Tampilkan postingan dengan label Gordang Sambilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gordang Sambilan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 September 2014

Orja Godang di Chemor-Malaya


Denyut Kehidupan Halak Mandailing di Malaysia



Perjalanan kami ke Perak bermula dari undangan seorang kerabat. Belakangan kerabat itu saya ketahui sebagai saudara tiga pupu. Ompung (nenek dan kakek) kami saudara sepupu, ayah dan ibu kami dua pupu. Dan kami satu moyang.
Kerabat ini menikahkan salah seorang anak lelakinya. Ia orang Mandailing yang berasal dari Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Puluhan tahun telah ia tinggalkan tanah kelahirannya untuk merantau ke Tanah Melayu. Asam garam perantauan telah banyak dilaluinya. Kini bisa dikatakan ia orang yang berhasil di perantauan.
Saya memanggilnya Bang Abduh. Lubis marganya. Di Kotanopan, Bang Abduh termasuk salah seorang keturunan raja. Untuk itu, pesta putranya pun ia persiapkan mengikut adat Mandailing.
Bang Abduh Lubis ini aktif di tengah-tengah masyarakat, sesuai dengan darah bangsawan yang melekat pada dirinya. Ia dianggap sebagai tokoh Mandailing di Negeri Perak. Ia tinggal di Chemor.
Chemor merupakan salah satu daerah yang banyak dihuni orang-orang Mandailing di Perak. Dahulu mantan wakil presiden Indonesia,  Adam Malik, sering bermain ke sini di masa kecilnya. Ketika ada tugas kenegaraan ke Malaysia pun ia selalu sempatkan untuk singgah. Ibunya, Siti Salamah Deto, berasal dari Chemor.
Tak tanggung-tanggung, Bang Abduh pun mengundang saudara-saudaranya dari Medan, Jakarta dan Mandailing Natal. Semuanya 35 orang. Seandainya mereka satu pesawat, seperempat badan pesawat itu isinya saudara Bang Abduh.
Pesta di gedung dibuat pada hari Minggu, 22 Juni 2014. Ensambel gordang sambilan ditampilkan di pintu masuk gedung. Tapi sejak hari Sabtu tim keseniangordang sambilan sudah menghibur tamu-tamu Bang Abduh dari Indonesia. Semalam suntuk mereka manortor (tarian tradisional Mandailing, Angkola, Toba, Simalungun) bersama di rumahnya.
Kesenian gordang sambilan terdiri dari empat orang penabuh sembilan gendang, 12 gadis penari tortor dan seorang peniup seruling merangkap penyanyi yang biasa disebut par onang-onang. Lagi ada 4 orang penabuh gong besar dan kecil. Mereka semua keturunan Mandailing yang meneruskan tradisinya di Tanah Melayu. Sebagian besar sudah menjadi warga negara Malaysia. Tim kesenian ini khusus didatangkan dari Kuala Lumpur ke Chemor dengan 1 truk dan sebuah bus.
Menabuh gordang sambilan.
Menabuh gordang sambilan.
Gendang ditabuh. Terlihat ada di antara hadirin matanya berkaca-kaca. Agaknya ia terngiang akan tanah leluhurnya. Par onang-onang dengan suaranya yang berat mulai melantunkan bait demi bait lagunya. Isinya nasihat perkawinan dan kisah kehidupan kerabat-keluarga yang saling bahu membahu untuk saling memuliakan. Sesekali ia meniup serulingnya, bernyanyi dan meniup lagi.
Pengantin berdiri. Pengantin wanita menari di depan dengan gerakan yang lembut, tetap di satu tempat. Suaminya manortor dan berputar perlahan dari belakang ke depan sambil mengepakkan sayap ulos di pundaknya. Seperti sebuah simbol, biarkan aku yang keluar, engkau tetaplah di rumah menjaga segala yang kita punya. Kemanapun aku pergi, hatiku tetap bersamamu. Tekadku sudah bulat, akan melindungi hidupmu sepanjang hayatku.
Mangulosi.
Mangulosi.
Dayang-dayang 12 penari tortor,  gadis Melayu nan cantik bertudung dan berulos pun menari mengikuti rentak pengantin. Semakin lama rentaknya semakin laju. Penabuh gendang tambah semangat.
Penabuh 9 gendang ini 4 orang. Tiga penabuh tak banyak goyang. Penabuh paling ujung mulai beraksi goyang ke kanan dan kiri. Dialah pemimpin rentak gendang. Kalau dia menabuh kuat dan laju, yang lain pun menyesuaikan iramanya. Ia bisa berhenti kapan ia suka. Bisa saja tiba-tiba ia diam beberapa saat. Berdiri seperti patung dengan satu kaki dan satu tangan diangkat. Mata terpejam. Ketika menabuh lagi, irama gendang tak rusak. Tetap enak didengar. Rentak gendang itu seolah-olah telah menyatu dalam dirinya.
Seperti punya daya magis, tabuhan gendang membuat kaki penonton bergoyang. Jari-jari tangan membuka dan menutup mengikuti tortor pengantin. Par onang-onang semakin syahdu suaranya. Sebagian hadirin tak mampu membendung airmata. Sepertinya ia sedang menyesal, kenapa dulu kawin tidak pakai gordang sambilan.
Bang Abduh berbisik kepadaku. “Kalau bukan karena keturunan raja, aku tak berani membuatnya.” Bagi orang Mandailing tak semua kalangan boleh pesta menggunakan tradisi lengkap dengan gordang sambilan.
Selepas berbisik, ia larut dalam goyangan tortor meng-ulosi menantunya. Agaknya ia sudah biasa, lentur badannya waktu manortor. Lenggok tubuhnya tak kaku mengikuti rentak tabuhan sembilan gendang. Penabuh bertambah semangat melihat dia manortor.
Mangulosi adalah tarian memakaikan kain ulos kepada menantu baru, sebagai tanda kebesaran hati diterimanya sang menantu sebagai keluarga baru. Seperti sebuah isyarat; bukan hanya putraku. Aku dan seluruh keluargaku akan menjaga kehormatanmu, selagi engkau berada bersama kami. Hadirin gegap gempita menyambutnya dengan teriakan:
“Horas…horas…horas…” (selamat, selamat, selamat).
***
Gadis Padang Sidempuan manortor di KL, Malaysia.
Gadis Padang Sidempuan manortor di KL, Malaysia.
Orang Mandailing diperkirakan sampai ke Tanah Melayu lebih dari 200 tahun silam. Komunitasnya banyak tersebar di Negeri Perak, Negeri Sembilan, Selangor dan Kuala Lumpur.
Di Perak, mereka tinggal di daerah Batu Kurau, Ayer Keroh, Taiping dan Chemor. Di Negeri Sembilan terdapat daerah yang namanya Jelebu, Kampung Kerangai. Konon bekas gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar, sudah sampai ke sini.
Saya pernah menghadiri acara rumah terbuka orang-orang Mandailing di Kampung Kerangai ini. Di situlah pertama kali saya lihat di Tanah Melayu ini semua orang–baik anak-anak maupun dewasa–berbahasa Mandailing. Suasana kampungnya pun mirip kampung-kampung di Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal. Banyak rumah panggung, di bawahnya mereka beternak ayam. Jamuan favorit mereka bulung gadung atau daun ubi tumbuk dan rendang yang dimakan dengan lemang. Kedatangan tamu-tamu terhormat disambut dengan ulos dan tortor.
foto lama
Di Selangor, orang-orang Mandailing banyak terdapat di daerah Hulu Langat. Dahulu seorang hulubalang Sultan Selangor di Hulu Langat adalah orang Mandailing. Dia orang terawal yang membuka kawasan itu menjadi sebuah perkampungan. Namanya kini diabadikan menjadi nama sebuah sekolah di Hulu Langat, Sekolah Kebangsaan Abdul Jalil. Kini Hulu Langat terus berkembang menuju daerah wisata andalan.

Di Perak, seorang Mandailing bernama Datuk Setia Raja bin Bendahara Raja pernah dipercaya Sultan sebagai Ketua Mandailing. Ia hidup di abad 18. Dalam lawatan saya ke Lost World of Tambun, Ipoh, tertulis kaum Mandailing banyak bekerja sebagai penambang timah di Lembah Kinta. Mereka dipakai karena seni dan kepakarannya dalam mendulang dan mencuci timah.
Adik kandung ompung (nenek) saya sendiri sudah sampai ke Malaysia pada kurun 1930-an. Jauh sebelum Malaysia mencapai kemerdekaannya. Namanya Muhammad Jamil Lubis. Ia harus rela meninggalkan kampungnya di Hutadangka, Kecamatan Kotanopan, Sumatera Utara, setelah bergabung dengan gerakan gerilya melawan Belanda.
Ia diburu. Hampir setiap hari tentara Belanda masuk ke kampung dan menggerebek Bagas Godang Hutadangka, tempat tinggalnya. Bagas godang ini ibarat istana di kampung. Di sinilah tempat masyarakat berkumpul dan berembuk bila ada persoalan. Setiap hari Jumat dibagi-bagikan daging gratis bagi penduduk dari tempat ini.
Hampir saja bagas godang dibakar. Nyawanya terancam, lalu nekat menyeberang Selat Melaka dengan perahu kecil. Tiba di Klang, ia melanjutkan perjalanan ke Kuantan, Pahang. Menyunting gadis tempatan dan menikahinya di sana.
Agaknya mata-mata Inggris sudah mencium jejaknya. Tak ingin kepentingannya terganggu, Ompung Jamil ditawari bergabung sebagai tentara Inggris Malaya. Ia bertugas mengamankan Kuantan. Awalnya ia ragu. Tapi nalurinya berkata kalau ia bergabung, mungkin bisa menyerang kembali Belanda di kampungnya.
Orangnya tinggi besar dan gagah. Bila bicara, suara bas-nya membahana. Banyak orang segan padanya. Kalau masuk pasar dan patroli, orang tak berani menatap matanya. Bila terlanjur menatap, mereka akan segera menundukkan pandangannya. Yang melihat sosoknya dari kejauhan, akan pergi berbalik arah.
Begitupun, Ompung Jamil ini tetap rendah hati. Berbagai bintang penghargaan tentara Inggris Malaya telah tersemat di dadanya. Setelah kemerdekaan, ia memilih jalan sebagai pengusaha. Selepas konfrontasi Indonesia-Malaysia, setahun sekali ia pulang ke tanah leluhurnya. Ia tidur di Bagas Godang Hutadangka, tempat ia dilahirkan dan sejarah hidupnya bermula.
mmexport1394495159034_resized
Kepulangannya selalu dinanti-nanti warga kampung. Mulai dari senior, rekan sebaya hingga dua generasi di bawahnya akan kebagian oleh-oleh. Baik yang masih berhubungan darah maupun tetangga. Tentu saja kami cucu-cucunya di Medan senang sekali dengan kedatangannya. Biasanya sebulan sebelum tiba, ia menyuratiinang (ibu)-ku. Inang akan membalas suratnya setelah menanyakan oleh-oleh apa yang kami inginkan. Memang begitu pesannya. Kami bebas meminta apa saja darinya. Kebiasaan ini menular ke anaknya yang sudah menjadi warga Malaysia. Melaluinya-lah persaudaraan kami dengan anak, cucu dan cicitnya di Kuantan tetap terjalin hingga kini.

