Jumat, 02 Mei 2008

Meretas Jalan Kebersamaan, Bersatu Membangun Kembali Mandailing



Sudah sering kita mendengar keluhan betapa sulitnya orang Mandailing bersatu, terutama yang bermukim di perantauan. Perkumpulan atau organisasi sosial orang Mandailing di perantauan silih berganti timbul, kemudian tenggelam atau mati suri. Pada tahun 1980-an dibawah pimpinan H.M.Y. Effendi Nasution (alm) berdiri Himpunan Keluarga Besar Mandailing (HIKMA), yang cukup berpengaruh ketika itu di Sumatera Utara khususnya, tetapi perannya terus menyurut sejak 1990-an hingga sekarang. Perkumpulan lain yang berlandaskan kecendiakawanan, kebangsawanan, kampung asal, marga, dan lain sebagainya juga banyak tumbuh namun hanya sedikit yang mampu bertahan lama. Di antara perkumpulan yang mampu bertahan juga pada umumnya hanya bergerak dalam urusan sosial budaya dan keagamaan, tak terdengar adanya organisasi yang fokus untuk menggerakkan kehidupan ekonomi masyarakat Mandailing. Mengapa sulit sekali orang Mandailing bersatu ?

Meskipun pertanyaan itu mungkin sudah ada di hati setiap warga yang prihatin dengan eksistensi dan kiprah orang Mandailing dalam gerak pembangunan bangsa saat ini dan merasa cemas tentang eksistensi mereka di era globalisasi di depan, toh belum ada jawaban yang memadai untuk itu. Masing-masing kita mungkin punya jawaban, berdasarkan asumsi-asumsi, perkiraan, maupun analisis sekenanya, sehingga akurasinya tak bisa dipertanggung-jawabkan. Karena itulah, tampaknya kita perlu menemukan suatu jawaban ilmiah, dan berdasarkan jawaban itu pula kita menyusun agenda bersama ke depan. Tentu saja hal itu kita butuhkan kalau kita masih memandang perlu untuk kembali membangun Mandailing dalam arti luas dengan semangat kebersamaan dan persatuan.
Pasti banyak yang tidak sependapat dengan penulis kalau dikatakan bahwa kebudayaan dan peradaban Mandailing sedang menuju kepunahan, dan eksistensi orang-orang Mandailing di masa depan hanya bisa teridentifikasi atau terlacak dari sisa-sisa identitasnya berupa penggunaan marga di belakang namanya. Itupun sebatas bagi mereka yang masih mau menggunakannya. Mengapa dikatakan sedang menuju kepunahan ?

Pertama, kita sudah hampir melupakan salah satu kekayaan peradaban kita, yaitu kepemilikan aksara khas yang bernama Surat Tulak-tulak. Hanya bangsa yang berperadaban maju di muka bumi ini yang pernah memiliki aksara sendiri sebagai alat transmisi kebudayaan, seperti yang dimiliki bangsa Mesir Kuno, pemilik aksara Latin, Arab, Cina, Jepang, Sanskerta, dan beberapa suku bangsa yang ada di Indonesia, termasuk Mandailing. Dari sekian banyak bangsa ciptaan Tuhan di bumi ini ternyata Mandailing termasuk dari sedikit yang memiliki peradaban aksara sendiri.

Kedua, bahasa Mandailing sebagai ‘gudang’ penyimpanan paling aman bagi kekayaan sebuah kebudayaan, juga sedang menuju kepunahan, termasuk di kampung halaman. Jika bahasa Mandailing kehilangan kosa kata aslinya, itu adalah pertanda akan musnahnya kebudayaan Mandailing. Coba kita amati kosa kata yang digunakan orang Mandailing di kampung halaman dalam percakapan sehari-hari, mungkin hampir separuhnya adalah unsur serapan dari bahasa lain. Anak-anak yang dilahirkan setiap perantau Mandailing tidak lagi diasuh dengan bahasa ini, berbeda sekali dengan orang Jawa, Batak Toba, Tionghoa, dan lain-lain yang tetap mewariskan bahasa mereka kepada anak cucunya meskipun sudah turun temurun di perantauan. Karena itu, kita melihat rasa kebersamaan, solidaritas, persatuan di kalangan suku bangsa yang disebutkan tadi jauh lebih kuat daripada yang dimiliki oleh orang Mandailing.

