Rabu, 07 Juli 2010

Tradisi Musik Mandailing















ORANG Mandailing menyebut sebagian musik tradisional mereka dengan ungkapan “uning-uningan ni ompunta na parjolo sundut i”. Artinya, seni musik dari para leluhur yang diwariskan secara turun-temurun, antara lain seperti ensambel musik gordang sambilan dan gondang boru yang dimainkan pada berbagai upacara adat dan ritual[1], adalah seni pertunjukan yang cukup terkenal dari tano sere Mandailing.

Pada horja siriaon (upacara adat perkawinan)[2] dan horja siluluton (upacara adat kematian yang juga disebut mambulungi)[3], selain gordang sambilan, biasanya gondang boru juga dimainkan untuk mengiringi tortor (tarian adat). Dalam upacara adat ini, pihak-pihak yang menarikan tarian adat tortor antara lain adalah kelompok kekerabatan mora, kahanggi (suhut) dan anak boru.[4] Karena itulah tortor yang ditarikan oleh kelompok-keleompok kekerabatan itu dinamakan tortor mora, tortor suhut dan tortor anak boru. Selain itu, dalam setiap horja godang (pesta besar) biasanya kalangan raja-raja juga menarikan tarian adat tortor, sehingga tortor tersebut dinamakan tortor raja-raja (disebut juga tortor namora-mora), dan tortor yang ditarikan oleh kalangan muda-mudi disebut tortor naposo nauli bulung.

Di masa lalu, gordang sambilan juga dimainkan ketika suatu huta atau banua sedang mengalami bencana seperti merebaknya wabah penyakit menular. Upacara ritual ini dinamakan paturun sibaso atau pasusur begu. Melalui perantaraan seorang medium (tokoh shaman) yang disebut sibaso, seorang datu (tokoh supranatural sebagai pemimpinan ritus tersebut) melakukan komunikasi dengan sibaso untuk mengetahui penyebab bencana sekaligus solusinya. Selain itu, gordang sambilan atau gordang

tano[5] juga dimainkan untuk meminta hujan turun (dengan memainkan gondang mangido udan) ketika terjadi kekeringan (musim kemarau) yang berkepanjangan[6], dengan maksud agar aktivitas pertanian dan kehidupan masyarakat dapat pulih
kembali.

Ensambel gordang sambilan terdiri dari sembilan buah gendang dengan ukuran yang relatif cukup besar dan panjang (drum chime) yang dibuat dari kayu ingul dan dimainkan oleh empat orang. Ukuran dari kesembilan gendang tersebut secara bertingkat mulai dari yang paling kecil dan pendek sampai kepada yang paling panjang dan besar. Tabung resonator dibuat dengan cara melobangi kayu, dan salah satu ujung lobangnya (bagian kepalanya) ditutup dengan membran yang terbuat dari kulit lembu kering (disebut jangat) yang diregangkan dengan rotan yang sekaligus berfungsi sebagai alat pengikatnya.

Kesembilan gendang tersebut mempunyai nama sendiri yang tidak sama di semua tempat di Mandailing. Di Gunungtua-Muarasoro, nama gendang secara berurutan dari yang paling kecil sampai kepada yang paling besar bernama: eneng-eneng, panulus, paniga dan jangat. Selain itu, ada pula sejumlah peralatan musik metalofon yang dinamakan ogung jantan dan ogung boru-boru (lebih besar sedikit dari ogung jantan) yang dimainkan oleh satu orang; mongmongan (tiga buah gong kecil berpincu) yang dimainkan satu orang; doal (sebuah buah gong berpincu yang lebih besar sedikit dari mongmongan) yang dimainkan satu orang; dan talisasayat (simbal) yang dimainkan oleh satu orang; serta sebuah alat musik tiup bernama saleot atau sarune yang dimainkan satu orang. Adapun gondang (repertoar lagu) yang dimainkan dengan ensambel gordang sambilan ini antara lain: sabe-sabe, horja, moncak, sampuara batu magulang, roba na mosok, udan potir, aek magodang, mamele begu dan sarama babiat.[7] Sedangkan ensambel gondang boru terdiri dari dua buah gendang dua sisi berbentuk barrel yang masing-masing dimainkan oleh satu orang. Ensembel gondang boru juga dilengkap dengan berbagai alat musik metalofon dan aerofon seperti yang ada pada ensambel gordang sambilan. Meskipun ensambel gondang boru biasanya hanya dipergunakan untuk mengiringi tarian adat tortor, akan tetapi gondang (repertoar lagu) yang dimainkan dengan ensambel gordang sambilan dapat pula dimainkan dengan ensambel gondang boru.