Kini sudah banyak keturunan Mandailing yang menduduki posisi penting sebagai pejabat negara di Malaysia. Di antaranya Tan Sri Muhammad Thaib, bekas menteri besar (gubernur) Selangor. Mantan panglima angkatan laut Malaysia, Laksamana Madya Datuk Muhammad Zain Salleh, juga keturunan Mandailing. Seorang artis film Malaysia selalu bangga melekatkan marga di belakang namanya, Dato’ Tamimi Siregar.
***
Halak Mandailing Malaysia (HMM) adalah organisasi Mandailing yang diakui oleh Kerajaan Malaysia. Tahun 2012 di awal penubuhannya, organisasi ini berhasrat ingin melestarikan adat dan budaya Mandailing di Tanah Melayu.
Mereka menggandeng Menteri Penerangan, Komunikasi dan Budaya Malaysia pada waktu itu, bersama-sama mendaftarkan warisan kesenian Mandailing sebagai warisan yang patut dilindungi kerajaan. Poin yang penting adalah melestarikan taritortor dan gordang sambilan Mandailing. Tujuannya agar Kerajaan Malaysia mengambil perhatian kesenian ini supaya sejajar dengan kesenian lain yang ada di Malaysia seperti China, India, Jawa dan Bugis. Mereka berharap kelak kerajaan menjadikannya sebagai kesenian resmi untuk ditampilkan di acara-acara kenegaraan. Lebih jauh lagi berusaha memperkenalkannya ke dunia internasional. Bukan kesenian yang hanya ditampilkan di belakang rumah.
Tentu saja mereka tidak melupakan asal-usul kesenian itu. Disebutkan dalam isinya bahwa kesenian ini berasal dari Sumatera Utara. Baru sehari berita ini dikabarkan media, berbagai gelombang protes telah terjadi di Indonesia. Sejumlah seniman dan budayawan yang reaktif berkumpul di Taman Budaya Sumatera Utara, dan menuding Malaysia kembali mengklaim budaya Indonesia sebagai milik mereka. Tapi mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, dan mereka gagal membaca misi kebudayaan mereka sendiri, yaitu menyebarkan nilai-nilainya sejauh mungkin di dunia.
Sebelum menteri mengumumkannya, HMM lebih dulu berinisiatif mengunjungi tanah leluhurnya di Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan. Sebanyak 187 orang turut serta. Dalam misi itu mereka bertemu dengan pemerintah setempat dan ketua-ketua adat Mandailing di sana. Niat baik mereka mendapat dukungan dari raja-raja Mandailing Sumatera Utara.
Dalam usahanya melestarikan budaya yang turun temurun dibawa leluhurnya, HMM tak berhenti hanya di situ. Mereka terus berupaya memperkenalkan tradisi Mandailing kepada generasi mudanya. Selain mengamalkan bahasa dan kesenian Mandailing, makanan juga menjadi perhatian. Dalam salah satu acara rumah terbuka di Perak, mereka mendatangkan tukang masak daun ubi tumbuk khusus dari Hutapungkut,  Mandailing Natal.
Biasanya majelis rumah terbuka mereka adakan pada hari raya. Waktu dibuat di KL, mereka mendatangkan penari tortor dan penabuh gordang sambilan langsung dari Padang Sidempuan.
Setahun kemudian perjuangan Halak Mandailing Malaysia membuahkan hasil. Hasilnya untuk halak Mandailing Indonesia. Pertama kalinya dalam sejarah, sambutan kemerdekaan Indonesia tahun 2013 di Istana Negara Jakarta, dimeriahkan dengan penampilan gordang sambilan dan tortor sebagai acara terdepan. Di hadapan tamu-tamu terhormat antarabangsa, presiden bangga berjalan dengan selempang ulos.
***
Di ibunegara, Kuala Lumpur. Seorang tokoh Mandailing asal Sidempuan tengah mencapai puncak kejayaannya. Namanya Khairuddin Harahap. Ia pengusaha, tokoh masyarakat Indonesia di Malaysia dan aktif membantu TKI yang bermasalah. Dalam kantornya di pusat ibukota, terpampang ulos dan foto kawin orangtuanya. Foto hitam putih itu sepasang pengantin yang menggunakan bulang, pakaian pengantin tradisi Mandailing. Juga ada sekeping kertas berbingkai menggambarkan silsilah keluarganya. Orang Mandailing menyebut silsilah ini dengan tarombo.
Ia memiliki beberapa syarikat. Salah satu nama syarikat yang dibuatnya diambil dari Bahasa Mandailing, Angkola Travel Sdn Bhd. “Bagaimanapun tradisi ini harus diturunkan. Saya tak ingin anak cucuku tumbuh tak mengenal adat leluhurnya. Ini jati diri. Setinggi apapun pencapaian kita di muka bumi ini, kalau tak punya jati diri maka kita akan lemah,” ujarnya.
***
(Danil Junaidy Daulay)
Danil Junaidy Daulay adalah mantan atlit renang dan aktivis pers kampus di Medan. Kini ia tinggal bersama istri dan dua anak lelakinya di KL, Malaysia, dan bekerja sebagai instruktur renang.

========================
sumber: http://sumateraandbeyond.com/2014/06/denyut-kehidupan-halak-mandailing-di-malaysia/


Senin, 19 November 2012

Agama & Adat Mandailing


DI MANDAILING, “OMBAR DO ADAT DOHOT UGAMO”
Oleh: Samsyir Alamsyah Batubara


Perkataan “ombar do adat dohot ugamo”, yang secara harafiah artinya “adat dan agama seiring-sejalan”, adalah sebuah ungkapan yang cukup sering diucapkan oleh orang Mandailing, baik itu warga masyarakat biasa, tokoh masyarakat, tokoh adat, maupun tokoh agama. Ungkapan “ombar do adat dohot ugamo” atau ada juga yang mengatakannya dengan ungkapan “ombar do adat dohot ibadat” ini belum ada semasa orang Mandailing dahulu memeluk sistem kepercayaan lama (animisme) yang disebut Si Pelebegu, melainkan muncul setelah orang Mandailing mayoritas memeluk agama Islam di sekitar awal abad ke-20.

Dalam sistem kepercayaan Si Pelebegu di masa lalu itu orang Mandailing menyembah roh-roh dari para leluhur (nenek moyang) mereka yang disebut Begu. Menurut sistem kepercayaan animisme Si Palebegu ini, jumlah begu tidak hanya satu tetapi banyak dan menghuni berbagai tempat. Ada yang menghuni hutan, pohon-pohon kayu besar, sungai, batu besar, dan sebagainya. Misalnya begu yang bernama Begu Tagasan dipercayai sebagai begu pelindung. Begu Tagasan ini pun banyak macamnya, seperti begu pelindung bagi orang-orang yang satu marga, yang satu keturunan, yang satu kakek, atau pelindung orang-orang atau tokoh-tokoh tertentu. Dalam buku Turi-turian Ni Raja Gorga Di Langit Dohot Raja Suasa Di Portibi (Mangaraja Sorik Marapi, 1957) disebutkan ada begu yang bernama Boru ni Namora Nam Puna Tano (puteri yang mulia, pemilik tanah); Boru Ni Ambolungan Bulu Begu Na Pahae Paulu di Batang Aek (Puteri Ambolungun Bambu Begu yang ke hilir ke hulu mandi di sungai); dan Tuan Jonjang Balentung Na Mian Di Pangulu Balang (Tuan Jonjang yang menempati patung penjaga). Dalam pada itu, dahulu ada juga orang Mandailing yang percaya bahwa ada orang-orang tertentu yang dapat memelihara begu dan dapat disuruhnya untuk melakukan apa yang dikehendakinya, seperti membuat orang sakit atau sebaliknya menyembuhkan penyakit. Menurut keyakinan orang Mandailing pada masa pra-Islam ini, dari semua begu yang dipuja tersebut terdapat tokoh tunggal atau satu tokoh yang maha kuasa yang oleh warga masyarakat pada masa itu dinamakan Na Gumorga Langit Na Tumompa Tano (yang mengukir menciptakan langit, yang menempati tanah atau bumi). Adapun yang disebut sebagai Na Gumorga Langit Na Tumompa Tano ini dianggap berada di atas segala-galanya karena dialah yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya.

Perlu diketahui bersama bahwa keterangan atau infomasi mengenai sistem kepercayaan Si Pelebegu ini sekarang sudah sangat sulit diperoleh karena sebagian besar warga masyarakat Mandailing sendiri pun tidak banyak lagi yang mengetahui seluk-beluknya. Namun demikian, beberapa orang tua di Mandailing pernah mengemukakan bahwa dalam sistem kepercayaan lama Si Pelebegu ini ada dua tokoh utama yang memiliki peran yang cukup penting, yaitu Si Baso dan Bayo Datu.

Dalam banyak hal, Si Baso sangat dibutuhkan oleh komunitas Huta atau Banua (“kerajaan kecil”) untuk melakukan hubungan (komunikasi) dengan alam gaib atau roh-roh leluhur karena Si Baso diyakini dapat berperan sebagai medium (perantara) untuk itu, di mana melalui suatu upacara ritual tertentu Si Baso dapat dirasuki oleh roh leluhur untuk memberi petunjuk guna mengatasi berbagai macam bala (malapetaka) yang sedang menimpa warga Huta, misalnya seperti terjadinya kemarau panjang yang mengganggu aktivitas pertanian masyarakat dan timbulnya penyakit menular yang mewabah. Upacara ritual yang dilaksanakan untuk meminta pertolongan roh leluhur itu, yang dinamakan Pasusur Begu atau Paturun Si Baso, dilakukan melalui perantaraan Si Baso dengan bimbingan dan arahan dari Bayo Datu. Pada upacara ritual Pasusur Begu atau Pasusur Si Baso ini dimainkan pula ensembel musik adat Gordang Sambilan dengan memainkan gondang (irama musik) khusus yang dinamakan Mamele Begu.

Hingga sekarang Bayo Datu masih memiliki peran dalam kehidupan masyarakat Mandailing. Bayo Datu dikenal dan dibutuhkan sebagai traditional healer (penyembuh tradisional) atau sebagai medicine man (dukun untuk mengobati). Di setiap Huta atau Banua biasanya terdapat beberapa orang Bayo Datu, ada Bayo Datu yang dapat menyembuhkan beberapa penyakit, namun ada pula Bayo Datu yang menjurus kepada spesialisasi penyembuhan penyakit-penyakit tertentu seperti misalnya Datu Rasa khusus untuk menyembuhkan orang yang terkena rasa (racun), Datu Ipon adalah dukun yang khusus menyembuhkan orang yang mengalami sakit gigi, dan Datu Natarsilpuk adalah dukun khusus untuk mengobati orang yang terkilir dan patah tulang.

