot,porot,, potpot, lampot, sangkot, sungkot, singkot, sohot ,ngot, tungkot, ingot, sirohot, salohot, moncot, to'pot, topo't. Dari ketiga contoh di atas masing-masing kelompok memiliki relevansi makna. Untuk contoh nomor satu memiliki hubungan dengan bunyi, pada contoh kedua maknanya berhubungan dengan sesuatu yang minim, kecil, dan hampir, sedangkan contoh ketiga memiliki hubungan makna dengan tempat, proses menuju atau meninggalkan tempat.  

Selanjutnya, pemakaian imbuhan sangat produktif. Disamping jumlah imbuhan banyak, fungsi dan nosi yang muncul lebih variatif. Satu kata dasar dapat diimbuhi oleh lebih dari dua puluh imbuhan. Awalan ma + dabu dapat menjadi: (1) mada'bu (terjatuh); (2) ma'dabu (sudah/dalam keadaan terjatuh; dan (3) mandabu (menjatuhkan). Alomorf atau variasi morfem tidak hanya terjadi pada awalan me- dan pe-, tetapi awalan sa-, misalnya lihat bentuk sambola,

sandok, sanggotap. Gabungan imbuhan dapat terjadi di akhir kata misalnya untuk kata dokon + on (dokonon), + kon (dokononkon), + on (dokononkonon), dorapkononkon. Selain itu, imbuhan juga dapat membentuk tingkat kata sifat, misalnya lihat godang, godangan, gumodang, mago'dang, ma'godang, magodangan, magodangtu,murgodang, murmagodang, murmurmagodang, targodang, tarumgodang, tartargodang, sagodang-godangna.

Pada bagian lain, pemakaian partikel sangat dominan. Partikel yang digunakan  antara lain: ba, bo, da, do, ke, le, ma, pe,te, dll. Dalam bahasa tutur (lisan) penggunaan partikel tersebut sering disingkat menjadi sebuah akronim, seperti  roson (ro ma ho tu son), kesi (kehe ma ho tu si), dll.
Dalam kamus ini penulis juga menguraikan ragam kata atau pilihan kata dalam bahasa Mandailing berdasarkan  penggunaannya yang terdiri atas:

1. Ata andung dipakai pada upacara dan kesusasteraan.
2. Ata bulung-bulung yaitu menggunakan lambang-lambang (bladerentaal)
3. Ata jampolak atau ata teas dipakai untuk caci- maki.
4. Ata parkapur dipakai pada waktu meramu dan mencari kapur barus.
5. Ata sibaso dipakai pada bidang keilmuan.
6. Ata somal dipakai pada percakapan sehari-hari.

Bahasa Mandailing memiliki dialek yang sangat banyak. Dalam penulisan kamus ini masih sebagian kecil yang terdata. Untuk melengkapinya masih diperlukan kajian yang lebih mendalam. Dengan kata lain, penulisan ini masih merupakan langkah awal, maka untuk kelanjutan dan kesempurnaannya diperlukan saran dan kritik yang konstrultif dari berbagai pihak yang berkompeten.
Akhirnya, penulis menyampaikan syukur alhamdulillah, karena atas rida-Nya lah penyusunan kamus ini terwujud. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. H. Afifuddin Lubis, Walikota Medan, yang telah memberikan bantuan dana untuk penyusunan kamus ini.
2. Bapak Drs. Z. Pangaduan lubis, sebagai pembimbing yang dengan tulus meluangkan banyak waktu untuk berdiskusi dengan penulis.
3. Saudara Drs. Zulkifli Lubis, M.A., Ketua Departemen Antropologi USU, selaku Ketua Penulisan dan Penerbitan Kamus Bahasa Mandailing ini (Ketua Koperasi Raptama Jaya).
4. Abanganda Edi Nasution, S.Sn yang telah berela hati menata bentuk dan tampilan kamus ini sehingga lebih indah dan menarik.
5. Para orang tua sebagai informan yang tidak dapat penulis uraikan satu persatu tanpa mengurangi rasa hormat saya.

Akhir kata, semoga kamus yang masih banyak memiliki kekurangan ini bermanfaat, dan atas masukan, koreksi ataupun perbaikan dari para pembaca saya ucapkan terima kasih.

                                                                            Medan, 18 Maret 2009

~o0o~

\








~edy~


By: Edi Nasution etnomusikolog
September 09, 2014.