Di beberapa sopo (dangau) baik di sawah maupun di ladang petani dapat dijumpai sebuah alat musik yang terbuat dari seruas bambu yang disebut etek. Alat musik ini, pada bagian bawahnya dilobangi untuk resonansi suara dan pada salah satu bagian ujungnya diarit untuk membuang bagian dalamnya sehingga membentuk huruf “U”. Etek dimainkan oleh satu orang dengan memakai dua atau tiga buah stik dari kayu. Di samping dapat digunakan untuk menghalau berbagai macam hama tanaman seperti burung dan kera, etek juga digunakan sebagai sarana untuk melatih pola-pola ritmik yang biasa dimainkan pada gordang sambilan. Oleh sebab itulah ada satu ungkapan “etek do mulo ni gondang”, yang artinya etek lah asal mula dari gondang. Sedangkan untuk melatih pola-pola ritmik yang dimainkan pada gondang boru, alat musik yang digunakan adalah gondang bulu. Alat musik ini terbuat dari seruas bambu yang pada bagian bawahnya, sembilunya dibuang dan disayat lebar untuk resonansi suara, dan sembilu pada bagian atasnya dicungkil untuk membuat senar sebanyak tiga buah yang diregangkan dengan menggunakan ”pasak-pasak” (potongan-potongan kayu kecil). Alat musik ini dimainkan oleh satu orang dengan memakai satu dan atau dua buah stik yang terbuat dari sepotong bambu.[8] Selain kedua alat musik tersebut, di sopo tersebut adakalanya seseorang juga menyembunyikan berbagai alat musik tiup agar tidak diambil orang lain, seperti suling, salung, sordam, dan katoid. Alat-alat musik tiup yang terbuat dari bambu ini juga selalu tersedia di sopo podoman, yaitu tempat tidur khusus para pemuda yang terletak di pinggir perkampungan. Oleh karena relung-relung jiwa muda mereka yang penuh dengan gejolak perasaan cinta dan rindu dendam terhadap sang kekasih pujaan hati yang selalu didambakan siang dan malam, sehingga hampir setiap malam hari dari sopo podoman itu terdengar alunan bunyi merdu suling atau salung yang diselang-selingi dengan nyanyian ungut-ungut.

Ketika musim tanam padi tiba, para petani ada yang membuat sebuah alat musikal yang dinamakan gondang aek (kincir air) yang dapat berfungsi sebagai alat pengontrol debit air sawah agar padi yang baru ditanam dapat tumbuh dengan baik. Dan ketika musim panen panen tiba, seringkali didengar bunyi alat musik tiup yang disebut uyup-uyup durame atau olanglio yang terbuat dari puput batang padi. Untuk memperbesar volume suaranya, pada bagian ujungnya dililitkan daun muda dari pohon kelapa yang semakin membesar ke depan yang disebut pokak.

Di Mandailing, baik di areal sawah maupun di ladang dapat ditemukan kolam ikan milik petani yang disebut tobat. Jenis ikan yang dipelihara di dalam tobat antara lain ikan: mas, kalu, mujair dan siroken. Di tobat ini biasanya ditanam secara tersembunyi sebuah alat musikal yang terbuat dari bambu yang disebut dongung-dongung. Alat musikal ini dapat berfungsi sebagai pengontrol debit air tobat. Apabila debit air tobat semakin berkurang, secara otomatis dongung-dongung tersebut mengeluarkan suara berdengung yang cukup keras dan lama, sehingga si pemilik tobat dapat mendengar dan mengetahui bahwa debit air kolam ikannya mengalami gangguan yang nantinya dapat berdampak pada kehidupan ikan peliharaannya.