Namun kedudukan dan peran Bayo Datu jauh lebih luas lagi di masa-masa sebelumnya. Bayo Datu dapat menentukan  waktu-waktu yang tepat dan baik untuk mengerjakan sawah dan ladang, pelaksanaan upacara adat dan ritual, maupun untuk memasuki rumah baru dan memberi nama anak yang baru lahir. Di samping itu, kemampuannya yang mumpuni dalam meramal diperlukan untuk melihat kapan datangnya suatu bencana atau sebaliknya keberuntungan, dan ilmu gaibnya yang luar biasa itu dibutuhkan pula untuk menangkal atau menyembukan penyakit akibat guna-guna. Seorang Bayo Datu selalu diserahi tanggungjawab untuk memimpin berbagai upacara adat dan ritual karena dia dipandang sebagau “gudang ilmu”. Dalam konteks sistem pemerintahan di masa lalu, Bayo Datu sebagai pendamping Raja yang mengepalai kepemimpinan tradisional Huta atau Banua yaitu Namora Natoras, memiliki kemampuan yang luar biasa pula dalam memberikan berbagai macam kearifan tradisional (traditional wisdom) yang sangat dibutuhkan guna kesempurnaan hidup keseluruhan warga Huta.

Namun dalam perkembangannya kemudian, seiring dengan masuknya agama Islam ke Mandailing dan mayoritas telah menjadi pemeluknya yang taat, para ulama Islam terus berusaha untuk mengikis habis kepercayaan animisme Si Pelebegu. Begitupun, sampai sekarang di antara orang Mandailing masih ada yang melaksanakan berbagai upacara adat yang erat kaitannya dengan sistem religi kuno Si Pelebegu, seperti misalnya ritus mangupa-upa (upacara memanggil “tondi” guna membangkitkan kembali semangat hidup seseorang), dan marpangir (tradisi berlangir di sungai), sehingga pelaksanaan ritus-ritus tersebut selalu menjadi sumber perdebatan yang tak kunjung habis antara tokoh-tokoh adat dan para ulama Islam di Mandailing.

Sehubungan dengan itulah, entah bagaimana prosesnya, lalu kemudian muncul ungkapan “ombar do adat dohot ugamo”, yang boleh dikatakan merupakan suatu “sejarah pemikiran” yang mengungkapkan proses dinamika agama Islam yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat Mandailing, sehingga terjadi titik temu dan perpaduan antara ajaran adat-istiadat (lama) dengan agama Islam sebagai sebuah sistem nilai dan norma yang baru. Hal ini merupakan puncak dari proses, pertemuan, persentuhan, perbenturan, penyesuaian dan perpaduan antara adat-istiadat orang Mandailing yang telah ada sebelumnya di wilayah Mandailing sebelumnya dengan ajaran agama Islam yang datang kemudian.

Kurang lebih sama keadaannya dengan sistem kepercayaan animisme Si Pelebegu, bahwa sampai sekarang pun belum pernah ditemukan tulisan yang mengemukakan dengan pasti kapan waktunya agama Islam masuk ke Mandailing untuk pertama kalinya. Namun demikian cukup banyak orang yang berpendapat bahwa yang pertama kali mengembangkan agama Islam di Mandailing adalah kaum Paderi yang datang menyerbu ke Mandailing dari Minangkabau. Pendapat ini dibantah oleh Lance Castles (2001:14) yang mengatakan bahwa sebelum kaum Paderi masuk ke Mandailing dan menyerang pada tahun 1820, beberapa pemimpin orang Mandailing telah beragama Islam. Hal ini dapat berarti bahwa agama Islam sudah mulai dianut tokoh-tokoh pemimpin orang Mandailing menjelang dekade kedua abad ke-19. Hal ini diperkuat pula oleh hasil penelitian Basyral Hamidy Harahap (2004: 283), yang mengatakan bahwa “menurut cacatan Wilter, ada dua raja Mandailing yang sudah memeluk agama Islam sebelum Paderi, ialah Raja Gunung berdiam di Gunung Baringin dan Mangaraja Gunung Kuria Huta Siantar. Mereka memerintah kira-kira setengah abad sebelum perang berkecamuk di Mandailing”. Meskipun ada keterangan yang demikian itu, menurut Z Pangaduan Lubis (2010: 52), tidak dapat berarti bahwa kedua tokoh raja tersebutlah yang merupakan dua orang pertama pemeluk agama Islam di Mandailing dan juga tidak menunjukkan bukti laporan yang sebenarnya mengenai agama Islam pertama kali masuk ke Mandailing dan siapa yang membawanya pertama kali masuk ke Mandailing, serta dari mana datangnya ke Mandailing.

Masih menurut Basyral Hamidy Harahap (2004: 282) bahwa “Perang Paderi bukanlah satu-satunya gerakan Islamisasi di Madina. Buktinya kira-kira 128 tahun sebelum perang yang dahsyat itu (Perang Paderi), raja-raja Natal telah membuka perjanjian dengan pengusaha VOC yang di dalam teks (perjanjian) disebutkan bahwa perjanjian itu dibuat di bawah sumpah berdasarkan Al-Quran. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu, abad 18, Islam sudah masuk ke Natal. Ada kemungkinan masuknya agama Islam ke Natal ialah dari Pelabuhan Barus yang tidak jauh dari Natal”. Dalam hal ini, Z Pangaduan Lubis (2010: 53) juga sependapat bahwa “agama Islam pertama kali ke Barus, yang letaknya relatif tidak jauh dari Natal, sehingga ada kemungkinan dari Barus lah kemudian agama Islam masuk ke Natal dan selanjutnya dari Natal masuk ke Mandailing sekitar abad 18”.

Kendati orang Mandailing sekarang umumnya telah memeluk agama Islam, namun sistem kekerabatan orang Mandailing tetap menganut patrilineal, di mana hubungan kekerabatan mereka dapat ditinjau berdasarkan pertalian darah dan perkawinan yang terpola. Dalam hal ini, orang Mandailing mengelompokkan diri ke dalam tiga kelompok kekerabatan yang menjadi tumpuan dasar dari berbagai aktivitas sosial-budaya mereka. Menurut adat-istiadat, ketiga kelompok kekerabatan itu masing-masing berkedudukan sebagai mora (kelompok pemberi anak gadis), anak boru (kelompok penerima anak gadis), dan kahanggi (kelompok kekerabatan yang se-marga), di mana ketiga kelompok kekerabatan tersebut terikat erat satu sama lain berdasarkan hubungan fungsional dalam satu sistem sosial yang dinamakan Dalian Natolu, yang artinya “tumpuan yang tiga” atau “tiga tumpuan”. Dengan menggunakan sistem sosial Dalian Natolu itulah orang Mandailing mengatur dan melaksanakan berbagai aktivitas sosial-budayanya, serta membentuk satu “persekutuan hukum” (adattrechts gemeenschap) yang nama aslinya adalah Janjian.

Selain ketiga kelompok kekerabatan mora, kahanggi dan anak boru tersebut di atas, orang Mandailing juga mengenal kelompok kekerabatan lain sebagai “kelompok kekerabatan tambahan” yang sebenarnya berasal dari ketiga kelompok kekerabatan inti (mora, kahanggi dan anak boru), yaitu mora ni mora (kelompok kekerabatan mora daripada mora) dan pisang raut atau kijang jorat (kelompok kekerabatan anak boru daripada anak boru). Di samping itu ada pula kelompok kekerabatan yang disebut kahanggi pareban, yaitu kelompok kekerabatan yang terdiri dari beberapa “keluarga batih” yang berlainan marga namun mereka sama-sama atau merupakan anak boru dari satu keluarga yang ber-marga tertentu.

Berdasarkan pertalian darah terdapat kelompok kekerabatan yang dinamakan saompu parsadaan (satu nenek moyang yang sama), saompu (satu kakek), sabagas (se-rumah), saudon (se-periuk) dan saama-saina (se-ayah dan se-ibu). Kelompok kekerabatan yang disebut saompu adalah kelompok orang-orang se-marga yang merupakan cucu dari beberapa orang ompung (kakek) yang bersaudara kandung; sabagas adalah sejumlah anak se-marga yang bersaudara kandung; saudon adalah kumpulan orang-orang se-marga yang merupakan cucu dari seorang ompung (kakek); dan saama-saina adalah kumpulan sejumlah anak dari pasangan ayah dan ibu kandung namun di dalamnya tidak termasuk “anak tiri” dan “anak angkat”. Sedangkan berdasarkan hubungan perkawinan dikenal pula istilah koum, yaitu kelompok orang yang tidak se-marga dengan seseorang, yang merupakan kelompok kekerabatan mora (mora ni mora) maupun anak boru (kijang jorat). Dalam hubungan ini, ada pula istilah “koum-sisolkot” yang terbentuk dari kata “koum” dan “sisolkot”, yang masing-masing mengandung makna klasifikasi dalam konteks sistem kekerabatan. Sedangkan sisolkot berarti orang-orang yang se-marga, yang adakalanya disebut markahanggi atau marsisolkot. Oleh sebab itulah, sistem sosial orang Mandailing yang dinamakan adat Dalian Natolu itu juga disebut adat Markoum-Sisolkot.