A  >>>  azan, apil, apal, asok, asak, antuk, ambar, alap, arsak, abit, asin, ajar, au, ayup, asli, asi, abo, arkar, aluk, ambit, arsik, ampot, altong, anjing, aum, aso, aso-aso, amu, aspal, arab, anti, aluk, alas, asur, antingano, ambur, amburkom, aha, angkos, ancicibang, ambeyen, ambasang, aruting, amang, antong, ala, alale, aiai, angoluan, aposoan, askas, alak, alaklai, adaboru, andor, ayah, aor, asimet, aporas, amporik, alahan, ari, ayak, antak, aru, asior, altok, ambasang, arambir, asur, abong, asom, ancit, apit, apit-apit, abin, abin-abin, angkat, alap, alap-alapi, arumpang, ambirang, alip, acar, angsa, angir, ancim, ajak, alap, apil. arsik, ambar, askas, alibutongan, alintaktak, aso, ancok, ane-ane, alinu, asar, anjing, ambeng, angir, aspal, aru, aru-aru, arun, atir, asok, ampot, arkar, ancimun, ambar, abong, anggit, amatean, amatir, algojo, aramboja, asbak, askas, ambur, arasak, abit, abal-abal, andor, amal, angit, angit-angit, aramboja, alip, alpa, agas, alogo, aleon, astagopirulloh, amangboru, amanguda, amangtua, alak, alak-alak, apak, asbak, arumpang, arloji, arun, arut, arut-arut, asli, asal, apil, arit, arsip, antong, antingano, abang, angkang, abong, arsik, ambit, abo, arbing, arbing-arbing, apus, alilintar, aratak, andilo, amang, amang-amang, ama-ama, amangmu, amangta, amangku, ambaroba, antarsa, andor, anduring, arut, arut-arut, amak, amal, aleon, ambar, adop, adab, andigan, ari, ari-ari, aek, arang, abit, ambur, andigan, antargan, asinan, ampuna, ampunan, amporik, antarsa, antingano, amparan, asbak, asimet, abo, abo-abo, asok, asok-asok, ari, ari-ari, anggi, adik, almanak, apung, apung-apung, apus, apus-apus, aha, abis, amuk, ambung, amal, ambasang, ambirang, aronduk, arian, amamu, alihi, alale, adope, arut, arkar, ami, amot, anting-anting, alok-alok, anggo, anggun, angsa, ayup, asik, aratak, anngota, amuk, ambukon, ambungkon, ambur, angsur, anggora, asingkon, aso-aso, alopa, arloji, aroro, alang, alang-alang, alangi, abaro, alo, alo-alo, ampolu, asaya, ahmat, alogo, aleon, arias, abara, abaraon, aronduk, amput, amputi, angkot, akbar, alus, arbing, arbing-karbing, ambat, ambang, antingano, artooan boru, ari, ari-ari, arian raya, ari rayo, ari poken, ak, ari sinayan, ari salasa, ari rabu, ari kamis, ari jumahat, ari sabtu, ari minggu, asom podeh, abaro, abur-kabur, acong, arong, akong, albuk, ahap, angkat, aluk, aluk-aluk, anjing, ancok, antong, anting-anting, amparan, amak, along, ambur, ambung, ambungkon, algojo, abang, adik, abang-adik, anjak, alimbubu, antarsa, asaya, amparan, asur, aluang, ale-ale, anyang, angit, apdol, askas, ambung, ambubu, amburkom, adong, ambukon, ambaroba, aso, antongan, asimet, asior, anggit, ampengan, anggota, asar, alintaktak, alibutongan, amanta, amamu, aropik, abo, abo-abo, abu, alok. alok-alok, angir, aso, asi, asimet, alopa, antarsa, antingano, ambacang, asior, aruting, ambeyen, antingano, ampera, ancang-ancang, arbing, arbing-arbing, aronduk, apesong, ambur, ambit, albuk, agak, asok, asing, abong, abin, abin-abin, alkot, alif, alas, ale, ate, ate-ate, ------------------------

B  >>>  banua, balok,  bolu, bata, belek, batuk, balak, banggik, bangil, banting, bangsat, bandut, bustak, bongak, bikbik, botik, belek, burbar, berber, burbur, basbas, bisbis, balanak, bukbak, bekbek, batak, berer, bus-bus, bal-bal, bap-bap, bupbap, bernong, bucuk, bulbul, bolbol, barlang, bodat, burus, bom-bom, bumbam, boltok, babi, bubur, barbar, burbar, bongak, borsang, bana, bunu, bere, biri-biri, bodat, balbal, batu, belek, bilik, buruk, busbus, balimbing, barimbing, borngas, bukak, belbel, bekbek, bikbik, bokbok, bakbak, bukbuk, bolut, butbut, balik-balik, bulak, bosar, bombom, bumbam, boltok, baro, bo. bok-bok, bukbuk, bernong, bibir, baut, beut, beot, burangkit, baragas, borgo, benggol, bolut, bukbek, bukbuk, bor, bor-bor, banggar, baba, bunting, buncut, borkat, bolut, bur-buron, borkat, bak-bak, bik-bik, bongko, bongkak, bal, bal-bal, bel-bel, bil-bil, bol-bol, bu-bul, but-but, bom-bom bum-bam, bur-bar, bas-bas, bus-bus, bus-bas, borsang, balang, butong, bulung, baruton, bungkar, bingka, bongko, banting, bunting, balut, balut-balut, balok, balik, balik-balik, ber-ber, burik, basa, baca, bandut, bondut, bari, barigit, baul-baul, botung, bortung, bobal, basu, basuon, borong, baling, baling-baling, banua, borong, bulang, bingkang, bingkas, bakul, baul-baul, bolak, balik, bincar, bonca, bona-bonca, birik, buruk, baru, barus, barlang, burlung, balut, basir, busir, balanak, budu, barbaran, burincak, bayo, bayom, bantal, balimbing, bakok, barimbing, barak, barak-barak, bontan, bonca, bonca-bonca, bingke, bolat, bustak, but-but, bus-bus, bornga, bortu, borneo, begu, balatung, bariba, binanga, bonang, bernong, bolnang, burnung, basir, balatung, bonca, belek, belek-belek, beot,  baut, borsang, bortung, banting, balacan, bontar, banggik, bangil, buah, banci, bos, bangkudu, bulukon, butong, banjar, buriik, burikon, boltok, bulukon, bulung, bulung-bulung, burikon, burik-burikon, baragas, bolkas, bokom, babiat, bolang, bulang, boru tulang, bargot, barut, baruton, bagas, bugis, bolkas, bungkas, bungkus, bustak, bujing, bujing-bujing, bangkurut, bangkir, bungkuk, bungas, baro, binge, bondut, benen, bongkak, bungkuk, balun, balun-balun, bodat, bandit, bangkiang, balatung, baledang, bingkuang, bolkas, bidaah, borkat, borsang, burburon, bantu, banggik, boul, botol, bolut, butong, bunguk, bungkuk, bucuk, bulukon, burangkit, bencong, bolat, bolang, binanga, bulele, buncis, boras, buras, ------------------------