Pada waktu siang hari biasanya suasana huta (kampung) terasa sepi dan lengang karena warga huta umumnya pergi bekerja di sawah ataupun di ladang masing-masing. Begitupun, tetap ada orang yang tinggal di huta seperti orang-orang yang sudah cukup tua dan beberapa anak gadis yang mengasuh adik-adiknya yang masih kecil-kecil. Tidak jarang, di siang hari yang lengang itu terdengar suara musikal yang dimainkan oleh seorang anak gadis. Alat musikal ini disebut juga uyup-uyup yang terbuat dari selembar bulung tarutung bolanda (daun pohon sirsak) atau terbuat dari sepotong bulung pisang (daun pohon pisang) yang digulung membentuk kerucut, lalu dimasukkan ke dalam mulut untuk ditiup dengan cara dan teknik tertentu.[9] Di samping itu, adakalanya sang kakak (perempuan) menyanyikan lagu nina bobok (lublaby) yang disebut bue-bue, sembari mengayun-ayun adiknya di dalam atau pun di luar rumah untuk menidurkannya.


Gadis-gadis Mandailing juga tidak jarang melakukan aktivitas musikal lain di tapian (tempat khusus mandi di pinggir sungai) setelah mereka selesai mencuci pakaian yang kotor serta peralatan makan dan memasak seperti pinggan, tapak, cendok, sonduk, udon, kuwali, dan lain-lain. Setelah semuanya bersih, lalu mereka pergi agak ke tengah sungai untuk mandi. Pada saat itu, beberapa orang gadis adakalanya berinisiatif melakukan aktivitas musikal yang disebut markatimbung. Dengan cara dan teknik tertentu, mereka secara bergantian saling memasukkan kedua tangan ke dalam air sehingga menimbulkan bunyi musikal yang spesifik. Bunyi musikal yang demikian itu ternyata mampu menarik perhatian kita dan mau meluangkan waktu sejenak untuk mendengarkannya. Meskipun dengan media yang lain, pola bunyi musikal yang relatif sama dengan aktivitas markatimbung ini, dapat kita dengar ketika gadis-gadis dan atau ibu-ibu sedang menumbuk padi secara bergantian di samping rumah mereka dengan menggunakan losung (lesung) dan indalu (antan) yang disebut dengan istilah marsidua atau marsitolu.

Di malam hari yang gelap dan dingin menjelang dini hari, selalu saja ada pemuda dan pemudi yang berkencan di dalam huta. Si pemudi berada di dalam rumah (disebut bagas podoman) sementara si pemuda berada di luar rumah tersebut. Mereka berdialog dengan cara berbisik-bisik melalui sebuah lubang kecil yang terdapat pada dinding rumah (disebut lubang pangkusipan). Oleh sebab itulah kegiatan ini disebut markusip atau mangkusip.[10] Tidak jarang si pemuda membisikan ende-ende (pantun) untuk mengungkapkan gejolak perasaannya, demikian juga si pemudi tatkala mangalus (menyahut) dari dalam rumah dengan cara yang sama. Dan untuk menambah suasana romantis dan kemesraan di antara mereka berdua, tidak jarang si pemuda meniup sebuah alat musik kecil bernama tulila, atau genggong (jaw’sharp), yang terkadang memang diminta oleh si pemudi itu sendiri untuk menghibur dirinya yang sedang kasmaran.

Tidak jauh dari perkampungan mereka, di puncak tor (bukit-bukit kecil) dapat pula ditemukan sebuah alat musikal yang disebut pior (kincir angin). Selain berguna untuk menunjukkan arah hembusan angin, ternyata pior ini pun dapat menghasilkan bunyi yang cukup merdu. Di masa lalu, suara pior ini dimanfaatkan oleh para pemuda dengan memakai mantra-mantra tertentu (ilmu gaib) yang disebut pitunang, untuk menaklukkan hati anak gadis yang didambakannya.

Nyanyian tradisional yang disebut ende sesungguhnya tidak banyak ditemukan di Mandailing. Ende yang dikenal luas di Mandailing Godang adalah sitogol, sementara di Mandailing Julu adalah ungut-ungut, sedangkan jenis ende lain yang disebut jeir biasanya hanya dinyanyikan dalam upacara adat perkawinan Horja Godang sebagai salah satu bagian terpenting dari kegiatan tortor (manortor) yang diiringi dengan ensambel
gondang boru.