Dalam prakteknya, meskipun orang Mandailing sekarang umumnya telah memeluk agama Islam sebagai tuntunan hidup, namun mereka masih tetap mengamalkan dan melaksanakan adat-istiadat lama Dalian Natolu sebagai warisan para leluhur. Pada setiap upacara adat perkawinan (disebut markaroan boru atau marbagas) misalnya, baik pada tahap-tahapan upacara adat perkawinan dan pelaksanaannya, orang Mandailing masih tetap memfungsikan sistem sosial Dalian Natolu. Hal ini tampak sangat jelas ketika mereka (kelompok kekerabatan mora, kahanggi, dan anak boru) melakukan kegiatan adat markobar (berpidato adat) dan marpokat (musyawarah adat) untuk mencapai “kata sepakat” dalam pelaksanaan upacara adat perkawinan tersebut. Demikian pula halnya dengan peran dan fungsi masing-masing kelompok kekerabatan dalam setiap tahapan dari pelaksanaan upacara adat perkawinan tersebut, mulai dari kegiatan adat mangaririt boru, manyapai boru, patibal sere, pokat menek,  pokat godang, paboru-boruon atau marburangir, mata ni orja, patuaek boru, hingga kegiatan adat marulak ari atau mebat. Dalam setiap kegiatan adat markobar dan marpokat misalnya selalu dibuka dengan ucapan “Bismillahirrohmanirrohim” dan “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh”, serta diakhiri atau ditutup dengan kegiatan berdo’a kehadirat Allah SWT, yang dipimpin tokoh agama untuk memohon taufiq dan hidayah-Nya dengan harapan semoga upacara adat perkawinan yang akan mereka laksanakan bersama-sama tersebut dapat terselenggara semua tahapannya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan adat-istiadat mereka yang sudah tidak lagi bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Pada upacara adat perkawinan di Mandailing di masa sekarang, memang kaum bangsawan orang Mandailing (disebut: namora-mora) masih sering menampilkan berbagai berbagai macam kesenian tradisional sebagai warisan para leluhur, seperti misalnya penggunaan ensambel musik adat Gordang Sambilan, tarian adat Tortor  dan nyanyian adat Jeir yang diiringi dengan ensambel musik adat Gondang Dua (Gondang Topap). Namun kesemuanya itu sekarang sudah dipandang orang Mandailing sebagai kesenian (seni pertunjukan) yang berfungsi sebagai “hiburan”, meskipun pada dasarnya masih melekat fungsi lainnya yaitu untuk mempererat rasa persaudaraan antar sesama orang Mandailing. Sementara kalau pelaksanaan upacara adat perkawinan di kalangan orang kebanyakan (disebut: alak na jaji atau si tuan na jaji), tidak jarang pula menampilkan kesenian Pan-Islam seperti Barzanji dan Dikir yang berfungsi sebagai hiburan, dan juga sekaligus dapat mempererat rasa persaudaraan mereka sesama muslim. Menurut Edi Nasution (1990), Dikir adalah salah satu bentuk kesenian Islam yang sudah sejak lama hidup dan berkembang di  luat Mandailing. Seni pertunjukan Dikir terdiri atas tiga atau empat pemain “gondang dikir” sebagai pengiring nyanyian Dikir, namun adakalanya salah seorang pemain “gondang dikir” itu sekaligus bertindak sebagai penyanyi utamanya dan yang  lainnya bertindak sebagai “penyanyi latar”. Seni pertunjukan Dikir ini dapat dikategorikan sebagai “musik polifoni” yang diselenggarakan pada hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Hari Raya Islam Idil Fitri. Selain itu, Dikir sering pula dipertunjukkan dalam upacara adat perkawinan di Mandailing.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa Mandailing dengan kebudayaannya telah ada jauh sebelum datangnya Islam, bahkan juga telah ada sebelum agama Hindu memasuki wilayah Mandailing. Munculnya ungkapan ”ombar do adat dohot ugamo” merupakan puncak dari persentuhan, perbenturan, penyesuaian dan perpaduan antara adat-istiadat lama (tradisional) Mandailing dengan agama Islam yang datang kemudian. Lahirnya ungkapan tersebut tidaklah muncul begitu saja, akan tetapi melalui suatu proses dalam masa yang cukup panjang, dan di dalam masa yang panjang itulah terjadi benturan antara adat-istiadat dan agama Islam. Benturan tersebut terjadi karena adat-istiadat orang Mandailing sudah memiliki tatanan kehidupan, baik itu secara individu maupun secara bermasyarakat. Sementara agama Islam yang datang kemudian juga membawa tatanan di berbagai aspek kehidupan, yang menuntut ketaatan pula dari para pemeluknya. Dengan kedatangan Islam itu maka bertemulah dua tatanan kehidupan di dalam masyarakat Mandailing yang masing-masing menuntut kepatuhan dari penganut/pendukungnya, yang membuat adanya persentuhan intens yang saling tarik-menarik antara kepentingan adat-istiadat dan agama, sehingga pada akhirnya lahirlah ungkapan ”ombar do adat dohot ugamo” di dalam masyarakat Mandailing.

Medan, 10 Juni 2012
Penulis










REFERENSI
Basyral Hamidy Harahap, Madina yang Madani, Panyabungan: Pemerintah Daerah Kabupaten Mandailing Natal, 2004.
Edi Nasution, Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, Penang-Malaysia: Arecabooks, 2007.
__________”Gondang Aek Magodang dan Riwayatnya”, Harian Waspada Medan, hal. V, 1990.
__________”Dikir di Mandailing”, Harian Waspada Medan, hal. V, 1990.
__________”Dalian Na Tolu”, http://gondang.blogspot.com.
__________”Tari Tradisional Mandailing”, http://gondang.blogspot.com.
IAIN Sumatera Utara, Sejarah Ulama-Ulama Terkemuka, Medan, 1983.
Lance Castles, Tapanuli: Kehidupan Politik Suatu Kresidenan Di Sumatera Utara, Jakarta: KPG, 2001.
Mangaraja Lelo Lubis, “Beberapa Catatan Tentang Adat Perkawinan Mandailing”, dalam bulletin Parata Na Malos No. V dan VI, Medan: HIKMA, 1988.
Usman Pelly, Prospek Budaya Mandailing Dalam PJPT II, Medan: HPPMM Tingkat I Sumatera Utara, 1994.
Z. Pangaduan Lubis, “Na Mora Na Toras: Kepemimpinan Tradisional Mandailing”, Skripsi FISIP USU, 1986.
__________Kisah Asal-Usul Marga Di Mandailing, Medan: Yapebuma, 1986.
__________Kumpulan Catatan Lepas Tentang Mandailing, Medan: Pustaka Widiasarana & Kelompok Humaniora Pokmas Mandiri, 2010.
Zulkifli B. Lubis, “Manipol: Studi Tentang Orientasi Nilai Budaya Mandailing”, Skripsi FISIP USU, 1988.

Kamis, 04 September 2008

G9

GORDANG SAMBILAN: SUATU PENGAMATAN AWAL


Pengantar

Bangsa kita yang majemuk merupakan suatu realitas yang tidak bisa dipungkiri. Untuk itu, menurut Ibu Meutia Farida Hatta Swasono, perlu memberi tempat dan kesempatan bagi berkembangnya kebudayaan suku-suku bangsa yang ada di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan suku-suku bangsa di tanah air, bersama-sama dengan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara, mewarnai perilaku dan kegiatan kita. Berbagai ragam kebudayaan itu berseiringan, saling melengkapi dan saling mengisi, tidak berdiri sendiri-sendiri, bahkan mampu untuk saling menyesuaikan (fleksibel) dalam percaturan hidup sehari-hari. Kelangsungan dan berkembangnya kebudayaan lokal perlu dijaga dan dihindarkan dari berbagai hambatan. Unsur-unsur budaya lokal yang bermanfaat perlu dikembangkan lebih lanjut agar dapat menjadi bagian dari kebudayaan bangsa guna memperkaya unsur-unsur kebudayaan nasional.[1]

Di Indonesia, salah satu kelompok etnik yang masih eksis hingga saat ini adalah masyarakat Mandailing. Wilayah pemukiman mereka terletak di pedalaman pesisir pantai barat pulau Sumatra yang dikenal dengan sebutan Luat Mandailing, Tano Rura, atau Tano Sere.[2] Kehidupan sosial-budaya orang Mandailing berlangsung di dalam suatu tempat pemukiman mulai dari yang dinamakan banjar, pagaran, lumban hingga kepada yang lebih luas yaitu huta. Dahulu, semasa tempat pemukiman itu masih berstatus banjar, pagaran ataupun lumban tidak diperbolehkan memiliki raja dan wilayahnya sendiri yang otonom. Banjar, pagaran ataupun lumban masih tergantung pada huta atau banua asal karena dianggap belum mampu menyelenggarakan pemerintahan sendiri. Untuk itu mereka dipimpin oleh seseorang yang dinamai Raja Ihutan yang tidak berfungsi sebagai kepala pemerintahan. Sampai sekarang sumber mata pencaharian utama masyarakat Mandailing umumnya adalah bertani dengan mengolah sawah dan ladang. Sedangkan sistem kekerabatan mereka adalah patrilineal dan memiliki tradisi perkawinan exogam marga. dimana hubungan kekerabatan berdasarkan pertalian sedarah dan perkawinan yang terpola. Tradisi masyarakat Mandailing yang mengelompokkan diri menjadi tiga kelompok kekerabatan, yaitu mora (pihak pemberi gadis), anakboru (pihak penerima gadis), dan kahanggi (saudara semarga) yang disebut adat Dalian Na Tolu atau adat Markoum-Sisolkot, adalah tumpuan dasar bagi berbagai aktivitas sosial-budaya mereka, termasuk seni pertunjukan musik tradisional[3] gordang sambilan.

Tulisan ini diberi judul “Gordang Sambilan : Suatu Pengamatan Awal” karena penulis menyusunnya berdasarkan “catatan-catatan yang terserak dan seadanya” semasa kuliah di jurusan Etnomusikologi-USU, hasil penelitian lapangan singkat tentang seni pertunjukan gordang sambilan di Mandailing sekitar 18 tahun lalu, beberapa artikel dalam Harian Waspada, dan makalah yang ditulis oleh etnomusikolog Rizaldi Siagian untuk Temu Wicara Etnomusikologi II di Surakarta (1986).


Musik Tradisional Mandailing

Seperti halnya suku-suku bangsa lain di Indonesia, masyarakat Mandailing juga memiliki aneka ragam musik tradisional yang keadaannya sangat memprihatinkan di era globalisasi sekarang karena semuanya sudah berada di ambang kepunahan. Adapun alat-alat musik tradisional Mandailing dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Membranofon : gordang sambilan dan gondang dua
Aerofon : suling, salung, sordam, tulila, katoid, saleot, dan uyup-uyup
Metalofon : ogung, momongan, doal, dan talisasayat
Idiofon : etek, dongung-dongung, pior, gondang aek dan eor-eor
Kordofon : gordang tano dan gondang bulu

Repertoar
Gondang
1 Jolo-jolo Turun; 2 Alap-alap Tondi; 3 Moncak (Kutindik); 4 Raja-raja; 5 Ideng-ideng; 6 Tua; 7 Sampuara Batu Magulang; 8 Roba Na Mosok; 9 Mandailing; 10 Pamulihon; 11 Udan Potir; 12 Porang; 13 Sarama Datu; 14 Sarama Babiat; 15 Lima; 16 Roto; 17 Sampedang; 18 Aek Magodang (Touk); 19 Mamele Begu; dan 20 Tortor.
Ende
1 Ungut-ungut; 2 Sitogol; 3 Jeir; 4 Bue-bue; 5 Uyup-uyup; 6 Opat-opat; 7 Ende Panjang.

Masyarakat Mandailing menyebut musik tradisional mereka dengan ungkapan “uning-uningan ni ompunta na jumolo sunduti”. Artinya, seni musik dari para leluhur, yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi musik yang cukup terkenal dari Mandailing adalah gordang sambilan dan gondang boru[4] yang dimainkan pada berbagai upacara adat dan ritual.[5] Dahulu gordang sambilan tidak dapat dibunyikan dengan sembarangan, namun dalam perkembangannya kemudian gordang sambilan telah menjadi musik hiburan (entertainment) seperti ketika dimainkan pada hari-hari terakhir Ramadhan (bulan puasa) dan awal Syawal (hari raya Idul Fitri). Selain itu gordang sambilan juga dimainkan dalam perayaan hari-hari besar seperti pada Hari Proklamasi Kemerdekaan RI, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), dan tidak jarang pula dimainkan untuk menyambut ”tamu-tamu terhormat” pemerintah daerah di Mandailing.
Pada horja siriaon[6] (upacara adat perkawinan) dan horja siluluton (upacara adat kematian yang juga disebut mambulungi), selain gordang sambilan, biasanya gondang boru juga dimainkan untuk mengiringi tortor (tarian adat). Dalam upacara adat ini, pihak-pihak yang menarikan tarian adat tortor antara lain adalah kelompok kekerabatan mora, kahanggi (suhut)[7] dan anak boru. Karena itulah tortor yang ditarikan oleh kelompok-kelompok kekerabatan itu dinamakan tortor mora, tortor suhut dan tortor anak boru. Selain itu, dalam setiap horja godang (pesta adat besar) biasanya kalangan raja-raja juga menarikan tarian adat tortor, sehingga tortor tersebut dinamakan tortor raja-raja, dan tortor yang ditarikan oleh kalangan muda-mudi disebut tortor na poso na uli bulung.