C   >>>  cocak, cocok, cikek, cekcok, cacar, congok, cipok, cik-cik, cek-cek, cangkul, comeh, ceme, carito, cencen, cor, cebok, cabut, cap, cangkah, camporong, cion, campak, camping, cangkir, cokar, cek-cek, cek-ceki, cambong, ceret, coret, cet, centong, conto, capek, carocok, culup, cukur, cop, cilek, cek-cek, catu, catur, concang, congkeh, colok, carobong, cacing, cilek, cukur, cencen, cikek, culup, cambuk, cacak, cicik, cekcok, campak, cipak, cimek, conteng, cukup, cabut, ceme, cambuk, cimak, condet, caong, carutu, corong, cingcong, can, cenek, conto, cir-cir, cendor, colak, cikek, cangkok, celok, cilok, calak, colak, cas, cilukba, carocok, ceret, coret, camin-camin, cocang, cupang, curang, concang, culup, cilat, ceme, cicik, cakek, camping, camat, cokom, cangkah, cangkir, colok, cebok, cut, cit, cit-cit, cek-cek, corong, centong, cubadak, cabut, capung-capung, congok, cengek, capot, codik, cecer, calak, congkeh, colok, cubok, cebok, celok, cekel, camak, calong, carocok, cungkil, campak, capek, cokalat, ciok, ciop-ciok, colok, cita, carobong, celeng, calon, congok, congek, cupang, cok-cok,  colok, cubo, caro, corom, cilok, cubadak, cuek, camat, calak, ----------------------

D   >>>  dao, durus, dor, dai, dada, dadar, datu, del-del, dil-dil, denggan, dalkit, dais, dos, dosdos, dalpak, daldal, dorap, dorit, doras, dale, dolkop, datdat, datuk, doit, des, dodas, dontong, doring, dosing, dakdak, dukdak, datar, dok-dok, dopak, dosar, dosar-dosar, dobar, dobar-dobar, dotur, dotur-dotur, donok, dok, dokon, danga, dalkit, dodas, dalpak, dok-dok, dukdak, dek-dek, daek, dos, dos-dos, dasar, dosir, dosur, dosa, dosor, dalpak, dahanon, danon, dopung, dopung-dopung, dopeng, dompeng, durdar, duruk, do, doma, dolkop, desember, dasun, dotak, dal-dal, durus, dongkrak, donok, duruk, dorik, doting, doteng, durdar, daksina, dokik, dokok, dolok, dorak, dorik, dotuk, dalpak, dorong, durung, dotung, dompol, dobol, dingdong, dame, dursat, dayuk, damar, dila, dilat, dilat-dilat, dolkop, dapot, duruk, del-del, dil-dil, dotar, dosar, duda, dompak, dalpak, dame, damar, durung, dokon, durus, duruk, durum, dursut, damos, dotung, dotung-dotung, doseng, doseng, doreng, doreng-doreng, dopang, dopang, dopang-dopang, dorak, dorak-dorak, doring, doring-doring,  dorong. dorong-dorong, dakdak, dukdak, dekdek, dulpak, dalpak, dalpak-dalpak, dolping, dopang, dopang-dopang, doping, doping-doping, dopus, dopus-dopus, dangka, daganak, dakdanak, dolkop, dalkop, darap, darapkon, dorap, dorapkon, dao, dao-dao, doras, dikir, dalu-dalu, dobar, dobar-dobar, dingkil, dogil, deret, derert-deret, dornguk, dorak, dolpok, durngak, dorngik, doruk, duruk, dursit, dursut, duruk, doruk, dal-dal, dalu--dalu, dalpak, dong-dong, dung-dung, dangol, dais, damang, dainang, dasi, dorop, dil-dil, del-del, dal-dal, duk-dak, dek-dek, dosar, dosur, durus, dorus, dornguk, dap-dap, datu, dongkarak, damar, dalkit, dolok, durcat, dopak, dopek, dopok, dopuk, dosar, dosir, dosur, dorap, dopang, dopeng, daganak, dakdanak, danak, dogil,  --------------------------

E >>> e, ee, epeng, eser, elek, elek-elek, ember, encok, ekel, epeng-epeng, eltor, eme, etek, enjeng, erer, ela, es, eor-eor, etong, etong-etong, erek, erek-erek, eltor, ecek-ecek, encok, elmu, ember, epong-epong, ende, ende-ende, eor-eor, egol, eek, eme, enjeng, elek, elel-elek, erker, engkol, engkol-engkol, ela, endeng-endeng, epek, ersek, ercek-ercek, encok, encer, elpak, eit, engsel, ----------------------

G   >>> gok, gal-gal, gabus, gutgut, garut, garuk-garuk. goluk, gagat, gigit, gogat, garobak, garigit, garut, gos-gos, gas-gas, gis-gis, gus-gus, gas-gas, gali. garcap, godang, gomit, gorga, gor, gantil, gantung, ganjang, ginjang, ganggang, gatgat, gargar, garut, gurgar, gargar, gambar, gasak, gabur, golap, gusar, gusar-gusar, goni, golput, goluk, galgal, garuk, gincu, goruk, goruk-goruk, gondang, gordang, gala, golap, garcip, gancip, gas-gas, gogat, gerep, gaor, gaor-gaor, goso, gotap, gotap-gotap, golat, golat-golat, goar, gogo, galbuk, gorar, garcip, gayok, gar-gar, gal-gal, gurgar, garing, gom-gom, gomak, gomak-gomak, gayambang, garantung, garobak, gulo, gilo, golap, goar, gorar, ginjang, ganjang, gara, garcip, gonop, gonti, gatal, galoga, gor-gor, gurgar, gancip, garobak, gandal, gandak, gosok, gur-gur, gis-gis,  gancip, gala, gala-gala, goluk, gadubang, gidik, gidik-gidik, galudak, gacik, galundung, gorbang, gantil, gantil-gantil, gandak, garcap, garcip, gadubang,  gantung, ganteng, gal-gal, garuda, gor-gor. garpu, gok-gok, galang, guling, gantang, gasak, gombok, gombok, gulu, gule, giri, gariang, gotap, gotap-gotap, gete, gang-gang, golip, guru, gari, garu, garut , garut, gore, gara, gayak, gayak-gayak, gayok, garcip, gasak, gosok, gonop, gal-gal, gopur, gabur, gok, gok-gok, gol, gale, garabak, girik, garuk, garuk-garuk, gale, gale-gale, golip, ganjang, ginjang, ganja, ganjing, gonjong, goya, goyang, goyang-goyang, gocap, gancip, goreng, galoga, ganas, gorsing, galudak, garudar, gurame, gogat, gora, gabar, gabar-gabar, garcap, ------------------