Sama seperti keadaan ende, bentuk sastra lisan pun amat sedikit ditemukan di Mandailing. Sastra lisan yang cukup dikenal luas adalah ende-ende (pantun) dan turi-turian (cerita bertutur). Turi-turian yang cukup dikenal luas antara lain Raja Gorga Di Langit, Nan Sondang Milong-ilong, dan Sitapi Surat Tagan. Seseorang yang memiliki keahlian melantunkan turi-turian ini disebut parturi, yang sekarang ini sudah langka ditemukan di Mandailing, bahkan mungkin saat ini tidak ada lagi. Sewaktu melakukan penelitian di Maga Lombang (1990), saya masih sempat menyaksikan keahlian marturi yang disajikan oleh Abdul Hakim Lubis (Jatumaya). Beliau ini juga seorang datu, yang telah berusia 51 tahun.

Salah satu artifak peninggalan sejarah orang Mandailing yang berkaitan dengan seni patung dan pahat adalah tagor, yang di masa lalu ditempatkan pada areal pemakaman kuno yang disebut lobu atau huta lobu. Dan ada pula patung yang disebut pangulu balang, yang ditempatkan di empat sudut huta. Kedua patung batu ini dahulu dipercayai oleh masyarakat Mandailing memiliki tuah (keramat). Selain itu, ada artifak lain berupa patung bernama sangkalon sipangan anak sipangan boru yang terbuat dari kayu yang biasanya ditempatkan di depan Sopo Godang (Balai Sidang Adat), yang tidak jauh letaknya dari Bagas Godang (Istana Raja). Bagi orang Mandailing, artifak bernama sangkalon ini merupakan simbol keadilan atau falsafah hukum adat mereka, sesuai dengan ungkapan yang melekat padanya, yaitu “sipangan anak sipangan boru”. Artinya, siapapun yang telah melakukan kesalahan atau pelanggaran harus diberi sanksi sesuai dengan ketentuan adat dan uhum (hukum) yang berlaku, sekalipun terhadap kaum-kerabat dan anak (laki-laki dan perempuan) sendiri.

Pada atap bagian depan Bagas Godang dan Sopo Godang yang disebut bindu matoga matogu atau tutup ari terdapat ornamen tradisional yang umumnya berbentuk simetris (garis-garis lurus) diberi warna hitam, putih dan merah yang pada hakikatnya mengandung makna-makna penting dan mendalam bagi masyarakat yang hidup sebagai komunitas huta atau banua di tano rura Mandailing.***

Cileungsi, 06 Juli 2010


Catatan kaki: [1]. Di beberapa huta, gondang boru dinamakan juga gondang dua , gondang topap, atau tunggu-tunggu dua. Di masa lalu gordang sambilan digunakan untuk meminta hujan turun ketika musim kemarau panjang terjadi dengan repertoar gondang mangido udan. Selain itu gordang sambilan juga digunakan untuk memuja roh leluhur dengan repertoar gondang mamele begu semasa orang Mandailing dahulu memeluk agama animisme sipelebegu.
[2]. Untuk menghias rumah tempat pelaksanaan horja siriaon, salah satu bahan yang digunakan adalah bulung ni bargot (daun muda pohon enau). Dari daun pohon enau beserta lidinya, orang-orang dewasa seringkali membuat sebuah alat musikal untuk dimainkan anak-anak yang disebut eor-eor. Dapat ditambahkan bahwa salah satu sumber mata pencaharian tambahan di Mandailing adalah menyadap air nira (disebut ngiro) dari pohon enau untuk dijadikan gula aren (disebut gulo bargot). Kegiatan menyadap air nira dari pohon enau ini disebut manggual bargot, yang dalam prosesnya si penyadap pohon enau menyanyikan lagu tertentu dengan harapan agar air nira yang akan diperolehnya cukup banyak.

[3]. Untuk kaum bangsawan (namora-mora) yang meninggal dunia dahulu dibuat satu keranda khusus yang disebut roto, dan repertoar musik yang dimainkan ketika itu adalah gondang roto. Dapat ditambahkan bahwa "For the burial ceremony (Orja Mambulungi), only two of the nine drums are called Jangat. But in the context ceremony itselft the drums are called Bombat". Lihat Z. Pangaduan lubis, "Gordang Sambilan, the Nine Great Drums of the Mandailing People", http://www.mandailing.org/Eng/Homeland01.html. [4]. Suhut adalah kelompok kekerabatan semarga (kahanggi) yang memimpimpin dan mengarahkan pelaksanaan suatu upacara adat atau ritual.
[5]. Gordang tano dibuat di atas permukaan tanah yang bagian bawahnya dilobangi dan kemudian ditutup dengan beberapa belah kayu (papan). Di bagian atasnya diregangkan empat buah senar yang terbuat dari otang (rotan) dan dimainkan oleh lima orang dengan menggunakan stik dari kayu. Keterangan yang lebih mendalam tentang gordang tano ini lihat majalah TEMPO, Edisi: 16 Oktober 1987.