Ketiga, sebagai akibat dari semakin hilangnya kekuatan bahasa Mandailing (konsep-konsep budaya yang tertuang secara lisan, tulisan, ornamentasi) dari gerak kehidupan kita, maka memudar pula kepekaan dan antusiasme kita untuk menggali khasanah kekayaan budaya bangsa kita untuk menata kehidupan warga masyarakat Mandailing. Apatah lagi untuk menyumbangkan khasanah kekayaan itu untuk kemajuan peradaban bangsa Indonesia, atau bahkan peradaban dunia. Dengan kata lain, kebudayaan kita menjadi kehilangan konteks dalam gerak kemajuan peradaban bangsa Indonesia sendiri. Kita menjadi (suku)bangsa yang tidak diperhitungkan dalam statistik politik kebudayaan di negeri ini, karena kita sadari atau tidak, kita terima atau tidak, kita telah didefinisikan orang lain dengan identitas yang justru mengaburkan eksistensi kita. Kita sudah terlelap dalam tidur panjang, atau bahkan terkena jebakan ‘sipogang’ hegemoni pihak lain selama bertahun-tahun. Dalam istilah sarkastis Mandailing, kebudayaan kita telah disabot orang lain atau disebut dengan “igadis jongjong!” . Betapa tidak berdayanya kita menghadapi tantangan ! Sudah saatnya kita bangun dan sadar untuk keluar dari jebakan sipogang tadi. Bukankah misalnya, nilai tinggi dari falsafah hukum dan keadilan yang terkandung secara simbolik dalam patung kayu bernama Sangkalon Sipangan Anak Sipangan Boru yang ada di depan pintu Sopo Godang Mandailing, adalah kekayaan budaya yang sepatutnya menjadi alas penataan kehidupan kita sendiri, dan potensial untuk dikontribusikan memajukan peradaban dan budaya hukum di negeri ini ?. Prinsip-prinsip keadilan yang ditawarkan oleh kebudayaan Mandailing ternyata amat sangat sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan yang berlaku universal dan juga prinsip-prinsip hukum dan penegakan keadilan dalam Islam. Mengapa kita tak bangga dengan itu ? Jawaban pertama, pasti karena kita tidak mengenalnya.

Sinondang Mandailing lahir dan sampai di tangan kita pada hari ini berangkat dari suatu kesadaran bahwa kita harus bangun dan sadar akan ketertinggalan selama ini. Tidak sepantasnya lagi kita membiarkan diri dan kebudayaan kita didefinisikan sepihak oleh orang lain. Sudah pasti tidak mengenakkan bagi kita, lebih-lebih bagi catatan sejarah anak cucu kita kelak, bahwa Mandailing pernah ada dalam peta wilayah ekspansi Kerajaaan Majapahit pada abad ke-14 Masehi, tetapi pada abad ke -19 dan awal abad ke-20 mulai dipertanyakan eksistensinya sebagai sebuah entitas etnik, dan pada abad 21 akan hilang di telan bumi. Semoga hal itu tidak terjadi.

Meretas jalan kebersamaan

Melihat perjalanan sejarah betapa sulit, berliku, beronak duri, dan terjalnya jalan yang harus ditempuh untuk bisa mewujudkan persatuan di kalangan orang Mandailing di perantauan, kiranya kita tak perlu tergopoh-gopoh untuk mewujudkan sebuah perkumpulan atau organisasi sosial yang besar atas nama Mandailing. Yang perlu kita hidupkan lebih awal adalah lampu yang memberi cahaya (sinondang) bagi setiap warga Mandailing, agar setiap individu yang terlahir dengan atribut Mandailing melihat jalan terang di hadapannya. Dengan cahaya itu dia tercerahkan bahwa budaya Mandailing telah membekalinya falsafah hidup yang sejalan dengan nilai-nilai universal dan nilai-nilai Islam, dan bahwa budaya Mandailing dapat memampukannya untuk memberi warna indah dalam membingkai mozaik kebangsaan dalam kerangka NKRI. Dengan cahaya itu pula setiap individu warga Mandailing diharapkan mampu melihat kenyataan bahwa untuk besar tidak cukup dilakukan dengan usaha sendiri. Meskipun banyak individu warga Mandailing yang berhasil menjadi orang besar dengan usahanya sendiri, dan karena itu tidak merasa berhutang budi kepada tanah leluhurnya Mandailing, pada titik tertentu dalam batinnya ia selalu merindukan akan akar budayanya. Dan kita menyaksikan dalam fenomena global betapa akar budaya leluhur tetap menjadi pertalian yang tidak bisa dimusnahkan, karena ia menjadi sesuatu yang primus (primordial) dalam kehidupan manusia. Tentu bukan maksud kita untuk menggalakkan semangat etnosentrisme Mandailing untuk membangun kerangkeng eksklusifitas etnik. Sama sekali tidak, karena dalam pandangan kita hal itu adalah wujud miopisme kebudayaan. Semangat yang ingin dibangun adalah: dari Mandailing untuk bangsa Indonesia dan untuk dunia !