Pada horja godang, misalnya upacara adat markaroan boru (pesta adat perkawinan), seekor kerbau disembelih (disebut longit) sebagai syarat untuk mangampeon gondang (menempatkan gordang ke tempatnya yaitu di bagas godang) dan kemudian meminta izin penggunaannya melalui proses musyawarah adat yang disebut markobar yang dihadiri oleh Namora Natoras dan Raja Panusunan Bulung.[8] Menurut Burhanuddin Lubis dan Makmur Lubis, setelah izin diperoleh melalui musyawarah adat markobar, untuk dapat memainkan gordang sambilan harus terlebih dahulu di-tinggung (semacam ”upacara pemukulan pertama”) oleh Raja Panusunan Bulung, atau Datu Paruning-uningan yaitu pimpinan kelompok pemusik yang bertindak mewakili Raja Panusunan Bulung.[9] Setelah gordang sambilan di-tinggung maka kesempatan margordang (memainkan gordang) terbuka bagi siapa saja, termasuk bagi mereka yang baru belajar sekalipun. Pemain gordang yang senior dan dianggap hebat juga memanfaatkan kesempatan ini untuk mendemonstrasikan kebolehannya. Dalam permainan gordang sambilan, penonton menilai setiap pemain gordang, terutama pemain jangat yang bertindak sebagai pemimpinnya, dengan memperhatikan bagaimana panjangati (master of drum) tersebut membangun dan mengendalikan kesinambungan bangunan ritme gondang secara keseluruhan. Satu hal penting, audiens (penonton) tidak hanya menilai segi bermain gordang semata, melainkan juga kewibawaan dan bakat kepemimpinan pada panjangati. Menurut para tokoh adat, panjangati yang berwibawa dan mampu memimpin kesatuan bangunan ritmis dalam permainan gordang sambilan diyakini mampu pula memimpin masyarakat. Dengan kata lain, Raja Panusunan Bulung yang berkedudukan sebagai pemimpin adat dan masyarakat (raja) haruslah ahli bermain jangat dan menguasai seluk-beluk gordang sambilan sebagai ensembel musik adat Mandailing, sehingga tidak mengherankan dan juga tidak sekedar formalitas belaka apabila dalam upacara meninggung gordang tersebut Raja Panusunan Bulung diberi kehormatan sebagai orang yang pertama sekali memukul gordang.

Di masa lalu, gordang sambilan dimainkan ketika suatu huta atau banua sedang mengalami bencana seperti merebaknya wabah penyakit menular. Upacara ritual ini dinamakan paturun sibaso atau pasusur begu. Melalui perantaraan seorang medium (tokoh shaman) yang disebut sibaso, seorang datu (tokoh supranatural sebagai pemimpin ritus tersebut) melakukan komunikasi dengan sibaso untuk mengetahui penyebab bencana sekaligus solusinya. Selain itu, gordang sambilan atau gordang tano[10] juga dimainkan untuk mangido udan (meminta hujan turun) ketika terjadi kekeringan yang cukup parah, dengan maksud agar aktivitas pertanian dan kehidupan masyarakat dapat pulih kembali.[11]

Ensambel gordang sambilan terdiri dari sembilan buah gendang besar dengan ukuran yang relatif cukup besar dan panjang (drum chime) yang dibuat dari kayu ingul dan dimainkan oleh empat orang. Ukuran dan panjang dari kesembilan gendang tersebut bertingkat mulai dari yang paling kecil sampai kepada yang paling besar. Tabung resonator dibuat dengan cara melobangi kayu, dan salah satu ujung lobangnya (bagian kepalanya) ditutup dengan membran yang terbuat dari kulit lembu kering (disebut jangat) yang diregangkan dengan rotan sekaligus sebagai alat pengikatnya.

Kesembilan ”gendang” tersebut mempunyai nama sendiri yang tidak sama di semua tempat (huta) di Mandailing. Di Gunungtua-Muarasoro, nama ”gendang” secara berurutan dari yang paling kecil sampai kepada yang paling besar bernama: eneng-eneng, udong-kudong, paniga dan jangat. Selain itu, ada pula sejumlah peralatan musik metalofon yang dinamakan: ogung jantan dan ogung boru-boru yang dimainkan oleh satu orang; mongmongan (tiga buah gong kecil) yang dimainkan satu orang; doal (satu buah gong yang lebih besar sedikit dari mongmongan) yang dimainkan satu orang; dan talisasayat (simbal) yang dimainkan oleh satu orang; dan adakalanya disertai sebuah alat musik tiup dimainkan satu orang yang disebut saleot atau sarune. Gondang (repertoar lagu) yang dimainkan dengan ensambel gordang sambilan ini antara lain: sabe-sabe, horja, sampuara batu magulang, roba na mosok, aek magodang, mamele begu dan sarama babiat.[12]

Berikut persamaan dan perbedaan nama-nama gordang pada ensambel Gordang Sambilan di beberapa huta di Mandailing.[13]
Pakantan
1. Jangat 2. Jangat 3. Udong-kudong 4. Udong-kudong 5. Panduai 6. Panduai 7. Patolu 8. Patolu 9. Enek-enek
Huta Pungkut & Tamiang
1. Jangat (Siangkaan) 2. Jangat (Silitonga) 3. Jangat (Sianggian) 4. Pangaloi 5. Pangaloi 6. Paniga 7. Paniga 8. Udong-kudong 9. Teke-teke (Huta Pungkut); Eneng-eneng (Tamiang)
Huta Godang, Habincaran, Huta Padang, Manambin & Gunung Tua- Muarasoro
1. Jangat 2. Jangat 3. Jangat 4. Paniga 5. Paniga 6. Udong-kudong 7. Udong-kudong 8. Eneng-eneng 9. Eneng-eneng
Tombang Bustak
1. Jangat 2. Jangat 3. Jangat 4. Udong Tolu 5. Udong Dua 6. Udong Sada 7. Udong Sada 8. Jogo-jogo 9. Jogo-jogo
Singengu, Sayurmaincat, Simpang Tolang, Rao-rao, Hutarimbaru, Laru & Tambangan
1. Jangat 2. Jangat 3. Jangat 4. Paniga 5. Paniga 6. Udong-kudong 7. Udong-kudong 8. Enek-enek 9. Enek-enek
Siabu, Gunung Tua, Panyabungan Tonga-tonga, Panyabungan Julu, Huta Siantar, Pidoli & Maga
1. Jangat 2. Jangat 3. Jangat 4. Paniga 5. Paniga 6. Udong-kudong 7. Udong-kudong 8. Tepe-tepe 9. Tepe-tepe

Sedangkan ensambel gondang boru terdiri dari dua buah gendang dua sisi berbentuk barrel yang masing-masing dimainkan oleh satu orang. Ensembel gondang boru juga dilengkap dengan berbagai alat musik metalofon dan aerofon seperti yang ada pada ensambel gordang sambilan. Meskipun ensambel gondang boru biasanya hanya dipergunakan untuk mengiringi tarian adat tortor, akan tetapi gondang (repertoar lagu) yang dimainkan dengan ensambel gordang sambilan dapat pula dimainkan dengan ensambel godang boru, demikian pula sebaliknya.

Di beberapa sopo (dangau) baik di sawah maupun di ladang petani dapat dijumpai sebuah alat musik yang terbuat dari seruas bambu yang disebut etek atau otuk. Alat musik ini, pada bagian bawahnya dilobangi untuk resonansi suara dan pada salah satu bagian ujungnya diarit untuk membuang bagian dalamnya sehingga membentuk huruf “U”. Etek dimainkan oleh satu orang dengan memakai tiga buah stik dari kayu. Di samping dapat digunakan untuk menghalau berbagai macam hama tanaman seperti burung dan kera. Etek juga digunakan sebagai sarana untuk melatih pola-pola ritmik yang biasa dimainkan pada gordang sambilan. Oleh sebab itulah ada satu ungkapan “etek do mulo ni gondang”, yang artinya etek lah asal mula dari gondang. Sedangkan untuk melatih pola-pola ritmik yang dimainkan pada gondang boru, alat musik yang digunakan adalah gondang bulu. Alat musik ini terbuat dari seruas bambu yang pada bagian bawahnya sembilunya dibuang dan disayat lebar untuk resonansi suara, dan sembilu pada bagian atasnya dicungkil untuk membuat senar sebanyak tiga buah yang diregangkan dengan pasak-pasak (potongan-potongan kayu). Alat musik ini dimainkan oleh satu orang dengan memakai satu buah stik yang terbuat dari sepotong bambu. Selain kedua alat musik tersebut, di sopo tersebut adakalanya seseorang juga menyembunyikan berbagai alat musik tiup agar tidak diambil orang lain, seperti suling, salung, sordam, katoid dan tulila.[14]

Ketika musim tanam padi tiba, para petani ada yang membuat sebuah alat musikal yang dinamakan gondang aek (kincir air) yang dapat berfungsi sebagai alat pengontrol debit air sawah agar padi yang baru ditanam dapat tumbuh dengan baik. Dan ketika musim panen panen tiba, seringkali didengar bunyi alat musik tiup yang disebut uyup-uyup durame atau olanglio yang terbuat dari puput batang padi.

Baik di areal sawah maupun di ladang dapat ditemukan kolam ikan milik petani yang disebut tobat. Jenis gulaen (ikan) yang dipelihara di dalam tobat antara lain kalu, mujair, siroken dan mas. Di tobat ini biasanya ditanam secara tersembunyi sebuah alat musikal yang terbuat dari bambu yang disebut dongung-dongung atau salibung. Alat musikal ini dapat berfungsi sebagai pengontrol debit air tobat. Apabila debit air tobat semakin berkurang, secara otomatis dongung-dongung (salibung) tersebut mengeluarkan suara berdengung yang cukup keras dan lama, sehingga si pemilik tobat dapat mendengar dan mengetahui bahwa debit air kolam ikannya mengalami gangguan yang dapat berdampak pada kehidupan ikan peliharaannya.