[6]. Z. Pangaduan Lubis antara lain menuliskan, bahwa "During the period of animism, the Gordang Sambilan was employed to evoke the spirits of the Mandailing ancestors to come to the rescue of Mandailing society. The ceremony was called paturuan Sibaso (to call upon the spirits to put the Sibaso into trance). The purpose is to summon the ancestors to come to the assistance of the Mandailing people, when afflicted by a plague, for example. Gordang Sambilan was also employed to bring down the rain during drought and to stop the rain when bad weather caused hardship to people". Lihat Z. Pangaduan Lubis, Op.Cit.
[7]. Gondang sarama babiat dapat dimainkan dengan ensambel gordang sambilan dan gondang boru pada saat seekor harimau yang selalu mengganggu ketenteraman penduduk suatu huta telah mati setelah diburu dan dibunuh oleh warga huta setempat. Seiring dengan kematian harimau tersebut dilaksanakan suatu upacara adat karena orang Mandailing memandang harimau sebagai mahluk yang memiliki kekuatan magis yang juga memiliki adat-istiadat. Ketika gondang dimainkan, seorang laki-laki menarikan tarian (disebut manyarama) yang mirip dengan gerakan-gerakan seekor harimau yang sedang marah.

[8]. Lihat juga Kartomi yang antara lain menuliskan: "A fourth ensemble type consists of bamboo percussion instruments called gondang buluh ("bamboo drums"), plus optional cymbals, gong, kettles and the solo human voice. Four bamboo strings, slit out from the surface of the bamboo body, are raised on bridges and beaten with a pair of small sticks to produce several pitch levels. There are no bowed strings". Margaret J. Kartomi, "The Music of the Mandaling People of North Sumatra", http://www.mandailing.org/Eng/music.html.
[9]. Lihat Edi Nasution, "Uyup-uyup Natarsimo sian Mandailing", Harian Waspada, 1991.
[10]. Istilah yang lebih dikenal luas di kalangan pemuda untuk kegiatan markusip atau mangkusip ini adalah mamarik-marik, yang artinya melakukan "sesuatu" di belakang rumah-rumah penduduk. Uraian yang lebih lengkap mengenai budaya markusip dan martulila ini lihat Edi Nasution, Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, Penang-Malaysia: Arecabooks, 2007.







^^^000^^^000^^^000^^^000^^^000^^^000^^^000^^^


Skenario Ritus PATURUN SIBASO

Narator:

Asa parjolo do ami da marsantabi, sapulu noli santabi tu sude raja-raja, namora-mora, songon i muse tu hatobangan dohot simatobang nami na ami pasangap asa tu sude koum-sisolkot na marlagut di pargalanggan ni kesenianta on. Ngada ale nian ami on na giot mangasaon sinaloan, sanga na giot paboto-botoon.


Aha nangkan ami patidaon di son, i ma na ni dokon ni alak sannari kesenian. Kesenian on na ami tuget-tugeti do on manggali tingon hasomalan sanga tradisi ni alak najolo. Ami buat dia na tama tu kadaan sannari. Marite-ite kesenian on ami pasampe poda taringot tu pelestarian lingkungan, anso nian rap rim ita on sasudeda na manjago kelestarian ni lingkungan, i ma ingananta mandalani angoluan na denggan di Tano Rura Mandailing na martua on.

Songon i mada indokon, di na rinca di na robi, antargan di na tolbak di abornginan, antargan di gala-gala na markaombu di sarumpaet na lobot bunga.

Adong ma ninna sada banua na margorar Torkis Sapanjang. Na so binoto-binoto sude saba ni alak na bahat di banua i sega bangkitanna. Hara ni i roma aleon.

Dibaon ngada adong sadalak pe na mamboto sanga aha dalanna anso sega bangkitan ni saba ni alak nabahat di banua i, bo martahi ma alak nabahat anso ni sapaan Bayo Na Martua asa nabahat parbinotoanna, aha do dalanna anso sega bangkitan ni saba ni alai di banua i.