H >>> ho, horas, hodar, hus, huria, hum, humitir, humaliang, halimun, hata, hata-hata, haram, halal, hatop, hebo, heboh, huta, habang, huraba, hiang, hatoban, hebat, huraba, holas, hebat, hantam, holip, humala, haranggaol, hasibuan, hulubalang, halma, halomoan, hodar, ----------------------

I    >>>  i, isang, ipon, indu, inang, ilap, ilap-ilap, incor, incaki, ilu, ile, ima, ise, ipos, isin, isi, ipar, incor, intip, ingkon, inang, inanta, irisana, iris, incop, indung-indung, ilak, incak, ikil, ilkili, ima, imei, igung, ipas, ipas-ipas, incor, ingkon, ipos, isin, intip, ison, indu, indun, ingot, igung, incaki, idup, intan, iris, iris-iris, isar, isar-isar, incop, incop-incop, ipar, iskis, iboto, ilak, pas, ipas-ipas, ijab kobul, induri, indahan, inda, ilu, ipkip, injang, isang, imbang, indu, indon, ilak, ilakkon, inggung,  ibo, ita, ito, ira-ira, iras, isar, isar-isar, idup, idul, ima, indun, iindu, ipos, ipon, ijuk, ijuk-ijuk, ilap, ilap-ilap, imbok, ilik, isok, asoki, incak, incaki, ilkil, inde, indek-indek, ical, incai, incok, intip, intopi, ijur, ijang, ias, iras, ilak, itak, ilpak, iris, iris-iris, idok, ipar, ira-ira, ipe, ito, intong, isak, imbok, ipos, ire, irput, isang, igung, inggung, ibo, ilap, inda, ison, ingkon, ingot, itak, ibul, ibul-ibul, ipe, ita, iken, ilu. isang, incop, ------------

J   >>> ja, jau, ajar, ajal, jojal, jo, jau, jajar. jukjuk, jait, jolo, jonjong, jampayar, ja, jajang, joring, jojor, jot-jot, jat, jejer, jihin, jait, jujar, jaot, jajang, jelok, juluk, juluk-juluk, juk-juk, jami, jamu, jisia, jul-jul, jeir, joman, jalak-jalak, jojor, jeriken, jat, jat-jat, julo-julo, jampurut, jojor, jujung, juk-juk, jojak, jujek, jajang, jauk-jauk, jungkit, jala, jaring, jat, jaor, jujar, jambak, jampurut, joloi, jingkang, joget, jugul, jando, joling, jolung, jul-jul, jalak-jalak, jorat, jopang, juguk, jalang, jungkit, jalikot, jujur, jijik, jontal, jauk-jauk, jamonis, joker, jorat, jengger,  jap-jap, jalikot, jalikot-jalikot, jibaku, jombur, jodoh, jae, jagal, jugul, jeges, jeges-jeges, jabik-jabik, jouk-jouk, joran, jambek, jantung, jap-jap, joker, jeket, jait, jaiton, jampi, jampi-jampi, jobang, jungkek, jongos, jobak, juga-jage, jujar, janggal, jogi, jogal, jeges, jobang, julo-julo, jingkang, jukjek, jungkir, jobak, jombur, jelok, jambang, jal-jal, jorat, jengger, jugul, jala, japinasa, jolung, jegang, jojor, jujur, jaor, jaor-jaor, juak, juak-juak, jalaki, jalak-jalak, joker, jujar, jaot, jolung, jolung-jolung, jalang, jobang, jabir-jabir, jajal, jolong, jajal, jalo, jabat, jungkit, jangka, jangkar, jongos, jou, jolo, jolok-jolok, jingkang, jingkarak, jinjing, jongkok, jas, jauk-jauk, jarupe, jarope, jorbing, jorat, joman, jonggor, jobang, jong-jong, jungkal, jomput, jalakon, jujar, jojal, jungkit, juk-juk, janggut, -------------------

K    >>>  kakak, kumis, kukus, kakus, karosi, kokok. karben, kapal, kikik, karipik, karupuk, karton, kartis, karotes, kaluk, kokok, kaletek, kecek, kocik, kacak, katupek, karom, koncing, karung, karundeng, kolot, kompor, kilang, kojar, kiper, karupuk, kartu, karton, karbon, kalu, kolor, kas, kuritok, karekel, kardus, koran, kompeng, kuhur, kumpul, kasirok, kais, karosi, kacapi, koar-koar, kalantang, kantang, karung, karung-karung, kapur, karanjang, kampung, kuria, kurabu, kokang, kehe, karben, karbit, kurcaci, kepang, kipang, korang, kail, koling, kolang-kaling, karupuk, karipik, kaboratan, kasirok, katupek, kalayo, kayo, kapetor, kokoh, kolot, konco, karpet, karosi, karas, karombo, kasti, kotok, kolom, kanji, kondom, kariput, kantalan, kucir, kon, karu, kilo, kotip, kipang, kojar, kojar-kojar, kokang, kancang, koncing, karpet, kantang, kor-kor, kol-kol, kel-kel, kaluk, kaluk-kaluk, korek, korek-korek, kulak, kampung, koping, koping-koping, pingsan, kompis, karotas, karotes, karu, karung, kobet, karakok, kapur barus, karbon, kartis, karcis, karejo, kayo, koyok, koje, karotas, karo, kapala, katua, konco, kamat, kamben, karben, kemek, kesi, keni, kasae, kasir, kentong, kura-kura, karanjang, kuuah, kuah-kuah, kodak, kamera, kalayo, kasuari,  kari, kampar, kotuk, kotak, kotak-kotak, kobet, kurung, karung-karung, karung, kacung, tarkatung-katung, keong, keker, kertek, kuritok, kurabu, kurcaci, korupsi, kotor, kacubung, kenek, kantor, kotuk, kostum, karben, kardus, karupuk, karipik, kokoh, kari, kaleng, kaleng-kaleng, kalung, karung, kosong, kutang, kutang-kutang, kanalpot, koteng, karundut, karundeng, kuang, -----------------