Pada waktu siang hari biasanya suasana huta terasa sepi dan lengang karena warga huta umumnya pergi bekerja di sawah ataupun di ladang masing-masing. Begitupun, tetap ada orang yang tinggal di huta seperti orang-orang yang sudah cukup tua dan beberapa anak gadis yang mengasuh adik-adiknya yang masih kecil-kecil. Tidak jarang, di siang hari yang lengang itu terdengar suara musikal yang dimainkan oleh seorang anak gadis. Alat musikal ini disebut juga uyup-uyup yang terbuat dari selembar bulung tarutung bolanda (daun pohon sirsak) atau terbuat dari sepotong bulung pisang (daun pohon pisang) yang digulung membentuk kerucut, lalu dimasukkan ke dalam mulut untuk ditiup dengan cara dan teknik tertentu. Di samping itu, adakalanya sang kakak (perempuan) menyanyikan nina bobok bue-bue (lublaby) sembari mengayun-ayun adiknya untuk menidurkannya.[15]

Di puncak tor (bukit-bukit kecil) tidak jauh dari huta dapat pula ditemukan sebuah alat musikal yang disebut pior (kincir angin). Selain berguna untuk menunjukkan arah hembusan angin, ternyata pior ini pun dapat menghasilkan bunyi yang cukup merdu. Di masa lalu, suara pior ini dimanfaatkan oleh para pemuda dengan memakai mantra-mantra tertentu, disebut pitunang, untuk menaklukkan hati anak gadis yang didambakannya.

Nyanyian tradisional yang disebut ende sesungguhnya tidak banyak ditemukan di Mandailing. Ende yang dikenal luas di Mandailing Godang adalah sitogol, sementara di Mandailing Julu adalah ungut-ungut, sedangkan jenis ende yang disebut jeir biasanya dinyanyikan dalam upacara adat perkawinan sebagai salah bagian terpenting dari kegiatan tortor (manortor) yang diiringi dengan ensambel gondang boru.

Sama seperti keadaan ende, bentuk sastra lisan pun amat sedikit ditemukan di Mandailing. Sastra lisan yang cukup dikenal luas adalah ende-ende atau pantun dan turi-turian (cerita bertutur). Turi-turian yang cukup dikenal luas antara lain Raja Gorga Di Langit dan Nan Sondang Milong-ilong. Seseorang yang memiliki keahlian menuturkan turi-turian ini disebut parturi, yang sekarang ini sudah langka ditemukan di Mandailing, bahkan mungkin saat ini tidak ada lagi. Sewaktu melakukan penelitian di Maga Lombang, saya masih sempat menyaksikan keahlian marturi yang disajikan oleh Abdul Hakim Lubis, beliau ini juga seorang datu, yang telah berusia 51 tahun.

Artifak peninggalan sejarah orang Mandailing yang berkaitan dengan seni patung dan pahat adalah tagor, yang di masa lalu ditempatkan pada areal pemakaman kuno yang disebut lobu atau huta lobu. Dan ada pula patung yang disebut pangulu balang, yang ditempatkan di empat sudut huta. Kedua patung batu ini dipercayai oleh masyarakat Mandailing memiliki tuah (keramat). Selain itu, ada artifak lain berupa patung diberi nama sangkalon yang terbuat dari kayu yang biasanya ditempatkan di depan bagas godang dan sopo godang. Bagi orang Mandailing, artifak bernama sangkalon ini merupakan simbol keadilan, sesuai dengan ungkapan yang melekat padanya, yaitu “sipangan anak sipangan boru”. Artinya, siapapun yang telah melakukan kesalahan pasti diberi sanksi sesuai dengan ketentuan adat dan uhum (hukum) yang berlaku.

Pada bagian atap bagas godang dan sopo godang yang disebut bindu atau tutup ni ari terdapat ornamen tradisional yang umumnya berbentuk simetris (garis-garis lurus) diberi warna hitam, putih dan merah yang pada hakikatnya mengandung makna-makna penting dan mendalam bagi masyarakat Mandailing.


Prediksi Asal-usul Gordang Sambilan

Selain bercocok tanam eme (padi) di sawah, orang Mandailing juga bertanam padi di ladang di daerah tor (perbukitan) yang dinamakan marhauma. Setelah area yang akan ditanami eme itu dibersihkan, maka bibit atau butir-butir eme ditanam ke dalam tanah dengan menggunakan alat sederhana yang terbuat dari sepotong kayu yang salah satu ujungnya diruncingkan. Alat sederhana bercocok tanam padi (semacam “tugal”) di hauma (ladang) ini dinamakan ordang, sedangkan aktivitas menanamkan padi ke dalam tanah itu dinamakan mangordang. Dalam hubungannya dengan kegiatan mangordang ini ada uling-kulingan (sejenis “ungkapan tradicional” Mandailing) yang berbunyi:
Pertanyaan:
Taksipatuktak tolu indegena, aha mai?
Jawaban:
Alak na mangordang!

Ada kemungkinan bahwa perkataan ordang ini erat kaitannya dengan perkataan gordang atau gordang sambilan dan gordang tano, tetapi bukan perkataan gondang. Untuk melihat hubungan kedua perkataan (ordang dan gordang) ini dapat dilakukan dengan pendekatan metafora dan metonymy. Hipotesis yang diajukan dalam konteks penelitian asal-usul gordang sambilan ini adalah, bahwa gordang sambilan sebelumnya berasal dari peralatan musik yang lebih sederhana yaitu gordang tano, sedangkan ide dasar dari gordang tano itu sendiri berasal dari aktivitas mangordang di hauma.

MANGORDANG
Material:
1. lubang di dalam tanah
2. kayu untuk pangordang (tugal)
3. benih padi
~ udara

GORDANG TANO
Material:
1. lubang di dalam tanah.
2. ayu untuk tokok (stik) dan “penyangga” dawai.
3. tano (tanah)
4. otang (rotan) untuk dawai.
~ udara.
~ ayu untuk pasak dawai.
5. papan sebagai penutup lubang, kemudian ditimbun dengan tanah.

GORDANG SAMBILAN
Material:
1. lubang di dalam ayu.
2. ayu untuk tokok (stik), instrumen gordang, dan lain-lain.
3. disangga dengan kontruksi kayu.
4. otang (rotan) untuk pangkobek (pengikat).
5. jangat (kulit) untuk ”membran” gordang.

Keterangan:
1. Untuk marngordang, gordang tano dan sambilan perihal mendasar yang sama yaitu: lubang, yang ditutup dengan ”sesuatu” (tano, papan, jangat).
2. Istilah atau terminologi yang digunakan untuk ketiga kebudayaan material ini relatif sama yaitu:
- ma/n/g/ordang
- g/ordang/ tano
- g/ordang/ sambilan
3. Ketiga kebudayaan material tersebut juga sangat erat kaitannya dengan kosmologi etnik Mandailing.
4. Penggunaan dan fungsinya relatif sama.
5. Jika kebudayaan musik itu lahir dari masyarakat peladang, maka budaya musik itu sendiri akan erat kaitannya sistem mata pencaharian hidup mereka sebagai petani di ladang.


Pola Ritmik Gordang Sambilan

Gondang (repertoar musik) yang dimainkan dalam seni pertunjukan gordang sambilan diketahui tidak begitu banyak jumlahnya (lihat tabel repertoar gondang sebelumnya). Di Pakantan, ada tiga gondang yang umum dimainkan yaitu sarama datu, sarama babiat dan pemulihon. Di daerah lain seperti Huta Pungkut dan Tamiang dapat ditemukan beberapa gondang yaitu roba na mosok, sampuara batu magulang, paturun sibaso, dan beberapa gondang yang diambil dari musik ensambel gondang tortor (gondang boru) seperti halnya gondang tua, yang mempunyai pola dan bangunan ritme yang berbeda, sedangkan nama-nama gondang yang disebut sebelumnya mempunyai irama yang boleh dikatakan relatif persis sama kecuali kecepatannya (tempo) saja yang berbeda.[16] Dapat ditambahkan bahwa di Ulu Pungkut terdapat satu nama gondang bernama aek magodang yang sengaja dibuat untuk mengenang peristiwa karamnya suatu perkampungan bernama Mompang Julu di masa lalu.[17]

Menurut etnomusikolog Rizaldi Siagian, ”pada dasarnya kunci bangunan ritme jenis-jenis gondang tersebut di atas terletak pada perpaduan ritme yang dibangun oleh pasangan hudong-kudong, panduai, serta patolu” (khususnya di Pakantan). Sementara keluarga gong yang memiliki susunan ritmis berpola ostinato bertindak memandu bentuk metriknya. Jangat yang berperan sebagai pemimpin dalam ensambel menyatukan keseluruhan bangunan ritme dengan pola-pola dan variasi-variasi ritmis yang muncul dari kemampuan pemain dalam berimprovisasi. Pola atau motif ritme yang pendek diulang dan diuntaikan ke dalam frasa-frasa yang menggiring pendengar merasakan ”ketegangan”. Suasana ini tidak dibiarkan berlarut-larut, melainkan dibawa ke suatu penyelesaian yang diarahkan bersamaan dengan jatuhnya pukulan gong (downbeat). Enek-enek, dengan menggunakan alat pemukul terbuat dari bambu yang dipecah, memberikan reaksi terhadap ”ketegangan” ritmis yang diciptakan jangat ini”. [18]

Dalam permainan gordang sambilan, proses pembentukan bangunan ritme dimulai dengan memainkan not-not sepertempat (lihat Contoh 1) secara serempak oleh semua pemain gordang. Kemudian pukulan tersebut berkembang menjadi kelipatan ritmis seperdelapan (lihat Contoh 2). Pada tingkat ini, patolu sampai pada bentuk ritmenya yang baku. Adapun tugas patolu selanjutnya adalah mempertahankan tempo yang konstan, memberikan aksen (tekanan) keras pada jatuhnya gong (ketukan pertama), ketukan kedua, dan ketukan ketiga. Pada ketukan keempat, patolu hanya menjatuhkan pukulan ringan ke permukaan kulit gordang, atau istirahat (lihat Contoh 3). Ketika patolu sampai pada pola ritme yang baku ini, ritme hudong-kudong atau panduai dikembangkan pada kelipatan ritmis tingkat ketiga dari pulsa dasar. Dengan sendirinya kelompok not yang dimainkan jauh lebih rapat (kelompok not seperenambelas, lihat Contoh 4). Di sini kedua pasang gordang membagi kerja dengan cara: hudong-kudong memukul dua dua buah not terdekat dengan aksen pada ketukan ”pertama” dari kelompok empat not tersebut dan istirahat pada bagian ketiga (lihat Contoh 5). Dalam kerjasama ini, panduai memulai pukulannya pada ketukan kedua dari hudong-kudong dan pukulan kedua dari panduai diberi aksen. Dengan demikian, saat istirahat hudong-kudong diisi dengan pukulan yang kedua dari panduai (lihat Contoh 6). Bila diperhatikan gerakan tangan kedua pemainnya ini, maka dapat dilihat bahwa pada saat-saat tertentu salah satu tangan dari kedua pemain akan jatuh pada pukulan yang bersamaan. Gabungan ritmis dari ketiga pasangan gordang (hudong-kudong, panduai dan patolu) itu merupakan motor dalam bangunan pola ritme yang baku (pokok) pada permainan gordang sambilan.[19]