Dipatama alai ma sude dia-dia na somal binaen muda na giot marsapa di Bayo Na Martua asa bahat parbinotoanna i.

Action:

Pargordang (pemain gordang sambilan) bersiap-siap.

Kemudian Bayo Na Martua naik ke atas pentas diiringkan oleh Bayo Pangundean. Bayo Na Martua duduk dengan membelakangi Tali Manalu, dan Bayo Pangundean duduk di belakangnya sebelah kiri.

Tak lama kemudian naik pula seorang lelaki (Bayo Parandung-andung) ke atas pentas diiringkan oleh seorang lelaki lain yang membawa sirih di atas salipi.

Bayo Parandung-andung duduk di hadapan Bayo Na Martua, kemudian lelaki yang satu lagi mempersembahkan sirih ke hadapan Bayo Na Martua, dan kemudian duduk di samping kanan Bayo Parandung-andung.

Bayo Parandung-andung :

Dijagit Ompung mada jolo Burangir Somba-somba nami on.

Action:

Bayo Na Martua menyentuh sirih yang dipersembahkan ke hadapannya, dan kemudian dia berkata : Dia do nangkat na, dia do ultop na. Dia do hatana, dia do na ni dokna ?

Bayo Parandung-andung :

Santabi Ompung, sapulu noli santabi. Ujujung do tua dohot sahala ni Ompung.
Boti mada Ompung, anso ro pe ami manyurduon Burangir-Somba-somba tu adopan ni Ompung baen na adong do saotik sapa-sapa na giot andungonkon nami. Dia ma i, madung da ro parmaraan na godang na mambaen Si Tuan Na Jaji markancit di banua Torkis Sapanjang on. Madung dua taon marudur laing na sega do sude bangkitan ni saba nami di banua on. Dibaon i, madung lolot situtu ami on sasudena aleon. Di bagasan ni i da Ompung, ngada adong sadalak pe ami na tangkas mamboto aha do ninna dalanna anso sega sude bangkitan ni saba nami di bagasan na dua taon on. Dibaon na songon i mada Ompung anso ro ami tu adopan ni Ompung giot manyapai aha do ninna dalanna anso ro mara na godang i, na mambaen sega sude bangkitan ni saba nami di banuo on. Ipe olong ma roa ni Ompung di ami, dialusi Ompung ma jolo sapa-sapa na ami andungkon on. Tarsaima jolo hatana, hata ni sapa-sapa na tarandungkon au.

Action:

Bayo Na Martua mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya dan memagang Tali Manalu yang tergantung di belakang kepalanya. Bayo Pangundean berdiri dan tegak di belakang Bayo Na Martua.

Pargordang mulai memainkan Gordang Sambilan dengan irama (gondang) Jolo-Jolo Turun. Setelah Gordang Sambilan berbunyi, Bayo Na Martua mulai berdiri perlahan-lahan sambil terus memegang Tali Manalu. Untuk beberapa saat lamanya dia berayun-ayun dengan berpegang terus pada Tali Manalu. Bayo Pangundean memegang pinggang Bayo Na Martua sambil mengiringkan gerakannya mengayun-ayunkan diri.

Beberapa saat kemudian Bayo Na Martua mulai “manyarama” dan Bayo Pangundean melepaskan pegangan dari pinggangnya dan mengikuti gerakan-gerakan “sarama” dengan tetap berada di belakang Bayo Na Martua yang terus “manyarama”. Sambil “manyarama” kadang-kadang Bayo Na Martua untuk beberapa saat memegang Tali Manalu sambil mengayun-ayunkan dirinya. Pada saat yang demikian Bayo Pangundean memegang pinggang Bayo Na Martua.

Pada saat “manyarama”, beberapa kali Bayo Na Martua mendekati Bayo Parandung-andung dan rekannya denganan membuat gerakan-gerakan yang mengancam mereka dengan tatapan mata merah yang penuh amarah.