Untuk mewujudkan itu perlu pemahaman komprehensif tentang Mandailing, dan perlu kebersamaan untuk mempromosikan falsafah hidup Mandailing untuk dapat menjadi unsur indah dalam mozaik kebudayaan Indonesia dan peradaban dunia. Agar dapat memahami Mandailing secara komprehensif diperlukan wahana yang bisa memfasilitasi proses belajar bersama atau saling berbagi pengetahuan antar warga Mandailing dimanapun berada. Dengan kemajuan teknologi informasi proses transmisi pengetahuan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan murah. Beragam medium pertukaran informasi bisa dipilih, mulai dari buku, surat kabar, majalah, tabloid, jurnal, buletin, radio, situs internet, dan lain sebagainya. Harus kita akui bahwa media publikasi Mandailing nyaris tidak ada kecuali penerbitan buku secara sporadis oleh beberapa penulis. Kita salut kepada orang Batak Toba yang tampaknya sangat menyadari pentingnya media informasi dalam percaturan politik kebudayaan, sehingga hampir semua jenis media mereka manfaatkan untuk mempromosikan kebudayaannya.

Bersatu membangun (kembali) Mandailing

Tumbuhnya kebersamaan adalah modal sosial (social capital) untuk berkecambahnya persatuan. Rasa kebersamaan akan lebih mudah tumbuh jika terdapat kesepahaman tentang persoalan-perosalan yang dihadapi bersama. Oleh karena itu, untuk dapat mewujudkan rasa persatuan dalam rangka membangun kembali Mandailing kita perlu menggali, mempelajari, menganalisis persoalan-persoalan yang dihadapi oleh orang Mandailing di kampung halaman, di perantauan, di kalangan generasi muda, kalangan generasi tua, di kalangan warga Mandailing yang miskin, juga di kalangan mereka yang berkecukupan, warga Mandailing yang berpendidikan tinggi dan tidak berpendidikan, di kalangan perantau generasi awal, maupun perantau generasi baru. Pendeknya, kita perlu memahami peta permasalahan berupa kelemahan dan kekuatan, peluang dan ancaman maupun tantangan yang dihadapi segenap lapisan dan golongan orang Mandailing saat ini.

Tulisan ini bermaksud mengajak kita semua yang menyebut diri sebagai orang Mandailing untuk bersama-sama menyumbang pemikiran, informasi, fakta dan data untuk kita pelajari dan analisis bersama, untuk menemukan peta permasalahan yang kini dihadapi oleh warga dan komunitas Mandailing. Harapannya, berdasarkan peta permasalahan itu kita bisa secara bersama-sama pula menemukan alternatif-alternatif pemecahan masalah, sehingga kita dapat membangun peta jalan (road map) untuk memajukan kembali kebudayaan Mandailing dalam pengertian yang luas. Pada saat kita telah memiliki peta jalan tersebut, kita akan dapat menentukan bentuk atau wujud persatuan (dalam arti kelembagaan, organisasi) yang lebih ideal dan efektif untuk dibangun untuk menampung aspirasi dan kontribusi dari warga Mandailing yang cukup beragam latar belakang. Kita yakin bahwa sangat banyak orang Mandailing yang ingin berkontribusi bagi kemajuan Mandailing, namun belum menemukan peta jalan yang ia nilai ideal untuk mewujudkannya. Mari bersama-sama membangun peta itu. ***

Source: http://amalmadina.blogspot.com/2007/07/merentas-jalan-kebersamaan-bersatu.html
*Zulkifli B. Lubis, Kepala Departemen Antropologi FISIP USU Medan