L   >>>  lian, lotok, lolo, lala, lopus, lantas, libas, lolot, lambing, laklak, laok, laris, lului, lontong, lamar, lantam, laru, lalu, loncop, lapan, lipan, leplap, lancar, lancim, latong, leso, leto, les, leng, lompong, lomlom, lam-lam, lak-lak, lipan, lopus, lants. lalat, lilis, lopas, lopeh, lolo, lima, lumut, lomo, lomok, lukluk, los, lancat, leplap, lilit, linto, luk-luk, lam, lek, lancim, lancar, las, lam-lam, lantam, lantuk, lobu, lubang, lao, lalo, lintop, litak, lanjang, linjang, lipak, lopek, lonjing, laing, landang, lambang, lumbang, lelang, lancung, lotap, lak-lak, lulun, lambing, lasiak, lancar, lan, lanok, landit, loncop, lapik, lantuk, lobe, lobe-lobe, loba, lobu, lombu, lambung, lojong, lojongkon, laci, lanniari, lobi, labi, laru, lumban, lobayan, lupak, layang-layang, londat, lage, ligi, lampot, lang-lang, laung, lancat, lancar, lep-lap, langkeso, leplap, lak-lak, longit, leto, lotok, limatok, lap, lapis, lampisan, lubis, lubak, lobi, lobi-lobi, lokot, lokot-lokot, lain, las, les, leng, laung, langga, langgo, lantuk, luk-luk, lali, lo-lo, lupak,lepek, lopus, lompit, langsam, langsung, lancat, loncot, loncop, lancar, latifah, lojong, langgo, longgar, lak-lak, lulus, leso, langkeso, lengkung, lenggok, lotap, lan, lanniari, langkot, lambok, lale, lampirit, lam-lam, loncot, lintop, lopas, lobayan, logo, leplap, lopek, loncot, lom-lom. longgom, luk-luk, lantak, luntak, loncing, losung, lanom, lanok, landong, -----------------

M  >>> mangan, maros-ros, madung, malos, markar, mabin, malkot, moso. mamak, memek, minum, mangaol, maol, mim, muhammad, malo, mintop, mokmok, mosa, misang, marmut, mokmok, marsak, marga, mago, mayup, masibak, matopak, mangampir, manyongkir, mapipil, manyota, masuk, masuak, mapuak, marabit, maubit, mangaranto, mapil-pil, manggambar, mangapil, matopik, mancubit, mantata, muta, muta-uta, mangguris, mangincaki, meknong, molo, mulo, malo, male, maol, maol-maol, mangidup, manyopsop, mangantor, maiskis, mais-kais, maturgis, martopis, manumis, monis-monis, manyotop, marrintop, maltok, malkot, mintop, morot, marnipi, marnipi-nipi, maramput, marpeor, marpeor-peor, marnana, margasing, milas, malos, mancit, mosa, mongkik, muta, motar, motar-otar, muntut, rarumbak, mapot-pot, mapopo, mangolu. maretong, mangetong, manyoteng, mosor, mosor-osor, morong, morong-orong, merbas, manotas, manyorsor, mangan, male, matureppet, matubek-bek, matubel-bel, matubik-bik, martaon-taon, manimbo, memek, merdet, marorot, manyabi, manyota, mambege, marsiajar,menyise, margondang, margordang, maurbat, manyosal, maribak,marotak, marutang, margambur, manyimbuk, matolbak, maribak, marase, morong, mengkang-engkang, menjeng, moyo, malkot, mulbas, mulo-mulo, mar, marmar, meoskeos, muba, mabuk, mar-mar, mayup, mandiang, malala, marpetor, marpetor-petor, masur-sur, masibak, manyingkot, manjongkal, marsege, manyabi, manyate, manggotap, manggotap-gotap, manggore, mangasin, mangasing, mandele, mangamuk, matombuk, manampuk, maluk-luk, martimbus, mabus-bus, maros-ros, mangepek, maor, mocom, marlolo, marlancung, memek, mok-mok, muta, mintar, malum, maluntak, marmasak, miak, marmiak, marmiak-miak, moak, moak-oak, marlojong, manglojongkon, marlojong-lojong, maurbat, marpoken, marpoken-poken, marsirene, marlompi, marlompi--lompit, mabekbik, merbas, manyota, manyoteng, manyimpang, mamalang, mangontang, marbue-bue, mandosik, mapikek, manyantan, mambasu, mangaluntak, merpikek, mamikek, maposo, manyabi, mangguris, manyangkul, manura, matilpuk, matipuk, malantuk, mangalantuk, marsege, manjombur, marmasin, marsame, marbabo, markacak, marmoncak, marcilek, marcolak, manyipak, manjala, mandehe, mandurung, mangepek, manetek, matopak, matopek, maribak, masibak, maek, maek-maek, monjap, maonok, maisar, mangamuk, matulmok, matengek, matolpang, masopak, maila, maila-ila, marsarak, marsirang, marap-rap, matolbak, marunjang, mainjang, mapistak, maninjal, marbual, marbal, marbola, maringanan, marsaludang, martimbang, margasa, margasa-gasa, margoso, marotang, margayambang, manggampang, marporanng, margincu, marparak, manyabar, markatumbar, mangkabar-bar, mungkor, malkot, mangiut, marurut, matabo, maoto, malamun, mandapot, manopot, malubak, mangalupak, matir-tir, manortor, masomnbong, malambok, maolbok, mancebok, matulmok, mangarampok, mangaripuk, mambandut, manyise, manyiksik, masik-sik,manyorsor, manyintak, manyongsong, maek, maraek, maer, maor, mosa, mapistak, maluntak, moak, momo, mulak, monggot, manggut-anggut, murak, mongkik, matukik-kik, matukak-kak, matukol-kol, marumbak, matolpang, matobik, manyusu, manyusunm manyiturum, mapoak, mapuak, matangging, malambing, makuat, magogo, magut-gut, magut-guttu, mopeng, mapora, marpira, maranak, marpaompu, manakik, mangguris, mapistak, mijur, marmijuran, marmatean, marmasukan, markehean, marambungan, maramput, markona, marrabut, maributtu, manyala, manyilek, marsilat, mangasing, maramping, manjujung, manggandal, mamorsan, manyupir, manyopir, mangincaki, mapuak, mapoak, manggait, mangkair, mangkair-kair, martata, martutuk, martutup, manyopsop, marindek, marende, marende-ende, mangaragat, manggule, mmardahan, manapor, matapor, mangupor-por, matupor-por, marbolang, marbulung, bulung-bulung, marbulung-buluo, marpangir, mangarambas, marburas, matulbas, maurbat, marumbak, meos-keos, marmata, marsimata, melap-elap, madehe, mangaluntak, mambelek, mamorsan, manjobak, mangalitak, manjama, manjamak, manggore, manyordik, marsonduk, manyoteng, mapir-pir, mangampir, mar-mar, malatong, manyipak, mangantuk, malantuk, maluk-luk, manyintuk, maripuk, maradong, marapi, maradat, marrudut, marurut, marpira, marpira-pira, maramping, marepeng, marsuping, marigung, marmata, marpat, martangan, maralis, marboltok, marsibuk, marulu, marutu, marsitagen, marsate, marsame, manajak, manggotil, mamuro, manggepo. mamuro, ----------------------