Setelah cukup lama “manyarama”, akhirnya Bayo Na Martua kembali berayun-ayun pada Tali Manalu dengan wajahnya menengadah ke atas untuk beberapa saat lamanya. Kemudian ia terkulai lemas, wajahnya tertunduk dan tangannya terus berpegang pada Tali Manalu. Beberapa saat kemudian Bayo Pangundean mendekati Bayo Na Martua yang terkulai dengan terus memegang Tali Manalu. Bayo Pangundean mendekatkan telinganya ke mulut Bayo Na Martua. Pada saat yang demikian itu suara Gordang Sambilan makin lama makin perlahan dan akhirnya berhenti. Pada saat suara Gordang Sambilan berhenti, Bayo Na Martua melorotkan dirinya ke bawah sambil terus berpegang pada Tali Manalu. Akhirnya dia terduduk di lantai, sambil terus memegang Tali Manalu.

Bayo Pengundean berdiri di belakangnya. Kemudian terdengar suara Ogung (gong) dipukul tiga kali. Setelah suara Ogung berhenti, dengan tetap berdiri di belakang Bayo Na Martua, Bayo Pangundean berkata kepada Bayo Parandung-andung dan rekannya yang tetap duduk di hadapan Bayo Na Martua.

Bayo Pangundean :

Madung nangkin diusipkon Ompunta na martua on alus ni sapa-sapa na niandungkon muyu i. Pandok ni ibana, anso ro pe mara na mambaen sega bangkitan ni saba di banua Torkis Sapanjang on, dibaon na dung bahat situtu do jolma di baua on na mambaen parange na so pade, parange na sun jahatna, parange na so mangiutkon agiot Na Gumorga Langit Na Tumompa Tano. Dia ma i, madung nina lolot situtu bahat jolma na manyega-nyega arangan, manabai batang ni ayu, dohot do sega suan-suanan na marhasaya, harani i misalna pulungan ni ubat. Ro alak na balok tu banua on maroban sinadongan nia na bahat i manyuru alak margeduk manabai batang ni ayu di arangan na adong di banua on. Mur lolot mur bahatma arangan na sega dipargedukkon kalak. Bo, dibaon i muruk situtu ma nina Na Gumorga Langit Na Tumompa Tano di hita sasudena. Diparo ibana ma mara na mambaen sega sude bangkitan ni saba.

I pe muda na por do roanta anso mantak mara na maroban parkancitan tu angoluan ni Si Tuan Na Jaji Situan Na Torop, ingkon tibu ma ita antak parbuatan natorop di banua on, ingkon tibu ma nina ita paosa parbuatan na manyega-nyega arangan, margeduk manabai batang ni ayu. Muda inda tibu ita paosa i, anggo laing ita padiar do alak margeduk manabai batang ni ayu na adong di tonga arangan di banua on anso dapotan parlaboan na godang alak na balok, bo nangkan tibu ma nina ro parmaraan na lumobi dope godangna. Nangkan mangkatorban ma sude tor asa dolok, rura dohot batang ni aek pe hiang ma sasudena. Muda antong ro parmaraan na songon i ngada be da, nangkan bahat situtu ma alak na malongas angin sipur-puronna di banua on. Bo, tarsongon i mada ninna alus na tarpatangkas Ompunta na martua on taringot di sapa-sapa na diandungkon muyu nangkinondi. Botimada.

Bayo Parandung-andung :

Mauliate godang mada Ompung Na Martua, dia alus na dung tangkas dilehen ko taringot di sapa-sapa na ami andungkon nangkinondi. Ipe da, matumona tingon ari sadari on, rap rim ma nian sude Si Tuan Na Jaji Si Tuan Na Torop di banua on paosa parbuatan na manyega-nyega arangan di banua on, na margeduk manabai batang ni ayu na hum mangalehen parlaboan na godang di alak na balok parmata na siloan, tai maroban mara na godang dohot parkancitan di Si Tuan Na jaji Si Tuan Na Torop di banua on.

Action:

Selesai Bayo Parandung-andung berkata-kata, Gordang Sambilan kembali dimainkan dengan irama Pamulion. Bayo Na Martua berayun-ayun dengan memegang Tali Manalu. Bayo Pangundean mengikuti gerakannya dengan memegang pinggangnya. Kemudian Bayo Na Martua jatuh terkulai ke dekapan Bayo Pangundean. Lampu mati sejenak. Para pemain meninggalkan pentas. Kemudian lampu hidup kembali dan Gordang Sambilan pun berhenti.

Dikutip dari : "Laporan Kegiatan Pargalanggangan Ni Uning-uningan Mandailing dan Ritus Paturun Sibaso oleh Yayasan Bindu Matogu (The Bindu Foundation) Medan" (2001).