Apabila bangunan ritme tersebut diperhatikan lebih teliti akan memperlihatkan strukturnya begitu kompleks dan bisa menimbulkan berbagai interpretasi. Salah satu struktur metrik yang muncul adalah hemiola, atau “meter tiga lawan empat” (dalam satu birama terdapat birama 3 dan birama 4). Di dalam tiga kelompok empat not sseperenambelas terdapat empat kelompok tiga-not seperenambelasan (lihat Contoh 7). Hal ini disebabkan oleh pergeseran letak aksen yang terus-menerus “bergerak” dari pasangan hudong-kudong dan panduai di sepanjang tiga kelompok empat-not seperenambelas tersebut. Bila kedua pasangan gordang ini, secara ritmis, terlepas hubungannya dengan patulu, maka kesan metrik yang ditimbulkan adalah empat dengan susunan metris triplet (lihat Contoh 8). Patolu sendiri seolah-olah bergerak tidak perduli dengan meter empatnya (4/4), yaitu dengan mempertahankan aksen-aksen pada ketukan satu, dua dan tiga di dalam ritme duple dan mengalir terus (atau istirahat) dengan pukulan lemah pada ketukan keempat. Sehingga membuat siklus metrik antara patolu di satu pihak, serta hudong-kudong dan panduai di lain pihak, menjadi berbeda. Patolu mengalir dengan empat ketukan duple (dalam metrik 4/4, bentuk metrik dalam gondang ini), dengan melemahkan pukulan pada ketukan keempat, sedangkan hudong-kudong tiga ketukan dalam satu siklus (di dalam birama 4/4). Yang menarik di dalam “meter ¾” ini terdapat meter lain (4) yang terangkat dari gerakan aksen kedua pasang gordang ini. Dengan demikian, bagi hudong-kudong dan panduai, untuk kembali kepada siklus yang “tepat” (yaitu bersamaan dengan jatuhnya ketukan yang pertama dari patolu dan gong) harus melalui perjalanan waktu dua belas ketukan (dalam 3 birama 4/4).
[20]

Pada permainan ensambel gordang sambilan, yang memimpin adalah pasangan gordang yang paling besar, yaitu jangat. Pemainnya yang diberi gelar panjangati biasanya adalah pargordang (“pemusik”) yang mampu dan menguasai pola ritmik setiap instrumen dalam ensambel gordang sambilan. Panjangati (master of drum) ini memiliki sense of rhythm yang sangat tinggi. Motif-motif ritme yang diolahnya dari pola-ritmik instrumen yang terdapat dalam ensambel gordang sambilan. Sekalipun jenis ritme misalnya diambil dari hudong-kudong atau patolu, namun dengan memberi aksen pada tempat yang berbeda, menimbulkan efek “ketegangan” yang lain. Dalam menyelesaikan “ketegangan” ritmis ini terdapat motif ritme yang khas, yaitu dengan memainkan kelompok empat-not seperenambelas, dengan cara istirahat pada not pertama dan ketiga (lihat Contoh 9), serta menyelesaikannya pada ketukan berikut. Sebelum “motif penyelesaian” ini biasanya terdapat motif-motif lain, yaitu dua kelompok not duple yang dimainkan dengan memberikan tekanan pukulan kuat pada offbeat, sementara pada jatuhnya ketukan (downbeat) dipukul dengan tekanan yang lemah dan bahkan sama sekali istirahat (lihat Contoh 10). Penggabungan dua bentuk motif ini menciptakan “frasa kadensa” (lihat Contoh 11) yang sangat khas dari permainan jangat dan diakhiri dengan sebuah pukulan bersamaan dengan jatuhnya pukulan ogung dada boru (lihat Contoh 12). Frasa yang khas ini mempunyai batas pemanjangan (elongasi) tertentu; jarang sekali dimainkan lebih dari satu putaran gong. Umumnya dimulai dari offbeat pada ketukan “ketiga” (saat jatuhnya pukulan ogung jantan), atau pada ketukan ”kedua” (lihat Contoh 13).[21] Gordang yang paling kecil di Pakantan, yaitu enek-enek (“anak-anak”) bertugas memberikan reaksi terhadap jangat. Pola ritme yang baku dari enek-enek adalah kelompok empat-not seperenambelas (lihat Contoh 14), dengan awal pukulan terletak atau diakhiri pada jatuhnya ketukan ”satu” dan ”tiga”. Dalam menghadapi rekasi terhadap jangat, enek-enek terkadang melakukan imitasi ritmis yang dimainkan oleh jangat. Bahkan terkadang dengan “nakal” hubungan metriksnya terlepas dari hubungan ritme secara keseluruhan.[22]

Menurut Rizaldi Siagian, keluarga gong menetralkan dan mempertegas bentuk meter pada jenis-jenis gondang yang terdapat pada ensambel gordang sambilan. Ogung dada boru dan ogung jantan bekerjasama dalam membentuk aksentuasi metriknya. Dalam transkripsi ogung dada boru ditempatkan pada ketukan “pertama”, sedangkan ogung jantan pada ketukan “ketiga”. Nilai durasi not masing-masing ogung adalah not setengah. Masing-masing ogung ini terkadang menguasai satu putaran meter, yaitu dengan nilai durasi not penuh; lain halnya dengan doal, yang berperan menyuarakan setiap ketukan dalam meter 4/4. Dengan demikian ketukan kedua dan ketiga pada doal memberikan selingan bunyi di antara gong dada boru dan gong jantan. Pola ritme keluarga mongmongan berbeda antara Pakantan dengan Huta Pungkut dan Tamiang. Di Pakantan keluarga mongmongan (khususnya panolongi dan panduai) membagi ritme dengan panjang frasa satu putaran gong (lihat Contoh 15). Adapun pamulusi memberikan variasi ritmis ditengah-tengah pola ritme pasangan panolongi dan panduai dengan memulai pukulan pertamanya pada posisi offbeat di ketukan “keempat” (lihat Contoh 16), atau dengan menambah ekstra pukulan pada ketukan “ketiga” (lihat Contoh 17). Teknik interlocking pada keluarga mongmongan ini menciptakan kesan melodic ostinato pada keseluruhan bunyi musikal ensamble gordang sambilan. Tidak sama seperti di Pakantan, teknik interlocking pada epong-epong (keluarga mongmongan) di Huta Pungkut dan Tamiang membagi kelompok empat-not seperenam belas ke dalam dua bagian. Epong-epong yang satu memainkan dua not seperenambelas tepat pada ketukan jatuh (downbeat), sedangkan pasangannya memainkan motif ritem yang sama dengan memulai pukulan pada offbeat (lihat Contoh 18). Di Huta Pungkut dan Tamiang, mongmongan mempunyai dua pola ritme yang dapat dipakai dalam keseluruhan bangunan ritme. Pertama, polanya mirip dengan doal di Pakantan (lihat Contoh 19). Kedua, memberikan syncopation pada setiap ketukan dalam meternya (lihat Contoh 20).
[23]

Dalam permainan gordang sambilan, sepasang simbal yang memiliki bunyi tajam dan nyaring yang disebut tali sasayat atau tali sasayap memberikan efek ”menyatukan” (dalam bahasa Mandailing: domu) keseluruhan bunyi instrumen. Pola ritme tali sasayat, terutama bila pemainnya sudah sangat berpengalaman, berorientasi pada pola yang terdapat pada keluarga mongmongan dan digarap dengan pendekatan yang cenderung berimprovisasi. Begitupun, pola dasarnya merupakan gabungan not-not duple dengan variasi aksen yang menirukan bunyi mongmongan.
[24]


Penutup

Meskipun bukan merupakan kesimpulan, menurut hemat penulis, ada beberapa hal yang cukup penting dan relevan untuk dikemukakan pada bagian penutup tulisan ini.

Pertama, deskripsi mengenai berbagai jenis instrumen dan musik tradisional Mandailing pada bagian awal tulisan ini bukanlah bermaksud untuk memberikan suatu ”gambaran umum” tentang seni-budaya tradisional masyarakat Mandailing, melainkan hanya karena sangat terbatasnya waktu dan kesempatan untuk dapat menginformasikan kepada khalayak luas tentang aneka ragam instrumen dan musik tradisional Mandailing.

Kedua, pembahasan gordang sambilan yang tidak holistik dan komprehensif dalam tulisan ini antara lain karena sangat terbatasnya dokumen atau data yang dimiliki mengenai subjek tersebut, terlebih-lebih lagi ”dunia seni tradisional (etnomusikologi)” telah cukup lama ”ditinggalkan” karena penulis sudah sejak lama bergelut dengan disiplin ilmu lain. Di samping itu, meskipun penulis adalah warga Mandailing namun bukan seseorang yang ”biasa” dan ”bisa” memainkan gordang sambilan.

Ketiga, Rizaldi Siagian mengemukakan bahwa dalam permainan gordang sambilan terdapat nama-nama gondang (irama) yang berbeda, padahal mempunyai irama yang relatif sama kecuali kecepatannya (tempo) saja yang berbeda seperti di Pakantan, Tamiang dan Huta Pungkut. Hal yang sama juga ditemukan di Ulu Pungkut dan di wilayah ini juga terdapat nama gondang yang disebut roba na mosok (”irama padang ilalang yang terbakar”) yang biasanya dimainkan dengan eneng-eneng; sampuara batu magulang (”irama batu berguling”) dan udan potir (”irama hujan petir”) dimainkan dengan paniga. Terkait masalah tempo (cepat-lambatnya suatu irama), sepanjang pengetahuan penulis hanya dua: naipas i (cepat) dan naerer i (lambat).

Keempat, di beberapa huta, terdapat nama-nama gordang yang berbeda dan jumlahnya juga bervariasi (lihat tabel pada halaman 4). Untuk gordang yang disebut jangat, di Pakantan hanya 2 (dua) saja, sedangkan di huta lain umumnya 3 (tiga). Hal lain yang cukup ”menggelitik” adalah gordang yang bernama udong-kudong. Pada umumnya di setiap huta ada 2 (dua) buah, sementara di Tombang Bustak sebanyak 4 buah (udong sada sebanyak 2 buah, udong dua sebanyak 1 buah dan udong tolu sebanyak 1 buah). Begitu juga halnya dengan penamaan gordang yang terkecil: eneng-eneng (Tamiang, Ulu Pungkut, Manambin, Gunungtua-Muarasoro), enek-enek (Pakantan, Singengu, Sayurmaincat, Simpang Tolang, Tambangan), teke-teke (Huta Pungkut), tepe-tepe (Maga, Panyabungan, Gunung Tua, Siabu), dan jogo-jogo (Tombang Bustak). Kesemuanya itu mungkin refleksi dari tingkat kedemokratisan yang relatif cukup tinggi pada masyarakat Mandailing.