N >>>  na, nangkin, nangkon, naron, nana, ning, ninna, napnap, nenek, nangkan, nasotontu, nasolabo, nyer-nyer, ngil-ngil, ngot-ngot, ngat-ngat, ngit-ngit, ngot, ngot-ngot, nyir-nyir, not-noti, napa-napa, nap-nap, natal, ngiro, ngilu, ngolu, ngamarimbar, nga, ngatolap, ngalalu, ngasiap, ngasalose, ngalokot, ngabut, ngangang, ngajau, ngaban, ngasude, ngapade, ngatarbaen, ngatargolom, ngatargendan, ngatarompa, ngasidung, ngapose, ngasabas, ngature, ngatobang, ngaposo, ngape, ngapemalamun, ngapebingkas, nagemangolu, ngapejot-jot, ngapemacom, mangapeasin, nagepenogt-ngot, ngapeunggal, ngapemarobo,nagapemasak, ngapetorang, ngapebak-bak, ngape mok-mok, ngapemarnyiang, ngapetogos, ngapegodang, nantulang, nyer-nyer, naget, nagit, nong-nong, nangkin, nangkan, ngolu, ngantong, ngajo, ngajau, ngajalak, ngajibadai, ngadong, ngaapal, ngabak-bak, ngalamot, ngalampot, ngacikar, ngacekel, ngabisuk, ngaoto, ngajogal, ngalambok, ngamanis, ngapaet, ngamk-mok, ngaganteng, ngajeges, ngamanis, ngamonis-monis, ngapondok, ngainjang, ngapeol, ngalidang, ngapayak, ngacapot, ngapaor, ngareso, ngasise, ngaloncop, ngatajom, ngamaek, ngamenek, ngaporkot, ngapir, ngapaor, ngapair, ngasosot, ngaranggang, ngarangkak, -------------------

O >>> o, ona, oni, olo, orbo, onok, oris, okok, opat, ontang, ordang, ordeng, orek, oruk, osar, osar-osar, ompu, ompung, olbok, osom, olpik, orgos, orgas, obor, ongkos, obar, oban, orja, onyor, osom. orgos, onok, oji, ontat, ontap, olong, ogos, ombik, olbung, olbok, oto, onpe, obuk, osa, onang-onang, orong, orong-orong, ontang, onang-ontang, ompak, orsang, ombang, olat, opat, otang, obeng, ordok, orgas, ompong, ombak, onom, orom, orsang, onjapkon, ombus, onom, ompang, ombar, ombar-ombar, obaran, oncong, onjapkon, olbokkon, olpikkon, orgoskon, obarkon, ogar, oruk, orong, oncong, ombus, olbok, olbak, olbik, ombik, otor, otor-otor, obor, olat, ompang, ongkos, obeng, oleng, otang, onas, onok, olpak, olpuk, orong-orong, ompung-ompung, obar, obaron, obanon, oson, oton, orang-aring, olbok-olbok, olpik, olpik-olpik, -------------------------

P >>> pal-pal, paorot, paco-paco, palekat, parorot, palakok, pair, pira, pira-pira, pual-pail, palupuk, porkas, palka, pinggan, pau, par, par-par, pak, pak-pak, puk, puk-puk, puk-pak, pas, pung-pang, pur-par, pis, polngit, parabek, pepek, peot, pekok, pokok. pepek, pengkor, pangkas, pas-pas, paipas, pultak, porngas, por, por-por, pultak, pultak-pultak, pur-pur, pur-puron, pacul, pacul-pacul, papan, papan-papan, parange, poro, pocong, pocong-pocong, pocal, pilat, pogu, pogu-pogu, pal-pal, paincat, patoru, palambing, painjang,  pongkik, pangkas, parlak, pangais-ais, pas-pas, pasti, porngas, porngis, porkis, pereng-pereng, purpar, palastik, poso-poso, pining, putung, puntung, pitu, pisang, pitulo, paya, palakok, paincat, painjang, pabolak, palapang, pasang, pang-pang, pangir, pantang, ping pong, pongir, poning, parcak, percek, pangir, porngas, porngis, polngit, poak, poak-poak, partambu, pargabus, paoto-oto, pabahat, paotik, paotik-otik, pamasak, parmasak, pamasuk, patidaon, padati, pantak, palidang, pabengkok, pamajal, patajom, paonyak, pangaronca, parroncam, pature, pabisuk, patulmok, pamok-mok, palanjang, paombang, pakombang, pakompis, pamispisan, pangarambang,parrambang, pasonang, paancit, paancit-ancit, parkancitan, pamuge, parudam, paru-paru, paiut, paiut-iut, parkusor, panembak, pasulak, paulak, patunda, pandapot, pandapotan, panyibak, panggete, parudan, pamasak, pamasuk, patibal, parmangan, pature, panganon, parudan, paulak, pangkas, porngas, pal-pal, pol, pel, por, porngik, pultak, pistak, pistok, palalok, paimbar, pasoding, pamate, paoto-otoon, panyembar, pasugut, pamalos, pasada, pasidung, paombang, pambiar-biari, panjobak, paorot, pasulak, pamulak, parsameaan, pargandaan, pamispisan, polngit, poro, pisang, porkis, porkas, podang, palang, pintu, pamikek, pangorgas, patibal, pir, por, par, pur, par, pira, pira-pira, pasak, pilek, pulut, --------------------