Kelima, dalam perkembangannya kemudian, tidak tertutup kemungkinan adanya perbedaan pola ritme dalam permainan gordang sambilan antar huta, dan juga bentuk-bentuk variasinya. Karena itu masih diperlukan upaya pendokumentasian musik gordang sambilan di beberapa huta, baik secara visual maupun audio-visual, untuk kemudian ditranskripsi dan dianalisis guna menemukan gaya permainan seni pertunjukan gordang sambilan di masing-masing huta. Di Ulu Pungkut misalnya, permainan gordang sambilan diawali dengan membunyikan kelompok gong (mongmongan), sementara di Tamiang dan Huta Pungkut diawali dengan pemukulan gordang yang kemudian diikuti kelompong gong dan simbal. Menurut beberapa informan saya, termasuk budayawan Z. Pangaduan Lubis, dahulu permainan gordang sambilan diawali dengan pemukulan nio-nio (doal) sebagai pembuka (pemberi aba-aba), dan setelah itu diikuti udong-kudong, paniga, panulus, eneng-eneng, kelompok gong dan simbal. Setelah semuanya menjadi domu (padu), barulah panjangati (master of drum) memainkan gordang dengan gayanya yang cukup khas: ”energik, kuat dan berwibawa”, sehingga audiens menjadi terpesona dan berdecak terkagum-kagum.(*)

Dirgahayu Republik Indonesia
Horas tondi madingin, pir tondi matogu, sayur matua bulung di hita sasudena.

Gandoang, 23 Agustus 2008
Edi Nasution

· Paper ini dipresentasikan pada ”Dialog & Pagelaran Seni Budaya Gordang Sambilan” di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Minggu, 24 Agustus 2008.

Catatan kaki :
[1] Meutia Farida Hatta Swasono, “Kebudayaan Nasional Indonesia: Penataan Pola Pikir”, makalah disampaikan disampaikan pada Kongres Kebudayaan V di Bukittinggi, 20-22 Oktober 2003.
[2] Di Mandailing Julu banyak ditemukan bekas-bekas penambangan emas yang ditinggalkan orang Agam (Minangkabau), seperti di sekitar Huta Godang ada suatu tempat yang dinamakan garabak ni agom, dan orang Belanda pun pernah membuka tambang emas di dekat kota kecil bernama Muarasipongi. Di samping itu, sungai Batang Gadis yang hulunya terletak di Gunung Kulabu di dekat Pakantan itu melintasi wilayah Mandailing mulai dari selatan hingga utara dan bermuara di Singkuang di pantai barat mengandung bijijh-bijih emas pula. Pada waktu-waktu tertentu di sungai Batang Gadis sampai sekarang banyak penduduk yang manggore (mendulang emas) sebagai mata pencaharian tambahan terutama pada masa pacekelik, yaitu sewaktu harga kopi, kayu manis, cengkeh dan karet turun di pasaran. Oleh sebab itulah tano rura Mandailing disebut juga tano sere. Edi Nasution, Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, (Penang-Malaysia : Areca Books, 2007), hal. 14.
[3] Ibid, hal. 16-18.
[4] Di beberapa huta, gondang boru dinamakan juga gondang dua , gondang topap, atau tunggu-tunggu dua.
[5] Upacara adat dan ritus di Mandailing antara lain: Horja Haroan Boru & Pabuat Boru, Patuaek Boru, Mamungka Huta, Mambongkot Bagas Godang & Sopo Godang, Anak Sorang, Paijur Danak, Manggorar, Mambulungi, Mangan Ulu Taon, Paturun Sibaso/Pasusur Begu, Pahabang Manuk Na Bontar, Mangido Udan, Mangalo-alo Alak na Godang
[6] Untuk menghias rumah tempat pelaksanaan horja siriaon, salah satu bahan yang digunakan adalah bulung ni bargot (daun muda pohon enau). Dari daun pohon enau beserta lidinya, orang-orang dewasa seringkali membuat sebuah alat musikal untuk dimainkan anak-anak yang disebut eor-eor.
[7] Suhut adalah kelompok kekerabatan semarga (kahanggi) yang melaksanakan suatu upacara adat atau upacara ritual tersebut.
[8] Raja Panusunan Bulung adalah seorang ahli adat-istiadat yang juga berkedudukan sebagai raja (kepala pemerintahan). Sedangkan Namora Natoras adalah kepemimpinan tradisional yang terdiri atas Namora (“kaum bangsawan”) dan Natoras (“kaum cerdik pandai”) pada setiap huta di masa lalu.
[9] Burhanuddin Lubis dan Makmur Lubis adalah informan saya sewaktu melakukan penelitian lapangan di Mandailing Julu sekitar tahun 1990. Burhanudin Lubis adalah tokoh adat di Huta Pungkut, dan Makmur Lubis adalah tokoh adat di Habicaran-Ulu Pungkut.
[10] Gordang tano dibuat di atas permukaan tanah yang bagian bawahnya dilobangi dan kemudian ditutup dengan beberapa belah kayu (papan). Di bagian atasnya diregangkan empat buah senar yang terbuat dari otang (rotan) dan dimainkan oleh empat orang dengan menggunakan stik dari kayu.
[11] Paturun sibaso atau pasusur begu adalah salah satu ritus dalam sistem kepercayaan lama orang Mandailing yang disebut sipelebegu. Setelah sebagian besar orang Mandailing memeluk agama Islam, upacara ini praktis tidak pernah mereka lakukan lagi. Sesajian utama yang harus ada dalam ritus ini adalah parlas-las yang terdiri dari : (1) ngiro yang disimpan dalam sahan (tanduk kerbau); (2) gulaen sale (ikan asap); (3) itak (tepung beras); (4) poltuk (padi yang digongseng); (5) sira (garam); dan (6) pege (jahe). Semua bahan itu, kecuali ngiro, diletakkan di atas sebuah wadah terbuat dari kuningan bernama pahar, yang dilapisi dengan bulung ujung (ujung daun pisang). Selain itu juga dipersembahkan burangir adat yang terdiri dari: (1) burangir (daun sirih); (2) timbako (tembakau); (3) soda (kapur sirih); (4) pining (buah pinang); dan (5) gambir, yang semuanya diletakkan di atas sebuah tikar kecil berbentuk segi empat yang disebut salipi.
[12] Gondang sarama babiat dapat dimainkan dengan ensambel gordang sambilan dan gondang boru pada saat seekor harimau yang selalu mengganggu ketenteraman penduduk suatu huta telah mati setelah diburu dan dibunuh oleh warga setempat. Seiring dengan kematian harimau tersebut dilaksanakan suatu upacara adat karena orang Mandailing memandang harimau sebagai mahluk yang memiliki kekuatan magis yang juga memiliki adat. Ketika gondang dimainkan, seorang laki-laki menarikan tarian (disebut manyarama) yang mirip dengan gerakan-gerakan seekor harimau yang sedang marah.
[13] Nama-nama gordang pada sejumlah huta tersebut perlu dilakukan cross-check karena belum valid.
[14] Tulila adalah sebuah alat musik tiup (aerofon) yang biasanya digunakan naposo-poso (pemuda) untuk merayu bujing-bujing (gadis) yang didambakannya dalam kegiatan berkencan pada malam hari yang disebut markusip. Informasi yang lebih lengkap mengenai tulila dan tradisi markusip lihat Edi Nasution, Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, Op.Cit.
[15] Lihat Edi Nasution, “Uyup-uyup Na Tarsino dari Mandailing”, Harian Waspada, 1990.
[16] Lihat Rizaldi Siagian, “Gordang Sambilan: Ensambel Musik Adat Orang Mandailing di Tapanuli Selatan”, kertas kerja dibacakan dalam Temu Wicara Etnomusikologi II di ASRI Surakarta pada tanggal 7-9 April 1986, hal. 84.
[17] Puluhan tahun silam bencana alam pernah melanda sebuah perkampungan yang bernama Mompang Julu di Mandailing Godang. Begitu hebatnya peristiwa banjir yang menghanyutkan p.erkampungan itu, sehingga para orang tua di sana sering menceritakan kejadian tersebut kepada keturunannya. Perkataan mayup (hanyut) mompang atau karom (karam) mompang masih sering kita dengar disebut-sebut dalam kehidupan masyarakat Mandailing sampai sekarang. Gondang aek magodang ini sering pula disebut dengan gondang mayup mompang dan penamaan ini tentu erat kaitannya dengan kejadian di maksud. Menurut beberapa orang tua Mandailing di Ulu Pungkut, bahwa paduan bunyi gondang aek magodang ini merupakan perwujudan dari suara-suara yang terdengar pada saat kejadian tersebut (emic view). Seperti adanya suara dari batu-batu yang menggelinding dan saling bertubrukan, hujan lebat, dan angin kencang. Sesekali diiringi suara pohon tumbang dan sambaran petir, dan ada pula suara katak yang bersahutsahutan. Akhirnya, kombinasi atau paduan suara-suara dari bencana alam itu terwujud di dalam gondang aek magodang. Apabila gondang ini dimainkan seakan-akan menyampaikan pesan -- melukiskan keadaan peristiwa banjir, tidak ubahnya seperti ”bahasa” yang ingin mengungkapkan kejadian itu kepada khalayak ramai. Karena itulah Sutan Singasoro dan Sutan Baringin mengatakan bahwa penciptaan gondang aek magodang oleh warga Ulu Pungut, adalah perwujudan dari rasa solidaritas' masyarakat Mandailing, yaitu olong dohot domu (saling menyayangi, seia sekata dan bersatu padu). Dengan lahirnya gondang yang baru ini pada beberapa puluhan tahun yang lalu, semula diharapkan agar warga Ulu Pungkut khususnya, maupun masyarakat Mandailing umumnya agar selalu mengingat dan mengenang peristiwa hanyutnya perkampungan itu. Edi Nasution, “Gondang Aek Magodang dan Riwayatnya”, Harian Waspada, 1990.
[18] Rizaldi Siagian, Op.Cit, hal. 84-85. Sebagai perbandingan, di Tombang Bustak kunci bangunan ritme dalam seni pertunjukan gordang sambilan dibangun oleh udong sada, udang dua, dan udong tolu. Selain itu, gordang yang terkecil (eneng-eneng) dipukul dengan stik kayu, bukan dengan bambu yang dipecah.
[19] Rizaldi Siagian, Op.Cit., hal. 85-86.
[20] Ibid, hal. 86-87.
[21] Ibid, hal. 87-89.
[22] Pengertian kata ”nakal” di sini untuk menunjukkan kebebasan enek-enek bermain dengan pola ritme. Fakta menunjukkan bahwa pemain lain pun tidak merasa terganggu atau menjadi marah bila pola ritme enek-enek keluar dari jalur metrik atau ritmr yang ada. Ibid, hal. 91.
[23] Ibid, hal. 89-90.
[24] Ibid, hal. 90. Dapat ditambahkan bahwa pemain tali sasayap dan jangat tidak jarang bermain sambil ”menari” (manortor) dalam permainan gordang sambilan. Bila salah satu pemain mulai ”menari”, yang lain pun ikut mengimbangi dengan gerakan-gerakan tarian (minimal enjutan tubuh turun-naik) sambil memukul gordang yang dilakukan sambil berdiri itu. Posisi gordang yang diletakkan diagonal ke arah dada pemain tidak memberikan kesulitan bagi pemain untuk melakukan gerakan-gerakan itu. Tidak jarang pula gordang disusun dalam posisi horizontal yang diletakkan di atas panggung khusus, sejajar dengan kepala pemainnya. Ibid, hal. 81.