Q >>> qur'an, qursi, qolu, qudsi, qiraat, qurban, qasidah, qoriah, qori-qoriah,------------------

R   >>>  ro, ra, rara, rarat, rura, rang-rang, rasa, rata, rapot, roti, roto, rere, rata, rambas, rimbang, rantang, rambang, rambang-rambang, rarak, rerak, rukrek, rek-rek, rurus, rintop, ronggur, rak-rak, rik-rik, rerak, roncam, repak,  ruak, ruak-ruak, ribak, ribak-ribak, robak, raru, randuk, rintop, ronjom, rantang, rintak, rumbak, runjang, rencong, rung-rung, rang-rang, ranto, roras, rompak, rompak-rompak, rimbus, rimbus-rimbus, rembes, rap, rap-rap, ruprap, rontong, rombongan, rarangan, rantang, ribut, rabut, rambutan, rambas, rembes, robak, rotak, rintik, rongit, rosu, rusuk, robung, reng-reng, ring-ring, ronggur, rata-rata, roba, rosul, rak-rak, ruk-ruk, rek-rek, rukrek, rambas, rambas-rambas, roras, rujak, rusuk,  ros, ros-ros, rurus, renteng, robak, ronjom, ronjomkon, saba, sasabi, raru, rimbun, ramban, rambas, rabies, ros, ramban, rembes, rembek, rintop, rondam, rintak, rintakkon, rosu, rosu-rosu, rosul, rasul, rasulullah, rantang, ronggot, ronggoton, rontong, ranting, robak, rukuk, rusuk, rutuk, ruk-ruk, rek-rek, rik-rik, rorap, ruprap, raru, rata, rintak, rintakkon, rere, renjengkon, rarat, raso, rasa, rasoki, rondam, rok, rorap, rondap, roti, ros, ros-ros, renjeng, rambas, rambaskon, rabas, rembes, robak, rabar, ribak, ribakkon, rotak, rotakkon, rintak, rintakkon, renjeng, renjengkon, ronyang, roncam, runjang, rontong, rantang, renteng, ruruk, robo, robok, raru, rongit, rompak, ronjom, ronjomkon, rintop, rindang, rondang, ramping, rasoki, rukrek, rapot, rarak, rerak, rik-rik, rek-rek, ruk-ruk, runjang, roras, robak, raja, rajo, reng, reng-reng, reng-reng, rung-rung, renge, rukek, rusuk, ranto, rantong, renteng, ----------------------

S   >>>  sa, so, si, sosak, sasa, sosa, salak, sarak, setan, santan. sangir, sotop, solop, salib, sulum, sale, sobar, siroken, sise, sar-sar, sabi, sibaso, solpu, sampak, som-som, sendok, sok-sok, sak-sak, ser-ser, suri, sek-sek, sanggar, singgar, songgak, sompit, sihir, sotul, sate, soto, sor-sor, sibuk, ros-ros, ris-ris, siram, dosak, sosak, sibak, sibak-sibak, sega, sega-sega, sierker, sordam, singkam, singkoru, singgang, somal, siam, som-som, sude, sopir, supir, solop. solot, sormin, saipe, salolot, sembar, santing, siating, silonging, solkot, singkot, sangkot, sungkot, songket, sik-sik, sok-sok, sek-sek, suk-suk, sataon, sannari, saonnari, sora, soro, suru, sarak, sirik, sorik, suruk, sira, sirarara, sonon,  songonon, sae, saung, sigop, saung-saung, salung, suling, sonop, soluk, sop-sop, soro, soro-soro, soteng, satontang, soban, solop, sap, sap-sap, sonop. sogi, marsogi-sogi, sugi, marsugi-sugi. sotop, salip, songgot, singkot, sungkot, songkok, sangek, sorpa, sipelebegu, sordam, susuk, sotuk, salimpotpot, sarusur, sampur, siapor, sopo, sopo-sopo, sapu, siput, sok-sok, sarop, sorop-sorop, sotop, songon, songeon, sungsang, sierkerr, sopu, sulap, sasagun, sunglap, siantona, sirlak, suk-suk, suluk, selek, soluk, sosar, sosal, sorkam, sonduk, sasagun, solpu, siambirang, susuk, siroken, sontung, sintak, sintakkon, siborok, singit, songgot, songkek, sur-sur, sar-sar, sir-sir, sangir, sabariba, satonga, sude, sudena, suu, suruon, sontung, sorgap, salibung, songgak, salap, silalat, sunglap, sungkar, sarabi, saribu, salose, satingkap, sabagas, saopok, sator, saompung, sabagas, saudon, salaci, silopak, sobuk, suruk, sunet, suntuk, suntik, senter, siantar, sontang, santing, salapa, sapu, sabur, sabur-sabur, subur, sontung, sambalik, saro, soro, sere, sugi, sugi-sugi, siapor, sorik, sarak, surak, saima, saludang, suluk, surkut, sabe-sabe, sabut, siantar, sontak, salimbuk-buk, sarop, sorkam, sordam, sasagun, sasagen, sotul, suri, sorbuk, serap, sarop, sotop, ser-ser, sar-sar, sursar, suap, susuk, sasak, sek-sek, suksek, salang-salang, sulang, sorong, sangkot, surkut, solkot, suluk, sarusur, saudagar, saudaro, sakahanggi, sisolkot, sa, salasa, sinayan, sabtu, sohot, suhut, sehat, sirik, sirit, sorik, suruk, subur, suhul, sonjia, soni, sonima, sonon, sugari, sontak, suluk, sangkak, solop, silop, salap, sunglap, sianyang, sitang, simpang, solot, solkot, solot, songgop, sop-sop, soluk, susuk, selek, salak, suluk, som-som, sungkot, sangkot, salimpot-pot, sangkibung, suhul, siojo, sutan, --------------------

T  >>>  te, tie, tele, tata, tauk, tauk-tauk, tatap, tutuk. teteng, tutung, talak, tap-tap, tuptap, tiop, tiop-tiop, talak, tolang, torjang, tunjang, tojan, tapus, tais, tongos, tungir, torkis, tangkis, tangging, talpok, tapis, tar-tar, tampar, taripar, tor, tortor, tapor, tapor-tapor, tir-tir, tar-tar, turngis, tarida, tas-tas, tiris, tur, tur-tur, togop, torop, tungkap, tingkap, tup-tap, talgang, tolpang, tinggang, tungkap, torap, totop, torkis, tangkas, talpok,tutu, tutuk, timbangan, tombang, timbun, te, taing, tataring, teteng, tolap, tondi, tarsan, tarik, toruk, tandos, taripar, tompas, tas-tas, totas, tama, talgang, tading, tona, tapor, tapor-tapor, totop, tungkir, tusi, tolap, tiris, tin-tin, toru, tarimo, tandos, tungkap, tangkis, tungkot, tingkap, tak-tak, tuktuj. tek-tek, tik-tik, tok-tok, tobang, tobang-tobang, teteng, tolap, tutup, tip-tip, tuk-tuk, torang, torung, turi, turi-turian, tutur, tuter, torop, turup, tirip, tiarap, tolap, tungkis, tangkas, tolong, tungkus, tulak, tulak-tulak, talgang, tauco, tomat, tolbak, teleng, tindang, tindang tak tong, tukang, tangkup, tungkup, tulang, tulbak, tolbak, turbing, tolping, tangging, tondong, tolong, tilang, teleng, tiling, tir-tir, tar, tar-tar, turtar, torjang, tunjang, tungkap, tulak, tulak-tulak, tirip, tip-tip, tang, tung-tang, ting, ting--ting, tor, tortor, tapor, tapor-tapor, tung,tung-tung, tungkek, tuktek, tuktak, tilpuk, topak, tapak, talpak, talpuk, tanding, tondo, tados, tepe-tepe, tele, telek, talak, tolbak, tongkar, tungkir, tungkiri, tungkir-tungkir, tolu, te, tetek, topung, tagor, taji, tajom, talgang, tangkup, tangion, tapis, topas, timbang, targan, taripar, taroban, tu, tusi, tola, totop, tonga, tongkar, tangker, tungkir, tumit, tutuk, turbin, turis, torus, tipus, tampar, tampar-tampar, tunjang, torjang, tolbak, torjak, tor, tortor, turtar, torop, toru, toruk, tapeles, topeles, tona, tunas, tukang, tulmok, togong, tobu, tubu, tibu, tabu, taba, tabas, tondi, ton-ton, tolap, tombom, tolon, talokung, turtar, tuktak, tek-tek, tuk-tuk, tak-tak, tiktak, tuba, tungo, tanga, tangar, tonggi, tangging, taldus, tallus, tal-tal, tupok, tap-tap, totas, tungkap, tupa, turgis, tolon, tolong, tungkir, tungkiri, taruon, tuok, tupa, toba, topo, tolpik, topik, -----------------

U   >>>  uda, udak, usa, usa-usa, udan, urap, udang, ulok, ulok-ulok, upok, undan, upar, ungkar, umban, ulos (selimut tidur), upas, unggas, unggal, ugus, ugus-ugus, ultop, urker, ursa, uncang, ulang, umbilin, ucok, urgit, unik, urgas, upas, ubat, umban, undan, ulpak, olbok, uskus, umban, usir, ujing, uncang, utang, ulang, usuk, onok,  urang, ubak, ubit, ulltop, urkur, unjung, usul, umur, usur, ulpuk, urbat, urkar, urang, urkar, urkur, uban, umban, ulu, urak, urang, orkes, uskes, urup ukur, ukir, upar, uncang, unggil, ulaki, umban, umban-umban, ultop, usgus, urgas, ungkap, ungkapi, ungkal, ulpak, urus, uras, umpit, ultop, umpat, urus, unggal, uskus, ungkil, ucak, ubak, utar, umak, umak-umak, ubit, uwak, urgit, uruk-uruk, until, until-until, ulok, ulok-ulok, unjung, urkar, unggalkon, urdet, ulaki, ulang, urut, utang, uskus, ubur-ubur, urus, urker, urupi, usuk, urak, uraki, ubung, uor, uor-uor, umban, ulpak, utur, untut, ubik, ubit, usor, usir, utuk, uncuk, upar, ube, upil, -------------

V   >>>  viva (badak), valas, vakum, vakum kuliner, vodka, .........................

W   >>>  wayan, wayang, walu, warna, wajar, wajib, waras, warung, wasir, wasiat, wakil, woktu, wokop, wek,  wol, wuwungan, wali, -----------------

X   >>> xerox, xenon (masin fotokopi), xilopon, xiloidina, xilosa, xiloid, xerofil, xenolit, xenofili, -----------------

Y   >>>  yasin, yakin, yoyo, yeye, yar, yaman, yayasan, yongen, yusuf, yunus, yatim, ----------------------

Z  >>>  zodiak, zam-zam, zuhur, zat, zaitun, zulhitjah, zubaidah, zulkifli, zulhairi, zakir, ----------------------


                                                         
                                                               ~0~



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar